OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
aku selalu menulis dengan racikan dari hati buat kalian, jadi sebelum mulai war PO, baca yang manis manis dulu 😊
-
Udara sore mengalir sejuk, membawa aroma tanah basah dan kayu pinus yang masih melekat pada papan-papan bangunan yang belum sepenuhnya kehilangan bau barunya. Riuh ramainya orang-orang di dalam rumah itu membuat suasana kian hangat. Termasuk Karang yang tidak henti-hentinya melebarkan senyum saat ia mengangsur satu per satu barang dalam kotak.
Namun, saat tiba di ruang tengah, langkahnya terhenti saat ia melihat seorang gadis yang kini tengah fokus menata miniatur paus di atas kain biru yang ia gelar rapi sebagai laut. Ia terhenyak, menatap Lara dengan dada yang terasa penuh. Ia sangat bersyukur-rasanya seperti mimpi. Ia tidak menyangka akhirnya rumah impian yang menjadi angan mereka beberapa tahun lalu kini benar-benar nyata. Dan yang tidak kalah penting, ada Lara bersamanya.
"Biar saya yang bawakan, Mas," tawar asistennya hendak membantu sang tuan muda membawakan barang.
Karang tersentak kecil, lalu menggeleng pelan, mencegah pria berumur empat puluh tiga tahun itu mengambil kardus yang ia bawa. "Aku bisa sendiri."
"Karang."
Panggilan dari Aige membuat pemuda itu segera bergerak ke meja dapur terang di belakang. "Kenapa?"
Aige menghela napas panjang sembari berkacak pinggang. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, ia langsung mengecek semua ruangan-mempertimbangkan letak barang dan kesibukan yang lain. Ia tampak kesulitan menentukan harus memulai pembicaraan dari mana.
"Gue paham kalo jendela gede ini ide Lara. Tapi kalo pagi atau lagi musim dingin, jangan sering dibuka. Lara gampang masuk angin kalo kedinginan. Kulitnya bisa muncul ruam kalo parah. Terus ini..." Aige membuka salah satu laci di dekat sana.
"Jangan naro pisau di laci di bawah gini. Lo taruh aja di lemari gantung. Kadang Lara itu suka ngeyel kalo mau bantu masak, pegang pisau nanti bisa luka." Karang mengangguk mengerti.
"Kalo pagi, Lara cuma mau sarapan pake telur mata sapi yang setengah mateng. Dia nggak mau makan kalo kuning telurnya pecah, jadi lo harus belajar masak telur yang Lara mau. Jangan biarin dia minum air dari kulkas pagi-pagi. Intinya, sebelum Lara bangun, lo udah buatin dia susu anget. Kalo lagi nggak ada, air putih anget bisa. Yang penting nggak dingin."
Aige berbicara sembari menata beberapa peralatan dapur. Karang yang takut melewatkan catatan penting, berinisiatif merekam pembicaraan Aige sembari mengekorinya dari belakang.
"Suruh Lara mandi kalo udah agak siangan. Kalo mandinya pagi, dia gampang keringetan lagi. Jadi biasanya biarin dia mau aktivitas apa dulu, baru kalo udah capek, suruh mandi. Terus... apalagi? Oh iya, minyak telon harus ada di kamar mandi. Itu Lara pasti pake setelah mandi. Dia nggak betah kalo kedinginan. Habis mandi air hangat pun tetep dingin kena angin-apalagi kalo hawanya di deket bukit gini. Paham? Kalo lo bingung, bisa calling gue aja."