20.Menghadapi ketidakpastian

46 16 0
                                        

---

Pagi itu, Hera merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Meski langit masih tampak suram dan hujan rintik-rintik, ada rasa yang mengalir dalam dirinya yang lebih positif dari biasanya. Ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapi dunia, meski tetap dengan keraguan yang terkadang menghantui.

Di sekolah, hari berjalan seperti biasa, dengan kelas yang penuh dengan tawa dan keramaian. Namun, bagi Hera, semua itu terasa lebih terjaga. Meskipun ia lebih memilih untuk berada di pojokan kelas, ia merasa tidak sekesepian dulu. Seperti ada teman-teman yang diam-diam memperhatikannya, meski tidak selalu berbicara.

Hari ini, Lutfian datang ke sekolah lebih awal. Ia mendekati Hera yang sedang duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah, membaca buku yang sudah usang.

“Gue liat-liat Lo kayaknya udah mulai lebih baik, ya?” tanya Lutfian, duduk di sebelahnya.

Hera mengangkat bahunya sedikit, meskipun ia merasa sedikit lebih tenang. “Mungkin. Gue cuma belajar buat nggak terlalu keras sama diri gue sendiri.”

Lutfian tersenyum, seolah memahami maksud adiknya. “Kadang kita memang harus santai, supaya bisa lihat segala hal dengan lebih jelas. Jangan terlalu takut buat merasakan apapun. Kadang, kebahagiaan datang di waktu yang nggak kita duga.”

Hera menatap kakaknya dengan tatapan kosong. “Gue nggak tahu, Bang. Selama ini, setiap kali gue mulai merasa bahagia, pasti ada sesuatu yang hancur lagi.”

Lutfian terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Gue ngerti kok. Tapi lo harus percaya, nggak semua hal akan hancur. Kadang kita cuma perlu lebih kuat buat ngadepin semuanya.”

Pernyataan itu membuat Hera sedikit terkejut, tapi juga memberi rasa yang lebih ringan. Mungkin benar. Mungkin, selama ini, ia terlalu banyak memikirkan apa yang bisa salah dan kurang fokus pada hal-hal yang bisa membawa kebaikan.

Hari itu berakhir tanpa kejadian besar. Namun, Hera merasa ada sedikit perubahan dalam dirinya lebih percaya pada kemampuannya untuk menghadapi hari-hari ke depan. Ia tahu, jalan di depannya masih panjang, tetapi sedikit demi sedikit, ia mulai merasakan kedamaian yang mungkin selama ini ia cari.

Pulang sekolah, suasana di rumah terlihat sedikit lebih tenang daripada biasanya. Nindi sedang sibuk menyiapkan makan malam, sementara Hamka duduk di ruang tamu dengan tumpukan berkas-berkas kerja. Nala? Seperti biasa, ia sibuk dengan ponselnya di kamar.

Hera masuk ke ruang makan, duduk di meja dengan perlahan. Ia memandang piring kosong di depannya, berpikir tentang segala hal yang telah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tidak ada yang mudah, tetapi ia mulai merasa lebih kuat.

“Ma, aku mau ngomong,” kata Hera dengan suara tegas, cukup keras untuk menarik perhatian Nindi yang sedang di dapur.

Nindi keluar dan menatapnya dengan penuh perhatian. “Apa, Nak?”

Hera menatap ibunya dengan serius. “Aku cuma mau bilang, makasih. Aku tau aku sering nyusahin keluarga. Aku nggak pernah bisa nunjukin kalau aku peduli. Tapi, sekarang aku sadar kalau aku butuh lebih banyak dari kalian.”

Nindi tersenyum lembut, mendekat dan memeluk Hera dengan penuh kasih sayang. “Nggak ada yang perlu kamu minta maaf, Hera. Kami selalu ada buat kamu, kamu tahu itu kan?”

Hera mengangguk, perasaan hangat menyelimuti hatinya. Ia merasa lebih terhubung dengan ibunya daripada sebelumnya. Mungkin, ini adalah salah satu langkah kecil menuju pemulihan untuk bisa lebih terbuka dan menerima dukungan.

Malam itu, setelah makan malam, Hera merasa ada sesuatu yang bisa ia usahakan. Ia mungkin tidak bisa mengubah segalanya dalam semalam, tapi setidaknya, ia tahu bahwa ada orang yang peduli padanya, dan itu cukup untuk memberi harapan.

Namun, saat ia menuju kamar dan menatap bayangannya di cermin, ada rasa ketidakpastian yang tetap menyelimutinya. Ia masih bingung, masih ragu, dan terkadang merasa lelah. Tapi ia sadar, bahwa kadang-kadang, kita perlu berani merasakan ketidakpastian itu. Untuk maju, meskipun langkah-langkah kecil.

---

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang