---
Ketegangan itu terasa di udara pagi yang dingin. Setiap langkah di rumah ini semakin terasa berat, seolah-olah lantainya dipenuhi kerikil-kerikil kecil yang menghalangi setiap gerakan. Hera berjalan menuju ruang keluarga, matanya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya entah ke mana.
Ia tak ingin berhadapan dengan Nala yang sedang memanipulasi semua orang, tak ingin menghadapi Nindi yang terlihat semakin cemas, dan yang paling ia hindari adalah Hamka, yang selalu menjadi mediator antara dirinya dan Mamanya. Hera merasa seperti benda mati yang tak diinginkan, meski ia tak pernah bisa mengungkapkan itu dengan kata-kata.
Setelah menyapu pandangan sekeliling, matanya tertuju pada satu sosok yang tengah duduk dengan rapi di sofa. Mbak Lala. Seperti biasa, Mbak Lala tampak tidak terburu-buru, tidak terbebani. Hanya ada ketenangan di sana, meski dunia di sekitarnya tak pernah diam.
Mbak Lala mengangkat wajahnya begitu melihat Hera masuk. “Kak Hera, mau sarapan?”
“Mbak Lala...” Hera berhenti sejenak, tak tahu harus berkata apa. “Akunggak tahu harus ngapain lagi.”
Mbak Lala tersenyum lembut, tidak memberi komentar apa pun. Ia tahu bahwa kadang yang dibutuhkan bukanlah kata-kata atau solusi, melainkan hanya ruang untuk merasa. Mbak Lala menunduk kembali, lalu berdiri dan menuju dapur tanpa berkata lebih banyak.
Sementara itu, di ruang makan, suasana semakin terasa berat. Nindi dan Hamka duduk berhadapan, wajah keduanya penuh kerut kekhawatiran. Nala sedang duduk di kursi, kaki disilang, menunggu perhatian lebih dari siapa saja yang lewat. Entah sengaja atau tidak, ia selalu berhasil menarik perhatian setiap kali situasi di rumah ini mulai kacau.
Hera masuk ke ruang makan dengan langkah pelan, dan sesaat ia merasa semua mata tertuju padanya. Ini bukan karena mereka ingin memarahi atau menanyainya. Tidak. Hanya saja, ada harapan yang tak terucapkan dari mereka, dan itu membuatnya tertekan.
“Ada apa, Nak?” tanya Nindi, suaranya cemas.
Hera menatap ibunya, lalu menoleh ke Hamka. “Alu cuma pengin sendiri,” jawabnya singkat, meski di dalam hatinya ia merasa cemas. Cemas tentang keluarga ini yang mulai tercerai-berai, cemas tentang dirinya yang semakin merasa terasing.
“Jangan buru-buru pergi, Kak,” kata Hamka dengan lembut. “Kita bisa ngomong, kok.”
Hera memutar matanya, berusaha menunjukkan ketidaktertarikan. “Ngomong soal apa, Pah? Semua sudah jelas, kan? Aku nggak butuh banyak perhatian dari kalian.”
Nala yang sedari tadi duduk dengan tenang tiba-tiba membuka mulutnya, suara manisnya yang terdengar seperti permintaan maaf padahal jelas-jelas sindiran. “Iya, Kak. Kak Hera kan juga nggak butuh siapa-siapa. Toh, semua masalah juga gara-gara Kak Hera sendiri.”
"Jaga ucapan kamu Nala," seru seseorang yang baru sampai dimeja makan, Lutfian.
Hera menatap Nala, matanya menyempit tajam. “Jangan sok tahu, Nala. Kalian nggak tahu apa yang gue rasain.”
Nindi langsung menoleh ke Nala, memberi tatapan tajam, tapi Nala hanya mendengus, seolah tak peduli.
Keheningan melanda ruang makan itu. Hera yang merasa terpojok hanya bisa menahan amarah yang tak tahu harus diarahkan ke siapa. Di satu sisi, ia merasa seperti korban, tetapi di sisi lain, ia tahu ia juga tidak memberi kesempatan untuk dimengerti.
“Iya, gue tahu...” kata Hera akhirnya, dengan suara pelan. “Gue tahu semua orang capek sama gue. Gue tahu, kalian semua pengin gue berubah. Tapi gue nggak bisa.”
Seketika itu, suasana jadi semakin sunyi. Nindi hanya menatap Hera, tak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Begitu juga Hamka, yang memandang anaknya dengan rasa prihatin.
Nala yang masih ada di meja makan itu hanya diam, seolah mendengarkan tanpa menunjukkan ekspresi.
"Gue paham posisi lo," ujar Lutfian pelan nyaris tak terdengar.
Hera menghela napas dalam-dalam dan berdiri dari kursinya, siap untuk meninggalkan ruang makan. Namun, sebelum melangkah pergi, ia menoleh satu kali lagi. “Gue nggak butuh saran kalian. Gue cuma butuh waktu untuk sendiri.”
Meninggalkan keheningan yang semakin dalam, Hera keluar dari ruang makan, menuju kamarnya, menutup pintu dengan sedikit kencang.
Kehidupan di rumah ini mulai terasa seperti sebuah teater yang tak ada habisnya. Setiap aktor memiliki peran masing-masing, dan tak seorang pun tahu kapan semua ini akan berakhir. Semua orang berusaha bermain dengan perasaan masing-masing, sementara di luar sana, dunia terus berjalan.
Lutfian menunjuk Nala dengan ekspresi bengis, "Nal, kamu udah dewasa tolong sopan santun dipake, Hera itu Kakak kamu juga sama kaya Abang, Hargai dia," cerca Lutfian lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan jadi penyebab orang lain menyerah sama hidupnya Dek," sambung Lutfian sebelum benar benar pergi.
Meja makan hening setelah kejadian itu, Nala mendengus sebal dengan ucapan Abangnya yang menyalahkan dirinya.
Sementara Mbak Lala yang masih di dapur hanya bisa menggelengkan kepala sambil berdoa semoga anak majikannya itu bisa bertahan lebih lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Omnia Paratus [End]
Teen FictionHera merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia tak pernah benar-benar dimarahi, tapi juga tak pernah dicari. Ia tumbuh dengan keheningan setiap harinya. Di balik sikap cuek dan tatapan kosongnya, Hera cuma anak yang diam-diam berharap: "Tolong, l...
![In Omnia Paratus [End]](https://img.wattpad.com/cover/359372624-64-k731187.jpg)