------
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin karena hujan semalam belum benar-benar pergi dari langit. Atau mungkin karena perasaan Hera yang belum selesai sejak malam itu.
Ia duduk di meja makan, mengaduk sereal tanpa benar-benar berniat menyantapnya. Di seberangnya, Nala muncul dengan seragam rapi dan wajah segar, lengkap dengan senyum manis yang seakan dibuat-buat.
Ah, Hera mana bisa bertingkah selucu itu, hanya Nala yang bisa bertingkah begitu.
“Pagi, kak,” sapa Nala dengan suara cerah yang terasa terlalu kontras dengan suasana.
Hera hanya mengangguk. Senyum itu, seperti biasa, tidak pernah sampai ke matanya. Ada sesuatu yang selalu ditahan Nala. Seolah ia sedang memainkan peran, bukan menjadi diri sendiri.
Mbak Lala datang membawa segelas susu dan meletakkannya di depan Hera dan Nala. “Sarapan yang bener, ya, Nduk. Jangan cuma diaduk doang.”
“Iya, Mbak,” jawab Hera pelan.
Nala melirik, lalu tersenyum lagi. “Hari ini ada lomba di sekolah, Kak. Gue jadi MC, lho!”
“Wah, hebat kamu, nduk,” ucap Mbak Lala bangga.
“Papa tahu?” tanya Hera tiba-tiba, suaranya datar.
Nala mengedip, sedikit bingung. “Ya… mungkin tahu. Tapi kayaknya Papa lagi di luar kota, deh.”
Hera mendengus pelan. Tentu saja. Lagi-lagi, ayah mereka terlalu sibuk untuk tahu siapa yang menjadi MC atau siapa yang bahkan sedang kesulitan bertahan setiap harinya.
---
Di sekolah, hari itu Hera merasa asing di tempat yang sudah ia lewati bertahun-tahun. Suara tawa, obrolan ringan, dan hiruk-pikuk menjelang acara lomba membuat suasana lebih ramai dari biasanya.
Tapi di antara keramaian itu, Hera tetap merasa sendiri, kesepian.
Ia berdiri di depan kelasnya, menatap panggung yang sedang disiapkan di lapangan. Nala terlihat sibuk dengan panitia, tersenyum ke sana-sini, memberi salam seperti putri di negeri dongeng.
Dan anehnya, semua orang tampak menyukainya.
Salah satu teman Nala bahkan berkata sambil tertawa, “Nala tuh paket lengkap, cantik, manis, pinter ngomong. Kayaknya nggak pernah punya masalah, deh.”
Hera hampir tertawa mendengarnya. Kalau saja mereka tahu seberapa manipulatif adiknya di rumah. Betapa kerasnya ia bisa menangis bahkan hanya untuk hal-hal kecil hanya agar semua perhatian tertuju padanya. Tapi Hera tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya lewat begitu saja, menjadi bayangan di antara warna-warni perayaan.
---
Saat acara berlangsung, Hera duduk di bangku belakang, memandangi Nala yang tampil di atas panggung dengan percaya diri. Kata-katanya mengalir lancar, senyumnya memikat. Ia seperti tokoh utama dalam kisah yang dirancang sempurna.
Di saat yang sama, Hera merasa seperti figuran. Tak penting. Tak dianggap.
Saat semua orang tertawa karena lelucon Nala, Hera memandang ke arah lain, ke pepohonan di sisi lapangan. Ada satu daun kuning yang jatuh perlahan, terbawa angin. Dan entah kenapa, itu terasa lebih jujur daripada semua tepuk tangan yang diberikan pada Nala.
---
Sepulang sekolah, Hera berjalan kaki lebih lama dari biasanya. Ia melewati jalanan kecil yang jarang dilalui orang, memandangi tembok-tembok tua yang penuh coretan, dan mendengarkan gemerisik dedaunan seperti lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang diam.
Ia butuh ruang untuk bernapas.
Sesampainya di rumah, suasana kembali ke rutinitas sepi, sibuk, dan pura-pura baik-baik saja.
Nindi, Mamanya masih dengan laptopnya. Hamka, Papanya belum kembali dari luar kota. Mbak Lala di dapur. Dan Nala? Sudah berisik lagi di kamar dengan panggilan video bersama teman-temannya.
Hera berdiri di depan cermin, membuka seragamnya dengan pelan. Wajahnya kosong, seperti boneka yang kehilangan benang penarik senyumnya.
Lalu dia berkata pelan, hanya untuk dirinya sendiri:
“Kalau aku hilang... siapa yang akan benar-benar sadar pertama kali?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, seperti kabut yang tidak kunjung menghilang.
---
Malam itu, Hera menulis sesuatu di buku kecil yang ia sembunyikan di bawah bantal. Bukan puisi, bukan catatan harian. Hanya satu kalimat:
'Aku hidup, tapi tidak selalu merasa hidup.'
Dan entah kenapa, menuliskannya terasa seperti napas panjang pertama setelah terlalu lama tenggelam.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
In Omnia Paratus [End]
Ficção AdolescenteHera merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia tak pernah benar-benar dimarahi, tapi juga tak pernah dicari. Ia tumbuh dengan keheningan setiap harinya. Di balik sikap cuek dan tatapan kosongnya, Hera cuma anak yang diam-diam berharap: "Tolong, l...
![In Omnia Paratus [End]](https://img.wattpad.com/cover/359372624-64-k731187.jpg)