11.Yeager

23 4 18
                                        

Perasaan cemas dan takut bercampur jadi satu-itu yang Luca rasakan.
Mobil Kia Rio itu masih terparkir di depan toko bunga milik Enola, dengan pemilik toko bunga masih tergeletak tidak sadarkan diri di belakang kursi penumpang.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Bagaimana kalau tiba-tiba Eldon datang? Aku tidak mungkin meninggalkan Enola dalam keadaan seperti ini-"

"Argh-sial!" Luca menjatuhkan kepalanya pada setir kemudi. Dirinya sudah berusaha membangunkan Enola, namun usahanya sia-sia karena gadis itu tak kunjung sadar.

Drt-

Suara getar ponsel terdengar dari dalam tas bahu milik Enola.
Dengan cepat Luca mengambilnya, lalu membaca nama penelpon diseberang sana.
Tertulis "Uncle Haley" ragu-ragu Luca berpikir antara menjawab atau mengabaikan panggilan tersebut.

|Halo-

Luca memilih untuk menjawabnya.

|Halo Nol-kau kah itu?

|Ah-halo. Maaf lancang, saya teman
|Enola.

|Maaf, kalau saya boleh tahu
|mengapa
|ponsel Enola ada pada mu?

|Itu-

Luca berhenti berbicara. Pikirannya kacau. Luca tidak tahu alasan apa yang harus ia berikan pada penelepon di seberang sana.

|Halo, apa kamu masih disana?

|Maaf, dapatkah anda menelepon lagi
|nanti? Aku akan memanggil Enola-

Panggilan diputuskan sepihak oleh Luca. Dada Luca terlihat naik turun. Sekarang Luca tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya lelaki itu ingin menangis sambil memeluk-

"Kakek." Tiba-tiba siluet sang Kakek muncul dalam kepala Luca.
Bagaimana Luca bisa lupa?
Dirinya masih punya Zoe Yeager Oliver, yang merupakan satu-satunya kerabat yang ia miliki, sekaligus yang telah merawat dan membesarkannya sedari kecil.

Dengan segera jari-jari Luca mulai mencari nama kontak yang dimaksud.
Setelah ketemu, tanpa menunggu, layar hijau segera digeser Luca.
Tepat pada deringan ke tiga, suara berat disebarang sana menerima panggilannya.

|Tolong Luca Kek-

....

|Luca pov

Keringat dingin pada kedua telapak tanganku perlahan-lahan mulai mengering. Detak jangtung ku pun tidak lagi secepat tadi.

Pada akhirnya aku harus sekali lagi kembali berterimakasih kepada Zoe Yeager Oliver yang merupakan Kakek sambungku-orang yang sebenarnya paling aku hindari untuk dimintai bantuan.
Namun, mau bagaimana lagi? Disaat genting seperti ini hanya Zoe yang dapat menolongku.

Aku sungguh tidak suka bagaimana cara Zoe menatapku saat tahu kalau ada satu lagi masalah yang kubuat dan ia harus membereskannya.
Walaupun tidak langsung dibereskan oleh dirinya, melainkan beberapa orang antek-anteknya-tetap saja semua itu adalah campur tangan Zoe. Jika tidak bagaimana antek-anteknya itu mau bergerak untukku?
Mereka hanya tunduk pada tua bangka itu.

"Belajarlah untuk dewasa Walter. Kau adalah satu-satunya keturunan Walter yang tersisa."

Selalu kalimat itu yang Zoe lontarkan ketika aku sedang dalam masalah.
Kedengarannya seperti kalimat biasa, tapi itu selalu menyakitkan bagiku.

"Keturunan Walter satu-satunya-"

Apakah Zoe tahu kalau aku juga tidak ingin menjadi satu-satunya yang tersisa-kalau saja si bodoh itu tidak melakukan percobaan bunuh diri kepada seluruh keluarganya.

V I R G O Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang