OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lara bergerak gusar. Memegang tab di tangannya yang muncul keretakan agak parah pada layar. Sedari tadi dirinya gugup di depan ruang televisi. Sementara itu, Aige yang berada di meja makan sedang memotong kacang panjang jadi terkekeh. Lucu melihat Lara dengan ekspresi kalut.
"Nanti dimaafin engga?" tanya Lara untuk kesekian kalinya.
Aige tertawa, "menurut Lara gimana?"
Bibir Lara melengkung," dimarahin..." terkanya sudah berprasangka.
"Ngomong baik-baik sama Avi."
Lara semakin merengek, tangisnya hendak tumpah. Ia kesal dengan kakak sulungnya bagaimana pemuda itu nampak santai seolah sedang mengejek dirinya yang ketakutan sekarang.
"Ya tapi Avi kan orangnya—"
"Assalamu'alaikum," suara Avi terdengar dari ruang depan.
Dengan buru-buru, Lara berdiri. Matanya melebar panik. Berlari kecil menghampiri Avi lebih dulu. Langkah Avi sudah sampai ruang tengah jadi terheran. Menatap Lara khawatir saat mendapati wajah adiknya hampir menangis.
"Kenapa?" tanya Avi cepat. Ia jadi melirik Aige, memberi tatapan menghujam. Lebih dulu menyimpulkan apa yang terjadi.
"Lo apain? Dimarahin lagi?" tanya Avi dengan alis menyatu.
Aige mencibir, menggerakkan dagu untuk menanyakan langsung pada Lara.
"Avi..." lirih Lara tersendat. Tangan kecilnya menyembunyikan i pad itu di belakang tubuhnya.
Avi mengernyit, merasa tidak enak dengan ekspresi wajah itu. Perasaannya sudah mencelos saat ini.
"Apa?" tanyanya tak santai.
"Avi janji ngga boleh marah dulu."
"Ya kenapa? Bilang dulu!"
Dengan sekali tarikan nafas yang naik satu oktaf itu Lara jadi menciut. Terisak hendak menangis.
"Jangan dibiasain nangis kalo minta maaf. Bilang dulu, jujur apa salahnya. Berani berbuat berani tanggung jawab, Kalara," ucap Aige mengomeli.
Bibir Lara semakin melengkung ke bawah. Dengan susah payah ia mengatur nafasnya agar tidak memecahkan tangisnya.
"Ini... aku ngga sengaja," Lara mengeluarkan i pad Avi dari persembunyian. Menyalakan layar retak itu sampai muncul garis bermacam warna. Tanda jika layar i pad itu sudah parah kerusakannya.
Lantas, mata Avi melebar tak santai. Bibirnya tenganga, lidahnya kelu untuk mengucapkan sepatah kata apa pun. Dia sampai diam beberapa detik, menyambut i pad kesayangannya itu dengan perasaan runtuh.
Aige di sebrang jadi tertawa. Ekspresi Avi seperti dugaannya.
"GEGE!!!!!" teriak Avi langsung berjalan lemas ke arahnya. Alih-alih ia memarahi Lara, Avi sudah tidak memiliki tenaga.