Pagi pertama di rumah baru diawali dengan suara alarm yang menusuk telinga. Hera membuka matanya perlahan. Cahaya matahari yang menyusup lewat celah gorden terlihat berbeda lebih silau, lebih asing. Suara kendaraan dari luar jauh lebih bising dibanding di rumah lama.
Ia duduk di pinggir ranjang, mengusap wajahnya pelan. Ada perasaan kosong yang aneh. Seperti berada di tempat yang salah, di waktu yang salah, bersama orang yang entah siapa.
Dapur rumah itu lebih luas dan bersih. Nindi sudah duduk di sana dengan secangkir kopi. Tak ada obrolan pagi. Hanya ada suara sendok mengaduk dan berita di televisi yang menjadi latar belakang sunyi mereka.
“Sekolah baru kamu mulai hari Senin depan. Mama udah daftarin kamu, dan Nala,” kata Nindi datar, tanpa menatap Hera.
Hera hanya mengangguk, lalu duduk dan menatap roti panggang di piringnya. Rasanya hambar. Bahkan setelah digigit, rasanya tetap sama kosong.
---
Hari-hari berikutnya berlalu lambat. Hera lebih sering mengurung diri di kamar. Kota ini penuh dengan wajah baru, tempat-tempat asing, dan suasana yang tidak memberi rasa nyaman sedikit pun. Ia mencoba menulis, membaca, mendengarkan lagu tapi semuanya terasa seperti tempelan tak berguna untuk mengisi kekosongan.
Satu-satunya yang terasa akrab hanyalah Lutfian. Kakaknya mulai sibuk dengan kampus barunya, tapi masih menyempatkan diri menemani Hera jika sempat. Setidaknya, ada satu orang yang tidak berubah.
Namun, semuanya mulai terasa lebih rumit ketika Nala mulai “beraksi” di lingkungan baru.
---
“Dia anak baru yang super ramah!” seru salah satu tetangga saat bertemu Nindi.
“Manis banget, suka bantu-bantu juga,” tambah yang lain.
Hera menahan napas saat mendengar percakapan itu dari balik pintu. Nala berhasil mencuri perhatian lagi. Dengan senyum palsu dan suara lembutnya, gadis itu membuat semua orang terpikat. Sama seperti dulu. Sama seperti yang membuat Hera menjadi bayangan dalam keluarganya sendiri.
Dan benar saja, malam itu, Nindi kembali memuji Nala.
“Lihat tuh adik kamu, baru pindah aja udah bisa akrab sama tetangga. Kamu juga harusnya bisa begitu, Hera.”
Hera tidak menjawab. Ia tidak ingin menjawab. Buat apa? Semua orang sudah punya versi mereka sendiri tentang siapa yang layak dicintai dan siapa yang sebaiknya diabaikan.
Ia bangkit dari meja makan dan pergi tanpa sepatah kata.
---
Di kamarnya, Hera membuka buku catatan kecil yang selalu ia simpan di tas. Halaman-halamannya berisi potongan-potongan pikiran, ungkapan hati yang tak pernah ia ucapkan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah dijawab.
Malam itu, ia menulis satu kalimat:
"Apa aku harus berubah agar mereka bisa melihatku lagi?"
Tapi begitu ia menulisnya, Hera sadar bukan perubahan yang ia takutkan. Yang menakutkan adalah menjadi orang yang bukan dirinya hanya untuk membuat orang lain bahagia.
Tangannya berhenti. Ia menatap langit-langit kamar. Lalu menutup bukunya pelan-pelan.
Perubahan sedang terjadi di sekitarnya. Semua bergerak. Semua berubah.
Mungkin, sekarang giliran dirinya untuk memilih: mau ikut bergerak… atau tetap diam dan ditinggal?
---
KAMU SEDANG MEMBACA
In Omnia Paratus [End]
Novela JuvenilHera merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia tak pernah benar-benar dimarahi, tapi juga tak pernah dicari. Ia tumbuh dengan keheningan setiap harinya. Di balik sikap cuek dan tatapan kosongnya, Hera cuma anak yang diam-diam berharap: "Tolong, l...
![In Omnia Paratus [End]](https://img.wattpad.com/cover/359372624-64-k731187.jpg)