23.Langkah baru

39 17 1
                                        

---

Hera bangun dengan perasaan yang agak berbeda. Sejak beberapa hari terakhir, ia merasa ada sedikit perubahan dalam dirinya. Mungkin ini adalah titik balik yang sudah lama ia tunggu di mana ia merasa sedikit lebih mampu mengendalikan hidupnya. Meski masih ada ketakutan yang sesekali datang, ia belajar untuk tidak membiarkannya menguasai dirinya.

Pagi itu, saat menuju ke sekolah, Hera berjalan lebih santai daripada biasanya. Meskipun cuaca mendung dan langit tampak menekan, ada rasa tenang yang menyelimuti dirinya. Mungkin, langkah kecil yang ia ambil beberapa hari lalu mulai memberi dampak. Di dalam hatinya, ada keyakinan baru bahwa tidak ada yang perlu ia takuti jika ia bisa menghadapi setiap tantangan dengan ketenangan.

Di kelas, suasana terasa biasa. Teman-teman mulai sibuk dengan ujian yang akan datang, dan Hera, meskipun tidak terlalu peduli dengan semua itu, ikut terhanyut dalam percakapan ringan. Beberapa teman mencoba untuk mengajaknya berbicara lebih banyak, dan meskipun ia tidak terlalu banyak berbicara, ia merasa lebih bisa menikmati interaksi mereka.

Lutfian mendekati Hera saat waktu istirahat. “Lo kelihatan lebih baik. Ada apa? Lo bisa lebih santai akhir-akhir ini,” katanya sambil duduk di sampingnya.

Hera mengangguk, sedikit tersenyum. “Mungkin, gue cuma mulai belajar buat berhenti khawatir tentang hal-hal yang nggak bisa gue kontrol. Gue harus fokus sama apa yang bisa gue atur sekarang.”

Lutfian tersenyum bangga. “Itu langkah yang bagus. Gak semua hal bisa kita kontrol, tapi kita bisa kontrol gimana kita meresponnya.”

Di tengah pembicaraan mereka, suara pintu kelas terbuka dan masuklah Nala, yang tampaknya baru saja menyelesaikan pelajarannya. Nala yang biasanya sangat sibuk dengan dunia sosialnya kali ini terlihat agak berbeda lebih tenang. Hera melihat adiknya itu duduk dengan mereka, meski dengan sikap agak canggung.

“Kak, Bang,” kata Nala dengan suara agak pelan, “Gue mau ngomong sesuatu.”

Hera menoleh dan mengernyitkan dahi. “Apa?” sedangkan Lutfian hanya mengangkat alisnya.

Nala menghela napas, kemudian menatap mereka dengan serius. “Gue tahu, selama ini gue sering kelihatan nggak peduli sama apa yang lo rasain. Gue sering mikir gue yang paling susah, dan kadang nggak nyadar kalo kalian juga punya masalah. Gue... mau minta maaf.”

Lutfian terkejut mendengar kata-kata itu. Selama ini, Nala selalu menjadi pusat perhatian dengan sifat manja dan keluhannya yang tak ada habisnya. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berbeda.

Berbeda dengan Lutfian, Hera terlihat lebih tenang karna Nala sudah pernah meminta maaf waktu itu.

“Lo nggak perlu minta maaf, Nala,” kata Hera, meski sedikit ragu. “Tapi... gue ngerti kok. Kadang kita semua punya cara masing-masing buat ngadepin masalah.”

Lutfian tersenyum kecil, lalu berkata, “Kita semua butuh waktu buat belajar. Tidak ada yang langsung ngerti semuanya.”

Nala mengangguk, lalu tersenyum kecil. “Makasih, Kak. Gue cuma mau lo tahu kalau gue nggak selalu seburuk yang lo pikirkan.”

Hera mengangguk, merasa sedikit lega. Mungkin, hubungan mereka bisa lebih baik dari sebelumnya. Meski selama ini ia merasa bahwa keluarganya sering kali terpecah-pecah, mungkin sekarang adalah waktu untuk semua orang berusaha lebih baik.

"Akhirnya adek-adek gue akur lagi," ujar Lutfian senang sambil mengusap kedua pucuk kepala adiknya itu.

Siang itu, saat makan siang bersama di rumah, suasana terasa lebih hangat. Nindi berbicara lebih banyak dengan mereka semua, dan meskipun Hamka lebih banyak diam, Hera bisa merasakan kehadiran keluarganya yang lebih menyeluruh. Kadang, mungkin yang dibutuhkan adalah waktu, dan sedikit perubahan untuk membuat semuanya lebih baik.

Setelah makan malam, Hera duduk di balkon seperti biasa, menikmati angin malam yang sejuk. Lutfian datang dan duduk di sampingnya, seperti biasanya.

“Lo udah siap menghadapi besok?” tanya Lutfian.

Hera menatapnya, lalu menghela napas. “Gue nggak tahu. Tapi setidaknya, sekarang gue tahu apa yang harus gue lakukan. Gue nggak akan biarin ketakutan gue menghalangi jalan gue lagi.”

Lutfian tersenyum dan menepuk bahunya. “Itu sikap yang benar, bagus.”

Hera menatap langit yang sedikit lebih cerah. Mungkin, perjalanan ini belum berakhir, dan masih banyak hal yang harus ia hadapi. Tapi satu hal yang ia tahu sekarang adalah bahwa dia tidak lagi takut. Ia akan terus berjalan, meski langkahnya kecil, dan itu sudah cukup baginya.

---

 In Omnia Paratus [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang