22.Jalan yang tak terduga

36 17 0
                                        


---

Hera bangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Meski masih ada keraguan yang mengintai, dia merasa seperti baru saja mengambil langkah kecil ke arah yang benar. Malam sebelumnya, percakapan dengan Lutfian dan Mamanya memberinya semangat baru. Ketakutannya, meski masih ada, tidak lagi menghalangi langkahnya.

Di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Meskipun Hera lebih memilih untuk tetap diam dan mengamati, ia mulai merasa lebih mudah untuk menghadapi setiap hal yang datang. Ketika teman-temannya mulai berbicara tentang ujian mendatang, percakapan tentang rencana masa depan, Hera merasa sedikit terhubung. Meski ia tidak berbicara banyak, ia bisa merasakan bahwa dunia di sekitarnya tidak selalu menuntutnya untuk menjadi sempurna.

Pagi itu, setelah pelajaran pertama selesai, Nala datang menghampiri Hera dengan ekspresi ceria yang jarang ia tunjukkan padanya. “Lo kelihatan lebih baik kak sekarang. Ada apa, sih?” tanya Nala sambil duduk di sampingnya.

Hera menatap Nala dengan ragu. “Gue cuma... merasa lebih baik. Tapi rasanya kayak gue lagi nunggu sesuatu yang bakal datang, dan gue nggak tahu itu apa.”

Nala tersenyum, tapi ada keanehan dalam senyumannya. “Kadang, lo nggak perlu tahu apa yang akan datang. Yang penting, lo punya kontrol atas apa yang lo lakukan sekarang.”

Hera mengangkat alis, sedikit terkejut dengan kata-kata Nala yang cukup bijak. Biasanya, Nala lebih banyak mengeluh tentang keinginannya yang tak kunjung terpenuhi. Namun, hari ini, ada sesuatu yang berbeda.

"Lo bener, Nala. Gue cuma perlu fokus sama apa yang bisa gue kontrol sekarang," jawab Hera, mencoba mencerna maksud dari kata-kata Nala.

Sejak itu, Hera mulai berpikir lebih dalam. Mungkin benar, ia terlalu sering khawatir tentang hal-hal yang belum terjadi. Ia terlalu banyak memberi ruang untuk ketakutan dan keraguan. Mungkin, untuk pertama kalinya, ia bisa mencoba untuk berhenti memikirkan apa yang belum datang, dan fokus pada apa yang ada di hadapannya.

Siang itu, saat kembali ke rumah, suasana terasa sedikit lebih santai. Nindi sedang duduk di ruang makan dengan secangkir teh, sementara Hamka masih sibuk dengan pekerjaannya. Nala, yang biasanya sibuk dengan ponselnya, malah duduk di dekat ibu mereka, berbicara dengan santai. Mungkin, ada sedikit perubahan dalam dinamika keluarga ini, atau mungkin Hera yang mulai merasakannya lebih jelas.

Saat makan malam, Nindi bertanya, “Hera, hari ini lo kelihatan lebih tenang. Ada sesuatu yang berubah?”

Hera tersenyum sedikit, kali ini tanpa keraguan. “Aku cuma mulai nyadar kalau aku nggak harus takut terus-menerus. Mungkin, selama ini aku cuma perlu berhenti khawatir tentang segala hal dan lebih fokus pada apa yang bisa aku lakukan sekarang.”

Nindi mengangguk pelan, tersenyum dengan penuh kasih. “Kadang, yang kita butuhkan hanya waktu untuk menemukan itu, Nak. Semua akan jadi lebih jelas seiring waktu.”

Malam itu, saat duduk di kamar, Hera merasa lebih ringan. Meski perjalanan yang ia jalani masih panjang dan penuh ketidakpastian, ia merasa sedikit lebih siap untuk menghadapinya. Dunia mungkin tak akan selalu memberikan yang terbaik, tapi Hera tahu, dengan setiap langkah yang ia ambil, ia bisa lebih kuat. Setiap ketakutan yang ia hadapi adalah pelajaran untuk bertahan, bukan alasan untuk menyerah.

Di luar, hujan kembali turun dengan perlahan, namun kali ini, Hera merasa tidak ada yang perlu ia takutkan. Ia tahu, seperti hujan yang datang dan pergi, masalah juga akan berlalu.

---

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang