21.Melawan rasa takut

38 17 1
                                        

---

Pagi itu, Hera bangun dengan perasaan campur aduk. Meski semalam ia merasa sedikit lebih tenang, ada sesuatu yang masih menggantung dalam pikirannya rasa takut yang tak kunjung hilang. Rasa takut akan hal-hal yang tak pasti, rasa takut akan kegagalan, rasa takut akan dirinya sendiri yang terlalu rapuh.

Namun, pagi ini ia tahu satu hal yang pasti: hari ini, ia harus melawan ketakutannya.

Di sekolah, saat pertama kali masuk kelas, Hera merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada perasaan cemas yang menyelimutinya, seolah ada sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang belum siap ia hadapi. Tetapi, kali ini, ia memutuskan untuk tidak mundur. Ia tidak bisa lagi hidup dalam ketakutan yang sama setiap harinya.

Saat istirahat, Nindi mengirimkan pesan singkat yang membuat Hera berhenti sejenak. Pesan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat hati Hera berdebar.

Mama♥️
Hera, ingat apa yang kita bicarakan kemarin. Kamu nggak sendiri. Kalau ada apa-apa, bilang saja. Kita akan hadapi sama-sama.

Hera menghela napas panjang. Kata-kata itu terasa menenangkan, meskipun ia tahu bahwa perasaan takut tetap ada. Tetapi, mungkin untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih kuat. Mungkin, ketakutan itu adalah hal yang harus dihadapi, bukan dihindari.

Di tengah kantin, Lutfian duduk di sebelahnya. “Lo kelihatan agak gelisah. Ada apa?” tanyanya, memperhatikan ekspresi wajah adiknya.

Hera menatapnya sejenak, mencoba menenangkan dirinya. “Cuma… rasanya hari ini ada sesuatu yang akan terjadi. Gue nggak tahu apa, tapi gue merasa kalau gue nggak siap.”

Lutfian tersenyum dengan penuh pengertian. “Gue tahu perasaan itu. Tapi, lo harus tahu, kadang kita nggak bisa mengontrol apa yang terjadi. Yang kita bisa kontrol adalah gimana kita meresponnya. Lo udah mulai terbuka sama orang lain, dan itu langkah besar.”

Hera terdiam, mencoba mencerna kata-kata Lutfian. Mungkin, benar. Mungkin, untuk pertama kalinya, ia mulai melihat ketakutan bukan sebagai musuh, tapi sebagai tantangan yang harus ia hadapi.

Pulang sekolah, suasana di rumah terasa lebih ringan. Nindi sedang menyiapkan makan malam, sementara Hamka asyik dengan pekerjaan di ruang tamu. Nala masih sibuk dengan ponselnya, tidak banyak berubah.

Setelah meletakkan tas di ruang tamu, Hera berjalan menuju balkon dan duduk di kursi yang menghadap halaman depan. Udara sore itu terasa sejuk, dan langit mulai terlihat lebih cerah, meskipun masih ada awan yang menggantung.

Saat ia duduk termenung, tiba-tiba, Lutfian muncul di belakangnya dan duduk di kursi sebelah. “Lo masih mikirin apa yang lo takutkan tadi?” tanya Lutfian dengan nada santai, tetapi penuh perhatian.

Hera mengangguk perlahan. “Gue nggak tahu kenapa gue selalu takut. Kadang, gue ngerasa kayak gue nggak cukup baik buat apapun, buat siapapun.”

Lutfian menghela napas, lalu menatap adiknya dengan serius. “Lo nggak perlu jadi sempurna, Hera. Lo nggak perlu membuktikan apapun ke siapapun. Yang penting, lo belajar buat percaya sama diri lo sendiri.”

Hera terdiam, mencerna setiap kata-kata kakaknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada harapan bahwa ketakutan yang selama ini menghantuinya bisa dikalahkan, tidak dengan menghindar, tetapi dengan menghadapi.

Sesaat kemudian, Nindi datang menghampiri mereka. “Makan malam sudah siap. Ayo, kita makan bareng,” katanya, sambil tersenyum.

Malam itu, setelah makan malam bersama, Hera merasa lebih lega. Meskipun masih ada keraguan yang mengintai, ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Ada keluarganya yang selalu ada, yang siap mendukungnya melewati segala hal. Ia menyadari bahwa ketakutan memang tak bisa dihilangkan begitu saja, tetapi dengan keberanian untuk menghadapi, ketakutan itu tidak akan mengendalikan hidupnya.

Satu hal yang Hera syukuri, keluarganya kembali seperti dulu.
---

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang