---
Nala adalah anak jenis langka yang bisa merengek dengan manis, memutarbalikkan fakta dengan halus, dan tetap terlihat polos seakan-akan ia tidak tahu apa-apa, seakan ia adalah korbannya padahal yang sebenarnya ia adalah pelaku.
Hari itu, ia mengetuk pintu kamar ibunya dengan suara paling lembut yang bisa ia hasilkan.
Tok, tok, tok.
“Mamaaa... Nala boleh masuk enggak?” suaranya terdengar seperti anak kucing yang kedinginan.
Dari dalam, terdengar suara Nindi, “Masuk aja, sayang.”
Nala masuk, menghela napas pelan sambil menurunkan bahunya—gerakan yang terlihat seperti sedih, padahal sedang dipikirkan dengan sangat sadar.
Ia duduk di ujung ranjang, menatap ibunya yang sedang merapikan berkas kerja.
“Nala kenapa?” tanya Nindi tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada map berwarna biru.
“Enggak apa-apa...” jawab Nala, suara lirih. “Cuma... Nala tadi dimarahin Kak Hera lagi.”
Nindi berhenti menulis, berjalan mendekat kearah Nala lalu mengusap lembut kepala anaknya itu.
“Dimarahin? Soal apa?”
Nala menggigit bibirnya, berusaha terlihat bingung. “Nggak tahu... cuma gara-gara Nala numpang pakai cat kuku di mejanya... terus katanya berantakin. Padahal Nala udah bersihin... kayaknya.”
Nindi mendesah. “Kakakmu akhir-akhir ini memang makin emosian. Mungkin lagi stres.”
"Nanti biar Mama ngomong sama Hera, huh. Anak itu memang makin menjadi."
Nala menunduk. Senyum tipis muncul di ujung bibirnya. Sukses.
Sejak kecil, Nala sudah tahu satu hal kalau ingin mendapatkan perhatian atau sesuatu, lebih mudah jika ia terlihat sebagai ‘korban’. Terutama korban dari Hera Kakaknya itu.
Dengan gaya bicara pelan dan ekspresi bingung, ia tahu ibunya akan langsung membelanya.
“Nala juga udah coba bicara baik-baik sama Kak Hera, Ma... tapi dia dingin banget. Nggak pernah senyum sama Nala...” lanjut Nala, semakin pelan.
Kali ini Nindi menatapnya. “Nala, kamu nggak pernah di saakitin Hera, kan?”
Nala menggeleng pelan. “Nggak, Ma... Nala kan cuma pengin deket sama Kakak, tapi kakak nggak mau, aku jadi sedih.”
Nindi memeluk Nala, sambil berkata, “Kamu anak yang baik, Nala. Nggak semua orang bisa seperti kamu. Kakakmu harusnya bisa lebih paham sama kamu, biar nanti mama yang ngomong sama kakak kamu.”
Nala memejamkan mata dalam pelukan ibunya. Bukan karena haru. Tapi karena puas. Ia tahu, peran anak yang paling manis di rumah ini selalu menguntungkannya, ah, Nala suka menjadi seperti ini.
Ia tak pernah peduli Hera dingin padanya. Ia bahkan kadang suka melihat Hera kesal. Baginya, itu bukti bahwa Hera tidak bisa mengendalikan segalanya. Dan Nala, dengan gaya santunnya, bisa mengambil posisi favorit di rumah dengan menjadi pusat perhatian semua orang.
---
Di tempat lain, Hera sedang mengunci kamarnya dengan sedikit tenaga berlebih. Napasnya naik turun. Baru saja ia mendengar ibunya berkata pada Nala.
“Kakakmu memang kadang terlalu keras, ya.”
“Lucu,” gumam Hera. “Padahal gue cuma bilang jangan ngacak-ngacak meja.”
"Jelas jelas dia Dateng buat acak-acak meja, manipulatif banget jadi anak, sialan."
Geram Hera tangannya terkepal kuat, nafasnya naik turun emosinya tak stabil semuanya karna tindakan Nala.
Ia menatap dirinya di cermin. Rambut berantakan, wajah lelah. Dan matanya... mata orang yang mulai muak dianggap sebagai masalah, padahal yang ia lakukan hanya mencoba mempertahankan ruang.
Ruang milik sendiri, yang bahkan di rumah pun terasa seperti milik orang lain.
Ia ingin menyerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
In Omnia Paratus [End]
Teen FictionHera merasa seperti hantu di rumahnya sendiri. Ia tak pernah benar-benar dimarahi, tapi juga tak pernah dicari. Ia tumbuh dengan keheningan setiap harinya. Di balik sikap cuek dan tatapan kosongnya, Hera cuma anak yang diam-diam berharap: "Tolong, l...
![In Omnia Paratus [End]](https://img.wattpad.com/cover/359372624-64-k731187.jpg)