---
Hari-hari di sekolah baru tidak serta-merta menjadi lebih mudah, tapi setidaknya Hera tak lagi merasa seperti batu es yang membeku sendirian di tengah keramaian. Yasha menjadi teman yang tidak menghakimi, tidak banyak tanya, dan tidak merasa harus menjadi orang baik setiap waktu. Mereka duduk bersama di kelas, makan di pojok kantin, dan kadang pulang berdua dengan motor ojek yang sama.
Yasha bukan tipe orang yang suka menyentuh, tapi ia menunjukkan kepeduliannya lewat caranya sendiri: memberi Hera roti cokelat saat tahu Hera belum sarapan, mengajak duduk diam di taman belakang sekolah saat tahu Hera sedang lelah, atau hanya dengan berkata, “Hari ini jelek ya?” tanpa meminta Hera menjelaskan alasannya.
Suatu sore, mereka duduk di taman belakang sekolah, memandangi langit yang mendung menggantung.
“Hera,” kata Yasha tiba-tiba, “pernah nggak ngerasa... lo itu kayak hidup di dalam cerita orang lain?”
Hera menoleh, menatap Yasha lama. “Setiap hari.”
Yasha mengangguk. “Gue juga. Kadang gue mikir, mungkin kita semua karakter tambahan di hidup orang lain.”
“Mungkin,” Hera mengiyakan, “tapi karakter tambahan pun bisa milih, kan? Mau diem terus atau bikin suara sendiri.”
Yasha tertawa pelan. “Dan suara lo? Mau kayak apa?”
Hera menghela napas. Lama.
“Gue belum tahu. Tapi gue tahu satu hal,” katanya pelan. “Gue nggak mau lagi pura-pura baik-baik aja. Gue capek.”
---
Di rumah, Nala semakin sering pulang dengan cerita tentang teman-temannya, guru-guru yang menyukainya, dan pujian dari tetangga yang katanya bilang Nala “pintar, sopan, dan menyenangkan.”
Nindi menyimak setiap cerita itu dengan antusias, tertawa, dan sering berkata, “Kamu memang anak yang bikin Mama bangga.”
Hera hanya lewat di depan ruang makan dengan langkah pelan, seperti biasa. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia menatap Nindi dengan mata penuh perasaan yang tak terucap.
Dan entah kenapa, Nindi sempat melihatnya. Tapi hanya sebentar. Hanya sesaat.
Sampai akhirnya, perhatian itu kembali ke Nala yang merengek soal sepatu barunya yang katanya tidak cocok.
Akhirnya keadaan yang kemarin sempat membaik hilang, diganti dengan keadaan yang seperti sebelumnya, diabaikan, kesepian, sendirian.
---
Beberapa hari kemudian, Lutfian mengajak Hera duduk di teras rumah saat malam mulai turun.
“Lo kayaknya mulai berubah,” katanya tiba-tiba.
“Berubah?”
“Lebih... kelihatan hidup,” jawab Lutfian sambil menggigit potongan apel. “Dulu lo kayak lukisan hitam putih. Sekarang, udah mulai muncul warna, walau dikit.”
Hera tertawa kecil. “Warna kusam, kali.”
“Warna tetap warna,” sahut Lutfian. “Dan lo nggak harus cerah untuk bisa kelihatan.”
Mereka diam sejenak.
Hera menatap langit yang gelap tanpa bintang. “Tapi gue masih ngerasa kosong, bang.”
“Semua orang punya bagian kosong. Tapi nggak semua orang nyadar mereka kosong. Lo udah lebih dari setengah jalan kalau lo sadar.”
"Lo juga makin hidup, nggak kaya dulu."
"Gue mulai damai sama keadaan dek, gue udah nggak mau ambil pusing."
"Mau mama papa cuma fokus ke Nala juga gue udah nggak peduli, jadi lo juga harus bisa nggak peduli lo harus bisa Ra," sambung Lutfian sambil menatap langit yang kian menggelap.
---
Malam itu, sebelum tidur, Hera membuka catatannya dan menulis:
“Aku nggak harus diisi oleh orang lain. Mungkin, aku cuma perlu denger suara aku sendiri lebih sering.”
Mungkin luka tak bisa hilang. Tapi luka juga bisa menjadi penunjuk arah. Dan untuk pertama kalinya, Hera merasa dia mulai berjalan ke arah yang benar—meski jalannya masih sepi, dan sesekali menyakitkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Omnia Paratus [End]
Teen FictionHera merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia tak pernah benar-benar dimarahi, tapi juga tak pernah dicari. Ia tumbuh dengan keheningan setiap harinya. Di balik sikap cuek dan tatapan kosongnya, Hera cuma anak yang diam-diam berharap: "Tolong, l...
![In Omnia Paratus [End]](https://img.wattpad.com/cover/359372624-64-k731187.jpg)