25.Melangkah maju

38 17 0
                                        

---

Hari-hari setelah mamanya memberi tahu tentang pindah ke kota baru berlalu dengan cepat, dan Hera merasakan ketegangan yang semakin memuncak. Setiap kali ia berusaha untuk menghadapi kenyataan itu, ia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Kepindahannya menjadi topik pembicaraan utama di rumah, sementara di sekolah, hanya ada kekosongan yang tak bisa diisi dengan kata-kata.

Hera mencoba untuk tetap normal, berinteraksi dengan teman-temannya, meski dalam hatinya, dia tahu perpisahan itu tak bisa dihindari. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di pikirannya pertanyaan yang terus muncul: apakah pindah itu benar-benar pilihan yang tepat?

Pagi itu, saat di sekolah, ia bertemu dengan Rina, teman sekelasnya yang selalu ceria dan penuh energi. Rina duduk di samping Hera saat istirahat dan tersenyum lebar. "Hera, gue dengar lo bakal pindah? Wah, gue nggak nyangka banget!"

Hera hanya mengangguk pelan. "Iya, gue harus pindah. Tapi entahlah, gue masih bingung."

Rina memandangnya dengan penuh pengertian. "Gue ngerti kok. Pasti berat banget ninggalin semua yang lo kenal. Tapi lo juga harus lihat sisi positifnya. Lo bisa memulai hal baru, lo bisa ketemu orang-orang baru, dan siapa tahu, lo bisa jadi lebih baik."

Hera menghela napas. “Iya, gue tahu. Tapi rasanya kayak hidup gue diputus gitu aja. Gue udah nyaman di sini, dengan teman-teman gue, dan sekolah ini. Gue nggak tahu apa yang bakal terjadi setelah itu.”

Rina tersenyum kecil. "Pindah itu memang nggak mudah, tapi gue yakin lo bisa menanganinya. Lo tuh orang yang kuat, Hera. Jangan ragu untuk coba hal baru. Siapa tahu, lo bisa menemukan kebahagiaan yang lebih besar di sana."

Kata-kata Rina itu sedikit banyak memberikan ketenangan. Meskipun Hera masih merasa berat, ia tahu bahwa hidup akan terus berjalan, dan mungkin inilah saat yang tepat untuk melangkah maju.

Siang harinya, Lutfian datang menjemputnya di sekolah seperti biasa. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam cara Lutfian berbicara. "Hera, kita akan melalui banyak hal setelah pindah. Gue tahu ini berat buat lo, tapi lo nggak sendirian. Kita semua akan hadapi ini bersama."

Hera menatap kakaknya dengan mata yang sedikit berkaca. "Tapi Bang, gimana kalau gue nggak bisa? Gimana kalau gue gagal di tempat baru?"

Lutfian tersenyum lembut dan mengusap kepala adiknya. "Gagal itu bukan akhir, Hera. Gagal itu cuma bagian dari perjalanan. Yang penting adalah kita terus mencoba dan nggak menyerah."

Hera merasa sedikit lega mendengar kata-kata itu. Mungkin ia tidak perlu tahu segalanya sekarang, yang penting adalah ia masih punya keluarga dan orang-orang yang peduli padanya. Dan mungkin, seperti kata Lutfian, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Malam itu, setelah makan malam, Nindi duduk bersama Hera di ruang tamu ada Nala juga disitu. Ada hal yang ingin dibicarakan. "Hera, mama tahu ini sulit buat kamu. Tapi ini keputusan besar, dan aku yakin kita bisa menjalani ini dengan baik. Kadang, hidup kita butuh perubahan supaya kita bisa lebih berkembang."

Hera menatap ibunya, merasa sedikit cemas. "Tapi ma, apa yang harus aku lakukan di sana? Apa aku akan bisa berteman? Apa aku akan bisa menemukan tempatku?"

Nindi tersenyum dengan lembut, mengelus rambut Hera. "Lo nggak akan pernah tahu sebelum lo coba, Hera. Dan apapun yang terjadi, gue yakin lo bisa beradaptasi. Lo punya kekuatan yang bahkan lo sendiri belum sepenuhnya sadari." Ujar Nala penuh dengan semangat.

Hera mengangguk pelan. Kata-kata adiknya memang menenangkan, tapi ada sedikit rasa takut yang masih mengendap di hatinya. Ia takut kehilangan apa yang ia anggap sebagai rumahnya selama ini. Namun, saat ia memikirkan masa depan, ia tahu ia harus menghadapi apa pun yang akan datang.

Esok paginya, saat ia mempersiapkan barang-barangnya, Hera merasa sebuah keheningan yang aneh. Semua barang-barang yang ada di kamarnya, yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya, kini terasa seperti kenangan yang harus ditinggalkan. Ia merasa terjepit antara rasa ingin bertahan dan rasa ingin maju.

Setelah selesai mengemas beberapa barang, ia memandang sekeliling kamarnya. Semua ini akan segera menjadi kenangan. Namun, di tengah perasaan campur aduk itu, Hera menyadari sesuatu yang penting. Hidupnya mungkin akan berubah, tapi ia tetaplah Hera. Apapun yang terjadi, ia harus bisa menerima perubahan itu dan melangkah maju.

"Selamat tinggal, semua kenangan ini," gumamnya pelan, sambil menatap kamar yang sudah hampir kosong.

Lutfian masuk ke kamar dan menatapnya dengan serius. "Hera, lo siap?"

Hera mengangguk pelan. "Gue harus siap kan."

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang