---
Hari-hari berlalu dengan sedikit perubahan yang terasa lebih nyata. Hera merasa dirinya tumbuh sedikit demi sedikit meskipun masih banyak hal yang membuatnya merasa ragu, dia mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu harus berjalan sesuai dengan rencana. Kadang, yang dibutuhkan hanya kemampuan untuk menerima dan menjalani setiap momen tanpa terlalu banyak bertanya.
Namun, hari ini, ada sesuatu yang berbeda. Di sekolah, saat pelajaran terakhir hampir selesai, Hera mendengar bisikan dari beberapa teman sekelas yang membuat hatinya sedikit berdebar. Sesuatu tentang perubahan yang akan datang, sesuatu yang mengancam kenyamanan yang selama ini ia rasakan.
Ketika bel sekolah berbunyi, dan mereka semua mulai beranjak keluar, Hera melihat seorang guru baru berjalan menuju ruang guru. Mata Hera bertemu dengan mata guru itu, dan ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh. Mungkin ini hanya perasaan, tetapi entah kenapa ia merasa bahwa kehadiran orang baru ini akan mengubah segalanya.
Sore harinya, saat ia pulang ke rumah, Nindi sudah menunggu di ruang tamu dengan ekspresi serius. "Hera, ada sesuatu yang penting yang perlu kita bicarakan," kata Nindi.
Hera merasa sedikit cemas, meskipun ia berusaha untuk tetap tenang. “Apa, M?”
Nindi memandangnya dengan tatapan lembut, namun ada kekhawatiran yang jelas di matanya. “Kamu tahu, kan, bahwa keluarga kita sudah lama menjalani rutinitas yang cukup nyaman. Tapi, kadang-kadang, kehidupan memberi kita ujian yang tak terduga, dan kita harus siap dengan perubahan.”
Hera mengernyitkan dahi, merasa bingung. “Perubahan? Apa maksudnya?”
Nindi menarik napas dalam-dalam. “Kita akan pindah, Hera. Kami sudah memutuskan untuk tinggal di kota lain. Keputusan ini diambil karena pekerjaan ayahmu dan kesempatan baru yang datang. Kami tahu ini akan berat buatmu, tapi...”
Hera merasa dunia di sekelilingnya mendadak berhenti berputar. Pindah? Ke kota lain? Perasaan itu datang begitu mendalam campuran antara terkejut, marah, dan bingung. “Tunggu, Ma. Kenapa kita harus pindah? Aku sudah nyaman di sini. Semua teman-temanku, sekolahku aku nggak bisa begitu saja pergi.”
Nindi menatapnya dengan penuh kasih, namun juga ketegasan. “Kami juga tahu ini tidak akan mudah. Tapi kadang, kita harus keluar dari zona nyaman untuk tumbuh. Ini bukan keputusan yang mudah, tapi ini yang terbaik untuk masa depan kita.”
Hera diam sejenak, mencoba mencerna kata-kata ibunya. Pindah? Ia tahu itu mungkin adalah langkah besar, tetapi hatinya menolak. Ia merasa seperti ada yang hilang, sebuah kenyamanan yang selama ini menjadi pegangan hidupnya. Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa hidupnya tidak bisa selalu terjebak dalam rutinitas yang sama.
Saat itu, Lutfian muncul dan duduk di samping Hera. “Gue tahu lo pasti marah dan bingung, Hera. Tapi ini mungkin yang terbaik buat semua orang. Lo akan punya kesempatan baru, lingkungan baru, dan itu bisa jadi awal yang baik buat lo.”
Hera menatap Abangnya dengan tatapan kosong. “Gye nggak tahu, bang. Gue nggak siap.”
Lutfian meletakkan tangan di bahu adiknya. “Gue juga nggak siap. Tapi, kalau kita nggak berani ambil langkah ini, kita nggak akan tahu apa yang bisa kita capai ke depannya.”
Hari itu, suasana di rumah terasa berat. Nindi dan Hamka sibuk mempersiapkan semuanya, sementara Hera masih berusaha menerima kenyataan ini. Pindah ke kota lain sebuah babak baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Malam itu, Hera berdiri di balkon, memandang langit yang sudah mulai gelap. Di dalam hatinya, ada ketidakpastian yang menggelayuti. Apa yang akan terjadi setelah ini? Bagaimana ia akan menjalani hidup yang baru, dengan orang-orang baru, dan dunia yang tak lagi familiar?
Tapi, mungkin inilah saatnya untuk menghadapi perubahan. Mungkin ini adalah ujian baru yang harus ia hadapi untuk tumbuh lebih kuat. Toh, seperti hujan yang datang dan pergi, perubahan juga adalah bagian dari hidup yang harus diterima.
Hera menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Gue harus bisa melewati ini,” gumamnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Omnia Paratus [End]
Novela JuvenilHera merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia tak pernah benar-benar dimarahi, tapi juga tak pernah dicari. Ia tumbuh dengan keheningan setiap harinya. Di balik sikap cuek dan tatapan kosongnya, Hera cuma anak yang diam-diam berharap: "Tolong, l...
![In Omnia Paratus [End]](https://img.wattpad.com/cover/359372624-64-k731187.jpg)