OPEN PO 23 FEBRUARI - 15 MARET 📚🐋🎀
"Kamu pernah bilang kalau kamu lautku Karang. Seperti namaku, Lara. Kita akan tetap bertemu ditepi saat semua orang mengutarakan lukanya dengan laut. Kamu adalah penyembuh Lara. Kita akan selalu bertemu Karang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
seperti yang kalian minta, jan marahin aku yaaa.... Happy reading ><
-
Lebih dari tiga puluh menit Avisena hanya berdiri memandangi seberang kamarnya lamat-lamat. Ia seperti tengah berhadapan dengan luka lama yang dibiarkan mengering di permukaan, tetapi perih tiap kali disentuh oleh ingatan.
Setiap kali ia pulang ke rumah setelah berbulan-bulan di perantauan kuliahnya, pandangannya selalu berhenti di sana lebih lama. Seluruh kenangan yang belum pernah benar-benar ia relakan. Tiga tahun berlalu, tetapi rasanya tetap sama seperti satu hari setelah ia kehilangan adik perempuannya.
Dadanya mulai merasa sempit, bahkan sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, napasnya terasa berat. Begitu pintu terbuka, kamar yang biasanya menguar wangi manis itu tergantikan dengan bau debu apek yang samar.
Avisena meneguk ludahnya perlahan, bergerak meraba saklar lampu dinding. Bunyi klik terdengar berkali-kali tetapi tanpa hasil. Gelap, hanya bayangan furnitur yang samar.
"Mungkin saklarnya mati, belum gue ganti," dari belakang, suara Aige terdengar pelan. Ia sudah mengamati Avi sedari tadi.
Rahang Avi mengeras, bukan marah pada Aige, melainkan pada keadaan yang membuat hal sekecil ini terasa menyakitkan. "Lara nggak suka gelap, lo nggak boleh lupain hal itu," ucapnya tajam lalu segera mengambil lampu baru, menggantikannya dengan lampu lama itu dengan tangan sedikit gemetar.
Begitu lampu menyala, kamar itu muncul utuh di hadapannya, terlalu utuh untuk ruang yang sudah kehilangan pemiliknya, terlalu rapi untuk sesuatu yang telah lama sunyi.
Avi, jangan naik ke kasur!
Aku nggak mau cerita paus yang sedih-sedih.
Ikat satu ya?
Paus apa? Namanya paus apa? Avi kalau diceritain itu nggak pernah didengerin.
Avi boleh tidur di kamar aku, tapi dimaafin ya?
Avi baik, aku sayang Avi, sampai ratusan kali Avi bilang Avi benci aku, aku tetap yakin kalau Avi akan masuk kamae aku lalu bawain banyak permen supaya aku maafin Avi, sekalipun itu aku yang salah.
Mata Avi mulai memanas. Lantas, ia perlahan turun dari kursi pijakannya. Melangkah ke arah lemari pakaian lalu membuka pintunya perlahan. Deretan dress panjang milik Lara langsung menyambut pandangannya, tersusun rapi seperti dulu, warna-warna lembut yang pernah meleat di tubuh kecil adiknya kini hanya menggantung tanpa makna.
Avi mengangkat salah satunya, membiarkan kain itu jatuh di telapak tangannya, dan seketika bayangan Lara yang setiap kali memakai dress dress pilihannya itu terasa begitu nyata sampai membuatnya terasa sakit.
Yang benar ia sadari adalah wangi Lara yang dulu selalu memenuhi kamar ini mulai menghilang, memudar pelan seperti kenangan yang takui ia akui mulai menipis.
Dengan gerakan hampir panik, ia meraih botol parfum kecil yang tersisa setengah di meja rias, menyemprotkannya ke udara, ke gaun-gaun sederhana itu, seluruh ruangan, berharap dengan cara itu ia bisa membohongi dirinya sendiri bahwa Lara hanya sedang pergi sebentar dan akan kembali kapan saja.
Perlahan, Avi baik ke atas kasur, meraih boneka paus Lara dan memeluknya erat. Ia akan tidur disini. Lantas, ia memejamkan matanya perlahan, melepas penat dengan mengirup wangi khas Lara yang baru ia pulihkan barusan. Namun dia selalu kalah.
Seperti perpulangan-perpulangan sebelumnya, tangis itu kembali pecah tanpa bisa ia bendung. Bahunya bergetar hebat, napasnya tersengal, suara isaknya tertahan di dada yang terasa penuh oleh kehampaan yang tidak pernah benar-benar terisi kembali.
Hidup tanpa Lara terasa seperti ruangan luas yang kosong, bergema setiap kali ia mencoba mengisinya dengan apa pun. Di balik pintu yang tertutup rapat, tanpa Avi sadari bahwa kakak sulungnya tengah bersandar diam dengan telinganya yang menempel di pintu. Pandangannya menatap kosong lantai, dadanya ikut terasa sesak setiap kali mendengar tangisan itu.
Karena ia tahu bahwa bukan hanya Avisena yang belum pernah benar-benar rela kehilangan Lara, melainkan dirinya juga. Dan mungkin mereka akan terus seperti ini untuk waktu yang sangat lama.
-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.