OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
"Liat dia doang udah capek. Bajunya pagi-pagi udah berantakan. Ngomong terus, mulutnya kayak mesin pemotong rumput. Trus, kalo siang habis ibadah, dia sering bawa sandal beda-beda ke kelas. Pasti ada ... aja yang dateng ke kelas buat nyari Avisena, cuma buat ambil sandal doang," jelas Karang menyebut kebiasaan Avi yang menurutnya terlalu rusuh.
"Belum jam sembilan pagi, tubuh dia udah keringetan semua," lanjutnya. Bibir Lara sedikit mencebik. "Tapi Aviku wangi," ucapnya.
"Kakak kamu," ralat Karang cepat, tidak suka kalau Lara menyebut Avi sebagai 'Avinya'.
"Aku kira aku doang yang mikir Avi aneh," kata pemuda itu.
"Gimana caranya, ya? Biar Avi diem?" tanya Lara mulai tertarik untuk memperbaiki kebiasaan kakaknya yang tidak bisa diam.
"Avi itu kebanyakan gula kayaknya. Menurut buku yang aku baca, energi tubuh kita itu dipengaruhi oleh glukosa. Avi kan sering makan banyak permen, banyak gulanya."
"Aku yang sering beliin Avi permen. Apa aku kurangi aja, ya?"
Ya, Lara tidak pernah melewatkan permen kakaknya setiap kali dirinya berkesempatan lewat warung, atau supermarket mana pun. Setiap melihat permen, yang selalu dia ingat hanya Avisena.
Kepangan rambutnya selesai. Lara membawa rambut yang baru Karang kepang itu ke depan, menatapnya kecewa. "Jelek, ya? Lain kali aku belajar lagi. Nggak sebagus kepangan Gege atau Avi, tapi nanti aku yakin, kepanganku bakal lebih bagus dari mereka." Lara tersenyum senang. Mengangguk kuat setelahnya.
Tak lama kemudian, Avi datang dengan tampilan berantakan khasnya. Seperti kata Karang tadi, tubuh Avi selalu berkeringat seolah baru saja melakukan lari maraton berkilo-kilo meter. Dibantingnya pintu setengah terbuka di ruang tamu itu, lalu begitu mendapati Karang dan Lara di sana, alis Avi menukik.