11.Mulai bertanya

198 80 110
                                        

---

Hera sedang duduk di tangga belakang rumah, memandangi pot-pot tanaman yang tak terlalu di urus, ketika suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.

“Ngapain lo di sini?” suara itu datar, tapi tidak kasar, makan penuh perhatian yang tersembunyi.

Hera menoleh. Lutfian berdiri di sana, tangan di saku celana, wajahnya yang biasanya dingin tampak sedikit... penasaran?

“Ngeliatin daun,” jawab Hera santai. “Daun yang hidupnya lebih teratur daripada gue.”

Lutfian mendengus. Ia ikut duduk di anak tangga atas Hera, lalu mengeluarkan sebungkus biskuit dari kantongnya. Ia sodorkan satu ke adiknya.

“Lagi nggak pengen makan,” kata Hera tanpa menoleh.

“Gue nggak nanya lo pengen atau nggak,” balas Lutfian. Tapi ia juga tidak maksa. Biskuit itu tetap dipegangnya, digigit perlahan.

Beberapa detik sunyi. Angin sore bertiup pelan. Bunyi cicak dari dapur jadi latar suara yang anehnya menenangkan.

Lalu Lutfian berkata, “Lo kenapa sih, Her? Akhir-akhir ini makin diem. Mama Papa ngomong juga kayak nggak didenger.”

Hera diam. Ia merasa malas menjawab, tapi juga sedikit terkejut Lutfian bertanya? Kakaknya yang cuek itu?

“Capek,” gumamnya, Hera memandang kupu-kupu yang hinggap dibunga yang tidak terlalu menarik kalo menurut Hera.

“Capek kenapa?”

“Capek ngerasa sendirian, padahal serumah.”

Lutfian menatap Hera, kali ini dengan sorot yang lebih dalam. “Gue juga sering ngerasa gitu.”

Hera menoleh, perlahan. “Lo? Lo yang selalu cuek, tenang, dan kayak nggak peduli apa pun?”

“Ya karena udah biasa nggak ditanya duluan. Jadi males ngomong duluan,” jawab Lutfian sambil melempar kerikil kecil ke tanah.

Hera diam. Ia merasa seperti bercermin. Ternyata kakaknya pun punya sisi yang sama... hanya tak pernah terlihat.

Ah, bukankah mereka serasi sama sama tidak dilihat, hanya saja Hera lebih parah sedangkan Abangnya itu masih dilihat walau hanya sesekali.

“Kita tuh dua anak yang tumbuh dalam rumah yang penuh suara, tapi isinya bukan buat kita,” ucap Hera pelan.

Lutfian tak membantah. Ia tahu itu benar. Rumah mereka memang tak pernah benar-benar sepi, tapi juga tidak pernah benar-benar hangat.

“Kalau lo capek, Her... ngomong aja. Biar nggak meledak di kepala sendiri.”

“Kalo lo juga...?”

“Gue... ya, sama. Tapi mungkin kita bisa mulai dari saling denger, dulu.”

Hera menatap kakaknya. Wajah Lutfian tak berubah, masih datar seperti biasa. Tapi caranya bicara hari ini cukup untuk membuat Hera merasa sedikit... aman.

“Lo berubah,” gumam Hera.

“Enggak juga. Cuma akhirnya sadar... adik gue ternyata hampir hilang, dan gue nggak mau itu kejadian beneran.”

Keduanya duduk dalam diam lagi. Tapi kali ini bukan diam yang kaku. Bukan juga diam yang dingin. Ini diam yang nyaman. Diam yang punya makna.

Dan untuk pertama kalinya, Hera merasa ia punya sekutu.

Bukan sekadar kakak kandung. Tapi seseorang yang benar-benar mau bertanya, dan... benar-benar mau mendengar.

"Lo jelek banget kalo lagi mikir," ujar Lutfian sambil menatap geli Hera.

Hera mendengus sebal, "sialan," gumamnya

"Heh! Ngomong kasar lo sama gue, gue Abang lo ya cil," saut Lutfian dengan tampang songong.

"Siap puh sepuh."

Mereka saling tatap lalu tertawa bersama, untuk kali pertamanya mereka tertawa bersama seperti tidak ada beban.
---

 In Omnia Paratus [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang