OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuai janjiku, happy reading! 🐋🌊🫰🏻
- -
Ketiga anak kecil berseragam merah putih itu berdiri sengit. Dua lelaki dan satu perempuan. Kompak menatap empat anak lelaki yang bertubuh lebih tinggi dari mereka.
"Kalo mau lewat gang ini harus bayar."
"Kita cuma mau lewat, ini juga bukan jalan kalian, kan?" sahut Aige tenang.
"Kalo nakal aku bilangin Pak RT lhooo, kalian nggak tau? Avi itu temenan baik sama Pak RT karna sering bantu mandiin burungnya!" Lara menambahkan. Dari nadanya, dia tidak ketakutan sama sekali. Avi hanya melirik sekilas, mengeratkan genggamannya pada tas bekal Lara yang dia pengang, sementara tas punggung gadis itu si sulung yang bawa.
"Yeeee main temen-temenan. Bayar aja sini, perorang 10 ribu. Punya duit kan? Nggak punya bapak tapi Bunda kalian, kan ada duitnya," kata salah satu dari mereka, berkacak pinggang galak.
"Eh, nggak punya bapak?" tanya anak lain terkejut. Saling menoleh kemudian.
"Haaaaa nggak punya bapak!"
"Anak yatim, anak yatim!"
"Enggak punya bapak! Enggak punya bapak!" seru mereka mengejek serentak.
Mendengar itu, Avisena yang memiliki jiwa menggebu itu tidak terima, ia mengepalkan tangannya, hendak menerjang mereka semua namun ditahan oleh kedua saudaranya. "HEHHH! YATIM YATIM PALA BAPAK LO! SUKA MALAK ORANG BELAGU LO! UDAH GEDE JUGA! BERANTEM SINI KALO BERANI!!" suaranya lantang.
"Avi, nggak boleh pake gue elo, nggak baik. Kata bunda nggak boleh pake kekerasan," kata Lara ingat pesan bundanya. Mata gadis itu menyorot tajam, tak lepas sedikitpun dari para pemalak itu. Alisnya saling bertautan di balik poninya yang memanjang.
"Jangan menghina orang lain. Kita nggak tau kedepannya akan bagaimana. Roda kehidupan itu terus berputar. Memangnya orang tua kalian nggak ngasih uang saku sampai meminta seperti itu? Ayah kalian nggak ngasih?" hanya Aige yang mampu berbicara tenang. Ia bergerak maju sembari merentangkan tangannya. Menyuruh kedua adiknya mundur, memberi jarak aman sekaligus menunjukkan bahwa ia yang mengatur situasi ini.
"Buat apa kalian ngurusin ayah kita?! Kalo yatim ya yatim aja!"
"Yatim yatim!"
Dasar anak-anak nakal ini! Olokan mereka semua membuat Lara tidak tahan. Sedari tadi ia menahan diri karena Bunda sering mengingatkan bahwa seorang perempuan tidak pantas memukul orang. Lalu karena dirinya sangat kesal, tiba-tiba...
"HIHHHHH!"
"RA!"
"AAAAAA ADUH SAKIT! JANGAN DIGIGIT!!"
Aige dan Avi panik. Secepat kilat, Lara bergerak maju lalu meraih tangan satu anak paling depan, menggigitnya kuat-kuat.
"LEPAS! WOYYY!!" anak itu terus merintih kesakitan, berusaha mendorong kepala Lara untuk menjauhkan dari tangannya. Namun naasnya gigitan Lara tak kunjung lepas. Gadis itu memang paling ahli dalam menggigit anak nakal yang berusaha mengganggunya. Di sekolah pun begitu.