33. Artis Dadakan Katanya

9.2K 544 8
                                        

Lara menghelaikan nafasnya lelah. Tadi upacara, setelahnya kembali pelajaran. Tapi bukan itu yang membuat lelah, melainkan social butterfly nya sudah habis. Ia tidak terbiasa dikerubungi banyak orang dan mengajaknya bicara. 

Kini semua orang benar-benar penasaran dengan dirinya. Di koridor, saat upacara, bahkan hanya ke kamar mandi, semua orang menyempatkan menoleh padanya meski hanya beberapa detik. Bahkan menoleh secara terang-terangan. Memanggil namanya padahal dirinya sama sekali tak kenal.

Belum sampai disitu, anak-anak kelas yang dulunya sama sekali enggan mengajaknya bicara tiba-tiba berubah. Bergelayut sok akrab dan terus menanyai dirinya.

"Kak Avi kalo dirumah gimana? Lo tiap hari seneng ngga bisa liat mukanya Aige Avi?"

"Kok kak Aryan bilang lo berharga buat dia? Denger-denger sih emang kak Aryan temennya Avi sedari kecil. Berarti lo juga dong,"

"Instagram lo apa? Gue follow jan lupa follback ya?"

"Eh lo sering diajak nongkrong sama Avi ngga? Kenal Juan anak sekolah sebelah? Dia ceesnya Avi juga kan?"

Dan pertanyaan  banyak lagi sampai membuat Lara kewalahan sendiri dibuatnya. Ia menjawab, karena ingin memperbaiki dunia sekolahnya yang sudah perlahan normal sekarang. Tetapi sepertinya itu tak terlalu biasa untuk Lara. Jadi perlu beradaptasi.

Jam istirahat telah berbunyi. Lara tak berniat untuk pergi ke kantin untuk mengisi perut. Jujur, ia merasa sedikit trauma. Mungkin diam diri di kelas lebih baik.

"Lara, ke kantin ngga? Ayo bareng kita," ajak salah satu perempuan kelas mereka. 

Adisty, Jesya, dan Sella yang sedari pagi menatapnya tak suka memberi tatapan jengah. Keluar dari kelas dengan perasaan dongkol. Lara yang mendapatkan tatapan sinis itu hanya bisa meneguk ludahnya. Tak apa, kini Lara bisa sedikit menghindar dengan potensinya sekarang.

Gadis itu menggeleng, menolak ajakan. "Ngga, gue di kelas aja,"

"Ih kok gitu?! Ayo, biar orang bisa liat kalo lo temen kita," decak salah satu dari mereka.

"Kalo anaknya ngga mau ngga usah maksa," 

Suara itu terdengar dingin. Mereka semua langsung menatap kearah sumber suara. Mengetahui siapa yang berbicara, mereka melotot kaget, terkejut dengan kedatangan seseorang yang sama sekali tak terduga.

Tahu? Selena Pramodeya Soetomo, gadis yang di kenal ketus dan tak pernah terlihat berkeliaran di sekolah itu datang ke kelas sepuluh. Berdiri di depan pintu melipat kedua tangannya dengan Rosa dan Jihan di belakang mereka.

"K-kak Selena?" 

"Ayo ke kantin. Kita punya meja vip, gue pastiin ngga ada yang ngusik," ajak Selena mendekat kearah bangku Lara. Anak lain reflek memberi jalan. Menganga tak percaya karena untuk pertama kalinya menatap kecantikan wajah Selena sedekat ini. Selebgram dengan jutaan followers yang namanya melambung karena kecantikan dan life style nya yang mewah. 

"Ayo, masa lo ngga mau ngucapin permintaan terimakasih sih ma gue... effort loh pagi-pagi langsung ke rumah lo," rengek Rosa membujuk. Sementara Jihan di belakangnya malah sibuk menatap sinis pada beberapa perempuan yang tadi mengajak Lara ke kantin.

"Lo semua suka ganggu Lara?" tanya melipat tangannya depan dada, maju selangkah menunjuk persis di depan wajah mereka. Membuat mereka reflek mundur, memandang kalut. "E-enggak kak..."

"Engga, orang kita juga ngga pernah deket," celetuk yang lain. Jihan mengernyit, mendekat kearah orang yang barusan berucap. "Jadi lo semua ngga pernah nemenin? Tau sekarang dia siapa jadi sksd? Cih, najis," kata Jihan berdecih membuang wajahnya sesaat.

Sea For Blue Whales [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang