18.Ketika semua berubah

59 17 2
                                        


---

Hera bangun pagi dengan perasaan yang agak lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya. Langit cerah, dan meskipun suasana rumah Hamka masih dipenuhi ketegangan, ada sedikit ruang untuk harapan. Mungkin ini adalah kesempatan bagi dirinya dan yang lain untuk mengubah segalanya, atau mungkin ini hanya ilusi semata. Namun, bagaimanapun juga, Hera memutuskan untuk memberi dirinya kesempatan.

Pagi itu, ia memutuskan untuk pergi ke sekolah lebih awal. Meski seharusnya ia bisa lebih lama tidur, Hera merasa seperti harus keluar dari rumah menghindari semua perasaan yang mengekang dirinya. Jalan menuju sekolah terasa jauh lebih sepi dari biasanya, dan udara pagi yang segar memberinya rasa tenang yang jarang ia rasakan.

Sesampainya di sekolah, Hera melangkah pelan menuju kelasnya, merasakan setiap detik berjalan tanpa terburu-buru. Ketika ia membuka pintu kelas, ia mendapati suasana yang tak jauh berbeda dari sebelumnya kelas yang ramai dengan suara teman-temannya yang saling berbicara, tertawa, atau terkadang bersenda gurau.

Namun, tidak ada yang istimewa baginya. Seperti biasa, ia memilih untuk duduk di pojok kelas, menghindari percakapan yang tidak ingin ia ikuti. Keputusan untuk tetap menjauh dari semua orang sepertinya semakin membenarkan dirinya.

Hari itu, pelajaran berlangsung tanpa ada yang mengesankan. Hera duduk di belakang, menulis beberapa hal di buku catatannya, meskipun pikirannya lebih banyak melayang jauh. Terkadang, ia melihat teman-temannya bercanda dan tertawa, namun ia tidak merasa terhubung dengan mereka. Bahkan, ia merasa seperti ada dinding yang tak terlihat di antara mereka. Dinding yang tak bisa ia hancurkan dengan mudah.

Saat istirahat tiba, Hera memutuskan untuk berjalan keluar kelas. Ia melangkah ke koridor sekolah, merasakan sejuknya udara luar yang cukup menyegarkan. Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, hingga akhirnya, ia bertemu dengan Lutfian, yang sedang duduk di bangku taman sekolah.

Lutfian menatapnya, terlihat sedikit terkejut dengan kehadirannya. “Lo kok ada di sini, Ra? Biasanya Lo nggak suka keluar, kan?”

Hera tidak menjawab langsung. Ia hanya duduk di samping Lutfian, menatap pemandangan taman sekolah yang tertata rapi. “Kadang bang, gue cuma butuh waktu untuk sendiri.”

Lutfian mengangguk, seolah mengerti apa yang dimaksud Hera. “Gue ngerti, kok. Karna gue juga sama, butuh waktu buat sendiri. Lo selalu bisa sendiri. Tapi kadang, nggak masalah juga kalau lo ngeluarin apa yang ada di kepala Lo. Keluarga nggak akan ngilang kok, Ra. Kita selalu ada buat lo.”

Hera menatap Lutfian, merasa kata-kata abangnya ada benarnya, meskipun ia enggan mengakui sepenuhnya. Selama ini, ia memang sering merasa terjebak dalam perasaan yang membelenggunya, terlalu banyak yang ia simpan sendiri, dan tak ada yang tahu.

“Gue nggak ngerti, bang,” jawab Hera pelan, suaranya seperti terhalang oleh sesuatu yang berat. “Kadang gue nggak tahu harus gimana. Semua perasaan ini terlalu banyak, dan gue nggak tahu harus mulai dari mana.”

Lutfian tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke bangku. “Jangan merasa harus memikul semuanya sendiri, Hera. Kadang kita cuma perlu bilang ke orang yang peduli sama kita, kalau kita butuh bantuan.”

Di dalam hati, Hera merasa seolah sesuatu mulai meresap pelan-pelan. Ia selalu menganggap bahwa dia bisa menghadapinya sendiri. Namun, saat ini, di tengah percakapan sederhana ini, ia merasa sedikit lebih lapang. Mungkin, ini langkah kecil menuju perubahan.

Pulang sekolah, Hera berjalan pulang seperti biasa, tetapi kali ini ada perasaan berbeda yang mengiringinya. Ia memutuskan untuk berbicara lebih banyak dengan keluarganya meskipun itu tidak mudah. Ia tahu bahwa membangun kembali hubungan yang rusak bukanlah hal yang instan, tetapi setidaknya, ia bisa mencoba.

Sesampainya di rumah, suasana di ruang tamu terasa lebih sepi dari biasanya. Hamka sedang duduk di sofa, membaca koran, sementara Nindi sedang di dapur menyiapkan makan malam bersama dengan Mbak Lala. Nala, seperti biasa, sibuk dengan ponselnya di kamar.

Hera melangkah perlahan menuju ruang makan, di mana Nindi sedang sibuk menyiapkan meja makan. “Ma, aku mau ngomong sesuatu,” kata Hera, suaranya lebih tegas dari biasanya.

Nindi menoleh dengan kaget, lalu meletakkan piring yang sedang ia pegang. “Apa, Nak?”

Hera duduk di kursi meja makan, memandang ibu yang selama ini ia anggap terlalu sibuk. “Aku minta maaf, Ma,” katanya dengan pelan. “Aku nggak pernah ngomong banyak tentang perasaan aku. Aku selalu aja diem, dan aku tahu itu nggak baik.”

Nindi terdiam sejenak, kemudian mendekat dan duduk di sebelahnya. “Gak apa-apa, Nak. Kami cuma pengin kamu tahu kalau kamu nggak sendirian. Kita semua bisa ngelewatin ini bersama.”

Hera mengangguk, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan. Tapi setidaknya, ada sedikit ruang untuk berbicara, dan itu sudah cukup untuknya saat ini.

Ketika makan malam berlangsung, ada rasa yang lebih ringan di antara mereka. Meski percakapan mereka masih canggung, sedikit demi sedikit, semuanya mulai terasa seperti kembali ke jalurnya. Tidak sempurna, tetapi ada harapan.

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang