OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-
Sore itu langit masih berwarna jingga pucat ketika Avisena mengajak Lara keluar rumah. Sejak siang listrik di seluruh Komplek Taman Indah padam karena perbaikan gardu, dan kabarnya baru akan menyala menjelang malam. Lara yang sejak kecil selalu gelisah berada di rumah sendirian saat gelap akhirnya terpaksa ikut meski wajahnya jelas menunjukkan penolakan. Seperti biasa, ia mengenakan hoodie kuning kebanggaannya, menutupi sebagian wajah dengan tudung agar tidak banyak yang mengajaknya bicara.
Lapangan basket di tengah komplek sudah ramai. Pantulan bola yang menghantam lantai berpadu dengan tawa para remaja yang berkumpul selepas sekolah. Begitu Avisena muncul, beberapa temannya langsung bersorak menyambut. Namun perhatian mereka segera beralih pada gadis mungil yang berjalan beberapa langkah di belakang Avi.
"Halo, adek kecil!" seru Jeva sembari menelengkan kepalanya untuk melihat Lara yang ada di belakang tubuh kakaknya. "Tumben mau ikut main Avi?"
Lara hanya mendengus kecil. Matanya yang sayu melirik datar ke arah mereka sebelum memalingkan wajah lagi tanpa sepatah kata. Dalam hati ia mengomel kesal. Kalau listrik rumah tidak padam, ia jelas lebih memilih mengurung diri di kamar sambil menggambar daripada berada di tengah keramaian seperti ini. Semua ini murni karena terpaksa mengikuti Avisena.
Avi hanya terkekeh kecil melihat ekspresi adiknya. Ia mengusap singkat pucuk kepala Lara. "Gambar aja di sana, nanti kalo listriknya udah hidup, kita langsung pulang, oke?"
Lara mengangguk. Ya, mau tidak mau.
Avi berlari bergabung ke tengah lapangan. Tak lama kemudian suara sorakan riuh para pemain yang mulai saling berebut bola semakin keras terdengar.
Lara sama sekali tidak tertarik memperhatikan permainan itu. Ia memilih duduk sendirian di tribun paling ujung yang cukup sepi, mengeluarkan buku sketsa yang selalu ia bawa ke mana pun pergi. Ia lebih tertarik melanjutkan gambarannya saat ini. Sesekali dirinya melirik arah lapangan karena suara berisik mereka berhasil mengalihkan atensinya.
"Jangan minggir-minggir, nanti kena adek gue!" seru Avi saat perebutan bola bergerak semakin ke tepi.
Beberapa menit kemudian alis Lara menyatu pelan. Salah satu garis pada gambar paus yang sedang ia buat melenceng cukup jauh hingga merusak bentuk kepalanya. Gadis itu refleks meraba kantong hoodie, lalu tasnya, kemudian berhenti. Ia baru teringat penghapusnya tadi diselipkan Avisena ke saku celana basket karena Lara berkali-kali hampir menjatuhkannya saat berangkat dari rumah.
"Avi!" Lara menanggil kakaknya agak keras. Namun sepertinya suasana lapangan sedang sangat asik sekali. Avi tidak mungkin mendengar suaranya yang kecil itu.
Tanpa berpikir panjang, Lara segera menutup buku sketsanya dan turun dari tribun. Langkahnya berubah menjadi lari-lari kecil menuju lapangan sambil terus mencari sosok Avisena yang sedang menggiring bola di antara teman-temannya.