43. Perasaan Apa Ini?

135 7 0
                                        

Dua bulan telah berlalu sejak Aznii mulai berusaha melupakan Haqi, dan kini ia benar-benar berhasil melepaskan perasaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dua bulan telah berlalu sejak Aznii mulai berusaha melupakan Haqi, dan kini ia benar-benar berhasil melepaskan perasaannya. 

Hari ini, Aznii berencana keluar bersama Gavin. Mereka perlu membeli perlengkapan untuk menyelesaikan tugas sekolah. Kebetulan, mereka berada dalam satu kelompok, sehingga mereka memutuskan untuk berbelanja bersama.

“Mau ke mana, Kak?” tanya Dika. 

“Mau beli perlengkapan tugas sama Gavin,” jawab Aznii sambil meraih tasnya. 

“Bunda di mana?” tanya Aznii lagi. 

“Di dapur tuh,” sahut Dika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. 

Aznii langsung menuju dapur dan menemukan Bundanya yang sibuk dengan sesuatu. 

“Bunda,” panggil Aznii. 

“Iya, ada apa, Sayang?” jawab Alena sambil menoleh. 

“Bunda, aku mau izin keluar sebentar sama Gavin. Mau beli perlengkapan tugas,” kata Aznii. 

“Iya, Kak. Hati-hati ya,” ucap Alena lembut. 

“Bunda lagi bikin apa, nih?” tanya Aznii penasaran melihat Bundanya yang sibuk mengaduk adonan. 

“Bunda mau bikin brownies. Nanti Tante Qilla sama Kak Zara mau ke sini,” jelas Alena sambil tersenyum. 

“Oh, gitu. Aku sama Gavin nanti bakal ngerjain tugas di sini, ya, Bun,” ujar Aznii. 

“Nggak apa-apa. Biar makin rame rumahnya,” sahut Alena ramah. 

“Yaudah, Bun. Aku berangkat dulu ya,” Aznii mencium punggung tangan Bundanya dengan penuh hormat. 

“Assalamualaikum,” ucap Aznii sebelum pergi. 

“Waalaikumsalam,” balas Alena. 

Aznii melangkah keluar dan menuju rumah Gavin. Begitu sampai, ia mengetuk pintu sambil memberi salam. 

“Assalamualaikum,” sapa Aznii. 

“Waalaikumsalam,” balas Anissa yang sedang bersantai di ruang keluarga. 

“Gavin di mana, Mah?” tanya Aznii. 

“Masih di kamar kayaknya, Sayang. Samperin aja ke kamarnya nggak apa-apa,” jawab Anissa ramah. 

“Baiklah, Mah,” sahut Aznii sambil melangkah menuju kamar Gavin. 

Sesampainya di depan pintu kamar Gavin, ia mengetuk pelan. 

Tok Tok Tok. 

“Jerapah!” panggil Aznii dengan nada menggoda. 

Pintu terbuka dan Gavin muncul dengan rambut masih sedikit basah. 

Enemies to Lovers [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang