19.Menuju kedamaian

46 17 2
                                        

---

Keesokan harinya, Hera merasa sedikit lebih baik. Meskipun masalah yang ia hadapi belum hilang begitu saja, ada sedikit ketenangan yang mulai mengalir dalam dirinya. Ia merasa, setidaknya, ia sudah mulai membuka diri—sesuatu yang selama ini terasa begitu berat.

Saat ia melangkah ke sekolah, perasaan cemas yang biasanya menguasainya kini sudah sedikit berkurang. Di dalam kelas, teman-teman sekelasnya tampak seperti biasa. Beberapa ada yang tertawa, ada yang asyik bercakap-cakap, dan ada pula yang sibuk mengerjakan tugas. Namun, Hera merasa sedikit lebih ringan. Mungkin, memang benar kata Lutfian kadang kita hanya perlu sedikit berbicara untuk membuat perasaan kita lebih baik.

Hari itu, pelajaran berlangsung cukup biasa. Namun, setelah istirahat, ada sesuatu yang berbeda. Ketika Hera sedang berjalan keluar untuk mengambil udara segar di luar, ia bertemu dengan Nala yang sedang duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah.

“Kak, Lo kok sendirian? Kenapa nggak duduk sama temen-temen?” tanya Nala, nada suaranya lebih manja dari biasanya.

"Gue minta maaf ya kak, atas semua sikap gue selama ini," ujar Nala lirih, Hera hanya mengangguk saja tak mempermasalahkannya.

Hera menatap Nala sebentar, lalu duduk di sebelahnya. “Gue cuma butuh waktu sendiri.”

Nala mengerutkan kening, seperti tak mengerti. “Emangnya ada masalah apa, sih? Kalau lo nggak ngomong, gimana kita tahu apa yang lo rasain?”

Hera menatap Nala dengan tatapan kosong, namun entah mengapa, kali ini ada sedikit empati yang ia rasakan. Mungkin, ini bukan tentang siapa yang lebih penting, tetapi tentang berbagi perasaan. “Kadang, gue cuma nggak tahu harus gimana. Semua ini jadi terlalu rumit. Terlalu banyak yang gue simpen dalam diri gue sendiri.”

Nala diam sejenak, lalu menatapnya. “Gue ngerti kok, Kak. Gue juga nggak selalu ngerti diri gue sendiri. Gue bahkan selalu jadi masalah buat lo sama bang Lutfi, tapi gue harap lo nggak merasa sendirian, meskipun kita punya cara berbeda buat ngadepin masalah.”

Hera terdiam mendengar kata-kata Nala. Entah kenapa, saat ini ia merasa sedikit lebih dimengerti. Mungkin selama ini ia terlalu fokus pada dirinya sendiri, sehingga lupa bahwa orang-orang di sekitarnya juga punya perasaan yang sama, hanya mungkin dengan situasi yang berbeda.

Setelah percakapan singkat itu, Hera merasa sedikit lebih tenang. Mungkin langkah kecil yang ia ambil ini akan membantu dirinya untuk lebih terbuka dan menerima kenyataan. Selama ini, ia hanya mengunci perasaannya, takut kalau ada orang yang melihatnya rapuh. Namun, saat ini ia merasa bahwa mungkin ia bisa mencoba untuk sedikit membuka diri tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk merasakan kedamaian.

Pulang sekolah, Hera berjalan pulang dengan perasaan yang agak lebih lega. Rumahnya, yang biasanya terasa begitu berat dan penuh ketegangan, kini sedikit lebih menenangkan. Sesampainya di rumah, ia langsung menuju ruang tamu, di mana Nindi sedang duduk membaca buku, sementara Hamka menonton berita di televisi.

Hera berhenti sejenak di ambang pintu, melihat kedua orang tuanya yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka. Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasa seperti ini terhubung dengan mereka, meskipun hanya sebentar.

“Mau makan apa malam ini, Nak?” tanya Nindi, tanpa melihat Hera terlebih dahulu.

Hera menatap ibunya dengan ragu, kemudian duduk di kursi sebelahnya. “Aku makan apa aja yang disediain, aku cuma mau bilang makasih, Ma,” katanya dengan suara pelan. “Udah mau dengerin Aku, meskipun aku nggak pernah ngomong apa-apa.”

Nindi menoleh, matanya lembut. “Kamu nggak perlu bilang terima kasih, Hera. Kami selalu ada buat kamu. Mungkin kami nggak selalu ngerti, tapi kami selalu siap mendengarkan.”

Hera merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Kata-kata Nindi mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi Hera, itu adalah sesuatu yang sangat berarti. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada harapan dalam keluarganya.

Malam itu, makan malam berlangsung dengan suasana yang lebih hangat dari sebelumnya. Tidak ada lagi kecanggungan, hanya percakapan ringan yang mengalir begitu saja. Mereka berbicara tentang hal-hal sepele, tetapi bagi Hera, itu sudah cukup. Kadang, hal kecil seperti ini bisa memberi rasa tenang yang lebih besar daripada sekadar kata-kata.

Setelah makan malam, Hera memutuskan untuk duduk sejenak di teras rumah, menikmati malam yang tenang. Tidak ada yang terlalu rumit dalam hidupnya saat ini hanya dirinya, keluarga, dan udara malam yang segar. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.

Namun, meskipun semua terasa lebih ringan, Hera tahu bahwa perjalanan ini masih panjang. Masalah tidak akan hilang begitu saja, tetapi setidaknya ia mulai memahami bahwa ia tidak perlu menghadapinya sendirian. Ada keluarga, ada orang-orang di sekitarnya yang peduli meskipun ia belum sepenuhnya bisa membuka diri, ia tahu langkah pertama sudah ia ambil.

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang