READY STOCK

883 50 0
                                        

siapkan yang maniezzz maniezzz dulu sebelum lanjut sesuatu yang maniezzz jugaaaa 😊

-

seberapa kangen sama SFBW???
susah move on atau gampang move on???
dpet nangis berapa ember???

-

-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-




"Separah itu?"

Lara mengangguk kuat, "makanya aku nggak suka dicium Avi. Pipinya kena iler semua. Kadang tiba-tiba jilat pipi aku, digigit sampe merah pun pernah."

Karang bergidik ngeri. Gerakan tangannya yang sedang mengepang rambut Lara terhenti sejenak. "Dulu pas hari pertama sekelas sama dia, aku juga takut."

"Kenapa? Muka Avi serem?"

Karang merapatkan bibir. "Badannya kayak timelapse sendiri."

Lara mengerjap, apakah kakaknya benar seenergik itu?

"Liat dia doang udah capek. Bajunya pagi-pagi udah berantakan. Ngomong terus, mulutnya kayak mesin pemotong rumput. Trus, kalo siang habis ibadah, dia sering bawa sandal beda-beda ke kelas. Pasti ada ... aja yang dateng ke kelas buat nyari Avisena, cuma buat ambil sandal doang," jelas Karang menyebut kebiasaan Avi yang menurutnya terlalu rusuh.

"Belum jam sembilan pagi, tubuh dia udah keringetan semua," lanjutnya. Bibir Lara sedikit mencebik. "Tapi Aviku wangi," ucapnya.

"Kakak kamu," ralat Karang cepat, tidak suka kalau Lara menyebut Avi sebagai 'Avinya'.

"Aku kira aku doang yang mikir Avi aneh," kata pemuda itu.

"Gimana caranya, ya? Biar Avi diem?" tanya Lara mulai tertarik untuk memperbaiki kebiasaan kakaknya yang tidak bisa diam.

"Avi itu kebanyakan gula kayaknya. Menurut buku yang aku baca, energi tubuh kita itu dipengaruhi oleh glukosa. Avi kan sering makan banyak permen, banyak gulanya."

"Aku yang sering beliin Avi permen. Apa aku kurangi aja, ya?"

Ya, Lara tidak pernah melewatkan permen kakaknya setiap kali dirinya berkesempatan lewat warung, atau supermarket mana pun. Setiap melihat permen, yang selalu dia ingat hanya Avisena.

Kepangan rambutnya selesai. Lara membawa rambut yang baru Karang kepang itu ke depan, menatapnya kecewa. "Jelek, ya? Lain kali aku belajar lagi. Nggak sebagus kepangan Gege atau Avi, tapi nanti aku yakin, kepanganku bakal lebih bagus dari mereka." Lara tersenyum senang. Mengangguk kuat setelahnya.

Tak lama kemudian, Avi datang dengan tampilan berantakan khasnya. Seperti kata Karang tadi, tubuh Avi selalu berkeringat seolah baru saja melakukan lari maraton berkilo-kilo meter. Dibantingnya pintu setengah terbuka di ruang tamu itu, lalu begitu mendapati Karang dan Lara di sana, alis Avi menukik.

Sea For Blue Whales [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang