Happy reading
-
-
Lara bahkan bisa melihat, Bianca adalah pelakon handal yang begitu lihai memainkan dramanya. Bagaimana dia bisa dengan cepat merubah ekspresi wajah menyesuaikan keadaannya.
Lara sama sekali tak larat tatkala melihat wajah Bianca yang menangis dengan menceritakan segala skenarionya yang dibuat-buat. Bahkan terdapat beberapa saksi palsu yang ikut membelanya.
Adisty, Jesya, dan Sella memang salah. Tapi Lara bisa melihat seberapa putus asanya mereka saat berusaha mengatakan kalau Bianca adalah dalang dari semuanya.
Bianca, dia seperti iblis yang menyamar menjadi seonggok manusia.
Beberapa jam Lara duduk di kursi itu, sampai pantatnya terasa kebas bukan main. Melihat mereka semua diadili dengan satu orang pelaku utama yang berangan menjadi korban. Sama seperti dirinya.
Lebih gilanya lagi, Bianca membuat beberapa luka sayatan yang dia buat sendiri agar semua orang mempercayainya. Sebagai bukti yang membuat semua orang dalam ruangan itu dengan mudah percaya dengannya.
Adisty, Jesya, dan Sella memohon padanya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Lara. Korban yang asli. Namun, lidah Lara terlalu kelu. Dadanya sesak dengan tenggorokan yang tercekat hebat sekedar bertatapan atau satu udara dengan mereka semua.
Bayangan gelap malam dan dinginnya tubuh yang terluka memar dimana-mana itu berputar di otaknya. Sangat seram. Sungguh. Lara bertaruh atas hidupnya untuk itu.
Memakan waktu yang lama sampai Lara akhirnya bisa melenggang pergi di ruangan itu. Ditatih oleh Aige, Lara kembali mengosongkan pandangannya. Ia tak tahu bagaimana menghadapi keesokan hari seperti kemarin-kemarin.
Bahkan Bianca, Lara yakin gadis itu tak sepenuhnya hilang dari hidupnya. Akan terus menghantuinya setelah ini. Semua belum berakhir. Penderitaannya pasti tak hanya sampai disini.
Saat Lara sampai di depan pintu, mata Lara yang lemah itu terkejut begitu mendapati Karang yang berdiri menjulang di samping pintu. Sekujur tubuh Lara terasa meremang, tak sepenuhnya percaya dengan apa yang dia lihat dengan kedua mata kepalanya. Perasaan senang bercampur sedih menjadi satu.
Mata Lara membulat sempurna. Butuh beberapa detik untuk Lara menyadarkan bahwa Karang di depannya itu bukanlah sebuah ilusi seperti beberapa waktu lalu. Sampai Lara yakin, Karang di depannya itu nyata.
Sepasang mata teduh yang sangat ia rindukan. Lara terus memandang setiap inci wajah Karang.
Namun, Karang disitu hanya diam, tak seperti Lara yang memandang penuh harap diselimuti kerinduan.
Hal berikutnya yang membuat Lara hancur melebur tatkala Karang meraih tubuh Bianca yang tertunduk lemas alih-alih menanyakan kabarnya.
Dada Lara terasa seperti disayat-sayat. Rasanya perih sekali. Gadis itu merasakan jantungnya berdegup seperti biasanya. Tapi saat melihat tangan Karang merangkul pada pundak Bianca, ada rasa nyeri yang menjalari tubuhnya.
Kelopak mata Lara bergetar. Berusaha sekuat mungkin menahan songkongan tubuhnya. Terlalu banyak pertanyaan dalam otaknya, sampai pada saat Aige yang menuntunnya untuk segera pergi dari sana. "Lupain, Ra. Dia bukan lelaki baik," ucapnya tajam. Aige sudah tau dari Avi.
"Karang..." panggilnya lirih. Ucapan pertama Lara setelah bungkam hampir empat hari terakhir. Ia masih belum memutuskan pandangannya.
Karang menatapnya. Berusaha terus menguasai ekspresi wajahnya. Diam tak mengatakan apapun. Hanya memandang dengan datar. Yang selanjutnya pemuda itu menuntun Bianca pergi dari hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sea For Blue Whales [TERBIT]
RomanceOPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀 "Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
![Sea For Blue Whales [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/363310472-64-k374265.jpg)