VOTE COVER

1.9K 103 22
                                        

Happy reading dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy reading dulu....

-

Alis Aige bergerak tidak tenang. Ia terbangun, mengedarkan pandangannya pada penjuru kamar. Pemuda itu mengerjap lemah.

Terang.

Kamarnya terang. Cahaya dari luar kamar pun menyelinap lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Aige memicingkan mata, mengangkat tubuh untuk duduk dan membiarkan pandangannya terbiasa. Perasaan aneh mencengkeram ulu hatinya. Selama dua tahun terakhir, rumah ini selalu tenggelam dalam warna kusam. Lampu-lampu dibiarkan redup. Kasur, dinding, lantai, semuanya seperti menyerap bayangan.

Sejak adik bungsunya pergi, rumah ini seolah tidak memiliki kehidupan. Namun saat ini, cahaya putih mengisi sudut ruangan dengan penuh.

Aige turun dari tempat tidur, kaki telanjang menyentuh dingin ubin putih. Ia berjalan langkah demi langkah, masih meragukan apa yang dilihatnya.

Ia menuruni anak tangga perlahan, punggungnya menegang, napasnya tertahan. Begitu mencapai lantai bawah, ia terhenti. Seluruh ruang tengah terang benderang. Lampu tengah yang semestinya mati karena bola lampu yang tidak diganti sejak berbulan bulan lalu, menyala begitu terang.

Aige mengernyit bingung antara percaya dan tidak percaya. Lalu sesaat setelah ia mengedarkan pandangan, Aige terpaku.

Ia melihatnya.

Sosok gadis mengenakan dress putih dengan lengan panjang. Rambutnya tergerai lebat. Berdiri di atas kursi kayu dengan kakinya yang berjinjit. Tangannya meraba, menjulur menggapai rak tertinggi. Mencari-cari sesuatu jauh di bagian rak terdalam.

Lalu ketika jari-jarinya menemukan bungkus bening berisi permen jeli warna-warni, ia menariknya turun dengan gerakan kecil penuh kemenangan.

Itu Kalara, adiknya.

Seluruh ototnya terasa membeku. Matanya memanas, dadanya berubah sesak.

Sudah terlalu lama ia tidak melihat adiknya. Gadis itu biasanya datang dalam mimpinya, tetapi sudah lama tidak melihatnya lagi.

Dan ketika muncul, kehadirannya bagai kabut yang memudar sebelum Aige sempat meraih.

Lara turun dari kursi, tanpa ragu ia menuju kulkas dan membukanya. Cahaya kuning dari dalam kulkas menyebar, memantulkan kulit putih hangatnya. Ia mengeluarkan setengah potong semangka, menutup pintu itu lalu bergerak menyendok semangka dengan satu suapan penuh.

Ia duduk di bawah membuka kemasan permen jeli dan mencampurnya bersama semangka tersebut seperti kebiasaan yang masih menjadi favoritnya. Sesekali rambut tebalnya itu menjuntai turun, menganggu acara makannya itu.

Sesaat kemudian, Aige mendekat. Langkahnya nyaris tak terdengar. Menurunkan tubuh berjongkok di dekat Lara yang terduduk di lantai itu.

"Enak, ya?" tanya Aige meletakkan dagunya di atas lipatan tangan. Matanya mulai berkaca.

Sea For Blue Whales [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang