1. See again

29.6K 1.4K 19
                                        

Gadis pengagum paus itu tanpa disadari selalu berada disekitarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gadis pengagum paus itu tanpa disadari selalu berada disekitarnya.

🐋🐋🐋




Lima tahun kemudian...

Brakkk

Gadis yang baru saja dilempar kearah tembok itu meringis. Merasakan punggungnya yang terasa remuk. Dirinya terjatuh dengan lemas, tubuhnya yang kecil tak kuat menompang. Nafasnya memburu dengan dada yang naik turun. Rambutnya yang sudah acak-acakan, seragam yang nampak kusut dari sebelumnya.

Ketiga perempuan yang lebih tinggi darinya itu saling mencemooh. Mengeluarkan kata-kata kasar yang terus memaki dirinya. Tiga lawan satu, jelas ia kalah.

Ia sudah terbiasa menjadi langganan samsak dari ketiga perempuan ini. Terkadang dirinya melawan tapi pasti ada konsekuensi yang ia terima. Seperti saat ini, ia selalu berakhir dengan tubuh yang tak baik-baik saja.

"Kenapa ngga nangis? Nangis dong, ayo ngomong,"

"Ck, bener bisu lo?"

"Lara, lo seharusnya bisa ngendaliin emosi lo dong... kalo kaya gini gue harus repot ngasi lo pelajaran," Adisty-orang yang singkatnya menjadi ketua diantara ketiga orang ini. Paras cantiknya tak sesuai dengan kelakuannya yang seperti iblis.

Perempuan itu merunduk, menyamai Lara yang sudah lemah duduk di tanah. Kakinya jongkok dengan terbuka lebar, persis seperti preman. Tangannya bergerak melayang bebas, memukuli kepala Lara tak memberi celah. Sial, dia sering menyerang bagian kepalanya, Lara hanya bisa sedikit menghindar dengan menjadikan tangannya sebagai perisai agar kepalan tangan keras itu tak menghantam kepalanya. Meski itu sia-sia, kepalanya sampai terhuyung tak kuat mendapatkan serangan bertubi-tubi.

Tangannya beralih mencekram pipi Lara, menekan sampai kuku-kukunya benar melukai pipi putih gadis itu. "Lo pernah dilempar penghapus ngga? Sakit banget tau lo ngelempar kaya gitu...." lanjutnya dengan nada yang manja. Ah, Lara benci dengan nada saat gadis itu berbicara. Seperti psikopat gila.

"Cepet dikit kek, gue udah laper," Sella—perempuan berambut curly itu merengek kecil.

Lara berdecih samar, sempatnya ia mengungkit makanan tak penting dibanding dengan melukai seseorang dengan tak berperasaan.

Adisty bangkit dari jongkoknya. "Penghapusnya mana?"

Jesya—perempuan berwajah datar itu menyerahkan penghapus papan tulis yang sempat Lara lemparkan tadi saat dikelas.

Iya, mereka sedang membalas dendam perkara penghapus yang dilemparkan Lara saat dirinya dengan terang-terangan dimaki di depan kelas. Membuat amarah Adisty menjadi naik.

Jam istirahat ini menjadi waktu yang tepat untuk menyeret gadis kecil itu ke arah belakang gudang sekolah, tempat sepi dimana ia bisa dengan bebas meluapkan amarahnya.

Sea For Blue Whales [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang