OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku bersumpah, Lara. Aku akan merengkuh setiap retak dalam hatimu, menghapus setiap bulir bening di pipimu, dan tak membiarkanmu tenggelam dalam sepi."—Karang.
🐋🐋🐋
Lara bersungut. Diam menarik ujung baju Karang mengekorinya dari belakang. Sungguh Lara tidak tahu Karang membawanya ke taman main untuk apa. Pemuda itu tak mengatakan perihal apa pun sebelumnya.
Mungkin kebiasaan Lara satu ini sedikit aneh. Gadis itu selalu takut kesasar ditempat ramai. Dia juga selalu terganggu dengan bunyi berisik. Membuatnya tak nyaman dan sangat menyebalkan baginya.
Karang yang tadi menyadari gelagat Lara saat menarik ujung seragamnya juga sempat terheran. Pemuda itu menawarkan untuk bergandengan setelah izin, namun Lara menolak. Gadis itu sedikit marah karena Karang yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Tepat mereka sampai di play ground, langkah Karang terhenti. Memandang lurus arah perosotan sembari membuang nafas dalam. Cukup lama, membuat Lara yang sedari tadi kebingungan ikut memandangnya. Ia rasa, tempat ini seperti tak asing baginya?
"Sebenernya kita mau ngapain?" tanya Lara heran. Beberapa detik setelahnya, Karang baru menoleh. Tersenyum tipis menatap penuh arti.
"Kita harus banyak berterimakasih dengan tempat ini, Ra," katanya lirih.
Lara menyatukan alis. Masih tak paham. Memilih mengedarkan pandangan lalu melangkah arah ayunan dan mendudukkan bokongnya untuk bergelayut kecil. "Kenapa? Karena pas kecil tempat main kaya gini yang ngehibur kita?" tanya Lara asal beralibi.
Karang melangkah mendekat. Duduk di satu ayunan sebelah Lara. Kakinya yang panjang itu juga menggerakkan kecil untuk berayun.
Terjadi keheningan pada keduanya. Sampai pada saat Karang mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Ia sempat menatapnya lama. Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya. Bagaimana ia tak menyangka pemilik dari plester biru lusuh lima tahun lalu itu sekarang benar ada di samping dirinya. Ditempat yang sama pula awal mereka bertemu.
Lain halnya dengan Lara. Gadis itu sedang sibuk mempertanyakan sebenarnya apa hubungan yang sedang mereka jalani. Kenapa Karang bisa bersedia menjadi lautnya? Karang yang tiba-tiba peduli dengannya seolah pemuda itu memang ditakdirkan untuknya? Bukankah mereka baru saling mengenal? Kenapa Lara merasa Karang sangat memahaminya seperti pemuda itu mengenalinya sangat lama?
"Kalara..."
"APA?!" sambar Lara reflek.
Karang terperanjat kecil. mengerjap memandang Lara dengan ekspresi kagetnya. Lara yang menyadarinya itu berdeham kecil merasa canggung. Harusnya Lara tak langsung marah begini bukan, sih?
"Kamu marah?" tanya Karang lembut.
Lara meneguk ludahnya susah payah. Suara halus Karang membuat semua orang merasa tak tega untuk membuat nada tinggi dengan pemuda itu. Apalagi tatapan tenangnya. Ah, sudahlah. Lara menyerah. Pesona Karang memang sukses membuat siapa pun akan terhipnotis dengan mudahnya.