28.Pilihan

49 17 0
                                        

---

Senin pagi datang dengan enggan. Udara kota ini belum juga terasa bersahabat, dan seragam sekolah baru terasa asing di tubuh Hera. Warna putih abu-abu seharusnya membuat siapa pun terlihat segar, tapi di tubuh Hera, seragam itu tampak seperti pelindung rapuh untuk menutupi kekacauan di dalam dirinya.

Nala berdiri di depan cermin, mematut diri dengan senyum lebarnya. “Gue yakin hari pertama gue bakal nyenengin banyak orang,” katanya sambil memoles lipgloss tipis di bibir.

Hera hanya memandangi bayangan adiknya dari ambang pintu kamar, lalu berjalan melewati tanpa sepatah kata. Di meja makan, Lutfian sudah menunggu dengan sepotong roti di tangan dan ekspresi malas.

“Siap jadi murid baru?” tanya Lutfian, menggoda.

“Kalau ‘siap’ itu artinya nggak ada ekspektasi apa-apa, ya. Gue siap,” jawab Hera, mengambil sebotol air dari kulkas.

Lutfian tertawa kecil. “Lo tuh kayak batu di pinggir jalan. Nggak bisa dihancurin, tapi juga nggak ke mana-mana.”

“Gue nggak butuh ke mana-mana,” gumam Hera. “Gur cuma pengin tenang.”

---

Sekolah baru ternyata lebih berisik dari yang Hera duga. Suara sepatu di koridor, tawa anak-anak yang terlalu pagi untuk tertawa, dan pengumuman yang terus berbunyi membuat kepalanya pening. Di ruang guru, seorang wali kelas memperkenalkan Hera dan Nala secara singkat sebelum mereka digiring ke kelas masing-masing.

Kelas Hera cukup besar. Siswa-siswinya menoleh saat ia masuk, tapi tak banyak yang memberi reaksi. Guru hanya berkata, “Teman baru kita, Hera. Tolong dibantu ya,” lalu melanjutkan pelajaran seolah tak ada yang istimewa.

Hera duduk di bangku belakang, di samping seorang gadis berkacamata yang terlihat lebih sibuk menggambar coretan di bukunya daripada memperhatikan guru.

“Nama gue Yasha,” gumam gadis itu tanpa menoleh. “Kalau lo butuh bantuan, tanya yang lain aja. Gue juga masih bingung kenapa gue ada di sini.”

Lucu, pikir Hera. Seseorang yang jujur tanpa harus banyak basa-basi.

---

Di jam istirahat, suasana kantin ramai dan penuh suara. Nala langsung dikerubungi beberapa siswa dari kelas lain. Ia tertawa keras, memainkan rambutnya, dan bercerita tentang sekolah lamanya yang katanya penuh kompetisi dan tekanan. Semua mata menatapnya seolah ia bintang film yang turun ke dunia nyata.

Hera mengambil makanan seadanya dan duduk di pojok kantin. Sendirian.

Tapi kesendirian itu tidak menyakitkan. Justru terasa… akrab.

Ia memperhatikan sekeliling. Semua sibuk menjadi sesuatu: lucu, pintar, manis, populer. Tapi tidak ada yang benar-benar terlihat bahagia. Semuanya seperti sedang ikut lomba yang mereka sendiri tidak tahu hadiahnya apa.

Lalu Yasha tiba-tiba duduk di depannya. Membawa semangkuk bakso dan ekspresi datar.

“Kantin ini bising banget. Tapi bangku lo lumayan strategis. Bisa ngeliat semua orang tanpa terlalu kelihatan,” ucap Yasha.

Hera mengangkat alis. “Lo sering ngamatin orang juga?”

“Kadang. Kadang gue bayangin mereka semua lagi pakai topeng. Dan tiap kali mereka ketawa keras, berarti topengnya makin tebal.”

Hera tersenyum tipis. “Aneh.”

“Makanya kita bisa cocok,” jawab Yasha sambil mulai makan.

Untuk pertama kalinya sejak pindah, Hera tidak merasa seperti alien yang nyasar ke planet asing. Setidaknya, ada satu manusia lain yang juga melihat dunia dengan cara yang tidak biasa.

---

Sore itu, di kamar barunya, Hera menuliskan satu kalimat di catatan kecilnya:

“Mungkin yang aku butuhkan bukan dunia yang berubah. Tapi seseorang yang ngerti rasanya jadi aku.”

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang