30.In omnia paratus-tamat

108 18 0
                                        


---

Hujan turun pagi itu. Tidak deras, tapi cukup untuk membuat aroma tanah basah merayap masuk ke dalam kamar Hera. Di luar, langit tampak kelabu, dan pohon-pohon di halaman rumah bergoyang pelan, seperti ikut menyambut sesuatu.

Hera duduk di meja belajarnya. Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri tanpa riasan, tanpa senyum palsu. Wajah itu masih sama, tapi matanya... tidak lagi kosong.

Hari ini adalah hari terakhir ujian semester, tapi bukan itu yang membuatnya gugup. Hari ini, Hera akan berbicara dengan ibunya. Bukan untuk mengeluh, bukan untuk marah, tapi untuk mengeluarkan sesuatu yang sudah lama ia simpan rapat-rapat suara hatinya sendiri.

---

Setelah sarapan yang berlangsung dalam keheningan, Hera mengikuti Nindi yang hendak keluar dari dapur.

"Ma," panggilnya pelan.

Nindi menoleh, sedikit kaget. Hera jarang memanggilnya seperti itu.

"Ada waktu sebentar?"

Nindi mengangguk, meski rautnya masih terlihat ragu. Mereka duduk berdua di ruang tamu. Sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang mengisi kekosongan.

"Aku cuma mau bilang satu hal," Hera memulai. Suaranya tenang, tapi hatinya berdegup kencang. "Aku capek, Ma. Bukan karena sekolah, bukan karena tugas. Tapi karena ngerasa nggak kelihatan."

Nindi terdiam.

"Sejak Nala mulai dewasa, aku ngerasa kayak... transparan. Semua orang sibuk dengan dia, semua hal tentang dia. Aku ngerti, dia anak bungsu. Aku ngerti kalian sayang. Tapi aku juga pengin disayang."

Nindi menatap Hera, matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku jadi anak yang diem, yang kelihatan nggak peduli, karena aku ngerasa nggak ada yang peduli juga. Tapi aku salah. Karena ternyata, jadi dingin itu juga nyakitin diri sendiri."

Nindi menghela napas panjang. Suara jam dinding makin keras di antara mereka.

"Maaf," kata Nindi akhirnya. "Mama pikir kamu kuat. Terlalu kuat, sampai Mama lupa kamu juga butuh dipeluk."

Air mata menetes perlahan di pipi Hera. Bukan karena sedih, tapi karena lega. Karena akhirnya, kata-kata itu keluar juga.

---

Sore harinya, Hera duduk di taman belakang sekolah. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan kecil dan udara sejuk. Yasha datang membawa dua bungkus es krim.

"Udah Lo omongin?"

Hera mengangguk. "Udah. Rasanya aneh. Tapi lega."

Yasha tersenyum dan menyerahkan satu es krim pada Hera.

"Mantap. Berarti lo sekarang resmi masuk klub orang-orang yang pernah melawan ketakutan."

Mereka duduk diam beberapa saat, menikmati es krim dan udara sore.

"Gue masih belum tahu masa depan gue mau kayak apa," ucap Hera tiba-tiba. "Masih banyak yang kosong."

Yasha menoleh. "Nggak apa-apa. Kita nggak harus tahu semua sekarang. Yang penting, lo udah siap."

Hera mengangguk pelan.

"Siap untuk apa pun?"

"Siap untuk apa pun."

Hera menatap langit yang mulai cerah. Awan perlahan tersibak, memperlihatkan semburat jingga. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ringan.

Mungkin, hidup memang tidak akan pernah benar-benar tenang. Tapi Hera tahu satu hal: ia tidak lagi takut menghadapi apa pun.

Karena kini, ia siap.

In omnia paratus.

---

Tamat

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang