OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dalam segala kesakitanku, aku hanya akan mencarinya. Dia adalah obat penawarku. Laraku, hanya Laraku."—Karang.
🐋🐋🐋
Karang berdiri menatap pintu besar di depannya. Tubuhnya menegang, jantungnya berpacu cepat. Berkali-kali ia mengatur nafas, memejamkan mata untuk menguatkan diri. Berfikir bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja setelah memasuki ruangan itu.
"Its okay Karang, lo bakal tetep hidup. Ini bukan yang pertama kali, kan?"
Setelah memantapkan diri, perlahan ia membuka kenop pintu. Nampak wajah garang David yang sedang memandang marah pada dirinya. Ayman, sekretaris David juga disana. Berdiri di belakang tuannya yang duduk dengan angkuh di meja kerja.
Karang segera menempatkan diri. Tepat di depan meja besar itu dia merunduk menyatukan kedua tangannya.
Lelaki paruh baya itu terlihat berusaha mengontrol emosinya, bibirnya terasa kelu sebab menahan amarah yang sudah tertahan.
David mendengus keras. Meraba sesuatu di dekatnya meraih patung besi pajangan meja.
"Angkat wajahmu," perintahnya dingin. Membuat Karang dengan cepat mengangkat wajah lalu...
Buggg
Benda keras terlempar tepat mengenai dahinya disusul dengan suara patung besi yang jatuh bergelontangan. Karang memejamkan matanya, merasakan sakit yang teramat di kepala. Kelopak matanya mencegah agar darah yang bercucuran itu tak masuk ke dalam mata. Mengerang tak bersuara berusaha mempertahankan postur tubuhnya.
"Maaf, Ayah," ucapnya lirih. Ini pasti karena semalam dirinya ketahuan pulang malam, atau absen les sore.
David mengerutkan keningnya, tangannya memegang pangkal hidung meminimalisir rasa pusing yang menjalar. "Kamu ngga bisa menyelesaikan kerjaan gampang seperti itu? Memalukan! Kamu sudah malu maluin saya di depan rekan kerja!"
Karang mengangkat wajah, masih tak paham alasan David sangat marah. "Ella itu putri semata wayang Tirto yang benar dia jaga tapi kamu... Kamu tidak mengantar pulang dengan selamat malah meninggalkan dia sendirian?! Lelaki macam apa kamu! Saya dianggap gagal mendidik anak laki-laki! Mau ditaruh mana muka saya?!" David meninggikan suaranya, urat wajahnya terlihat menonjol.
Dengan pandangan yang sudah berkunang, Karang hanya bisa menggigit bibir merunduk dalam dalam. Berharap ia segera keluar dari ruangan.
"Pulang larut malam, bolos bahasa Mandarin, besok apa lagi?! Papa sekolahkan kamu di Swadaya agar menjadi nomor satu bukan malah mencontoh para berandalan berandalan miskin itu! Ingat, kamu berbeda dengan mereka!"
"Maaf yah, Kar—"
"Orang sepertimu harus diberi pelajaran, Karang."
Karang reflek mengangkat wajah, membulatkan mata, menggeleng cepat. Tubuhnya meremang saat itu juga. "Ngga, jangan! Karang janji ngga akan kejadian hal kaya gini lagi," Karang memohon.