26.Perjalanan baru

39 18 0
                                        


.........

Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang diperkirakan. Hera merasakan perasaan campur aduk yang tak bisa ia hindari. Di satu sisi, ada rasa cemas yang menggelayuti setiap langkahnya, namun di sisi lain, ada juga rasa ingin tahu tentang apa yang akan ia hadapi di kota baru. Semua yang dikenal terasa seperti harus ditinggalkan, dan itu sangat mengganggu perasaannya.

Di rumah, suasana terasa canggung. Nindi dan Hamka sibuk mengurus segala sesuatunya, sementara Lutfian terus memberi dukungan dengan kata-kata yang berusaha menenangkan, dan Nala sibuk dengan media sosialnya. Namun, Hera tahu bahwa ia akan merindukan rumah ini tempat ia tumbuh dan mengenal dunia. Tapi, kadang-kadang, untuk menemukan tempat yang lebih baik, seseorang harus meninggalkan tempat yang sudah familiar.

Di tengah perjalanan ke bandara, suasana dalam mobil terasa hening. Mbak Lala yang biasanya ceria, kali ini lebih banyak diam, mungkin ikut merasakan kesedihan yang sama. Hera duduk di bangku belakang, memandang keluar jendela, dan merenung. Di luar sana, dunia terus bergerak, sementara dia terjebak dalam perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

Hera tahu bahwa pindah ke kota baru berarti harus meninggalkan banyak hal teman-teman, sekolah, bahkan kenangan yang selama ini menemaninya. Namun, di dalam hatinya, ada rasa yang lebih besar, rasa ingin tahu tentang apa yang akan datang setelahnya.

Setibanya di bandara, mereka langsung menuju ruang tunggu. Hamka sibuk dengan ponselnya, sementara Lutfian terus menatap adiknya dengan tatapan yang penuh makna, seolah-olah memberi semangat yang tak terucapkan. Hera bisa merasakan semua perhatian itu, namun ia merasa ada bagian dari dirinya yang masih sulit untuk menerima kenyataan ini.

Pesawat yang mereka naiki akhirnya siap untuk lepas landas. Hera duduk di kursi pesawat, melirik ke luar jendela. Beberapa menit kemudian, suara pilot terdengar melalui pengeras suara, memberi pengumuman bahwa pesawat akan segera terbang. Semua penumpang di sekitar mulai duduk dengan tenang, tetapi bagi Hera, rasa cemasnya tak bisa hilang begitu saja.

“Ini adalah awal yang baru,” pikirnya pelan, berusaha menenangkan diri.

Perjalanan panjang itu terasa sepi, meski di sekelilingnya ada orang-orang yang tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hera menunduk, memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kenyamanan dalam ketidakpastian. Saat pesawat mulai terbang lebih tinggi, ia merasa seperti dirinya juga tengah terbang menuju sesuatu yang belum ia ketahui.

---

Setibanya di kota baru, suasana berbeda langsung menyambut mereka. Gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang ramai, dan udara yang terasa asing. Hera merasa seperti orang asing di kota ini. Semua yang ia kenal seakan tak ada lagi, dan ia harus memulai semuanya dari awal.

Nindi mengatur segala sesuatunya dengan cepat. Mereka langsung menuju ke rumah baru, yang lebih besar dari rumah lama mereka, namun terasa begitu sepi dan kosong. Hera merasa tidak terhubung dengan rumah itu, meskipun ia tahu mereka harus menetap di sana.

Malam pertama di kota baru terasa seperti malam yang panjang. Hera duduk di pinggir tempat tidurnya, memandang ruangan yang baru saja mereka masuki. Hening. Tidak ada suara teman-teman yang biasanya mengelilinginya. Tidak ada keramaian yang ia kenal.

Pikirannya kembali melayang pada rumah lama, pada teman-temannya, dan pada segala yang ia tinggalkan di belakang. “Apa yang harus gue lakukan di sini?” gumamnya, hampir tidak terdengar.

Tak lama kemudian, Lutfian masuk ke kamar dan duduk di sisi tempat tidur Hera. “Lo tahu, kan, kalau kita nggak bisa terus begini. Kita harus mulai mencari cara untuk merasa nyaman di sini. Gue tahu lo masih merasa cemas, tapi ini cuma soal waktu. Lo akan terbiasa.”

Hera mendongak ke arah kakaknya, mencoba mencari sesuatu yang meyakinkan dalam tatapan Lutfian. “Gimana kalau gue nggak bisa? Gimana kalau gue nggak bisa cocok sama tempat baru ini?”

Lutfian tersenyum lembut dan meraih tangan Hera. “Lo harus coba, Hera. Kita semua harus coba. Dan nggak ada yang bisa tahu bagaimana hasilnya kalau nggak mau berusaha.”

Hera merasa sedikit lebih tenang mendengar kata-kata Lutfian, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Mungkin dia benar ini hanya soal waktu dan keberanian untuk menghadapi perubahan. Ia hanya perlu memberi waktu untuk dirinya sendiri agar bisa menerima kota baru ini sebagai rumah barunya.

Malam itu, sebelum tidur, Hera menatap langit melalui jendela kamar. Bintang-bintang tampak begitu jauh, tapi ia tahu bahwa ia akan terus berusaha. Perubahan memang tak mudah, tapi ini adalah kesempatan yang harus dijalani. Ia mungkin belum tahu apa yang akan datang, tapi ia tahu satu hal: hidup ini penuh dengan kejutan.

Dengan perasaan yang campur aduk, Hera menutup matanya. Mungkin esok hari adalah awal dari sesuatu yang baru.

---

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang