22.Virgo

10 5 9
                                        

Enola terdiam di sudut tempat tidur. Matanya memandangi detik demi detik jarum jam yang berjalan.
Tinggal beberapa menit sampai jarum jam itu berhenti di angka 00.00, yang mana tandanya seseorang akan datang menghampiri.

Hari ini cukup melelahkan bagi Enola. Mulai keluar dari rumah sakit, melihat perkelahian kecil antara Eldon dan Javier, yang membuat dirinya harus mendiami Eldon, lalu berakhir dengan membantu Halley membereskan halaman belakang.

Bukan karena Enola membela Javier, gadis itu hanya ingin mengajarkan bagaimana harus bersikap sabar, dan menahan emosi kepada orang yang lebih tua—tentu hal itu berlaku pada Eldon.
Sudah Enola ingatkan berulang kali, kalau umur Javier jauh diatasnya, yang berarti Eldon pun harus menghormati Javier. Namun berulang kali Enola mengatakan hal itu, Eldon tetap saja membantah dengan alasan, Javier pantas mendapatkan semua itu.

"Hah—" Hembusan nafas panjang keluar dari bibir Enola. "Berapa lama lagi?" Rupanya Enola menunggu Virgo. Malam ini gadis itu ingin menuangkan semua isi hatinya kepada Virgo. Saat ini hanya Virgo yang dapat mendengarkan semua keluh kesahnnya.

"Enola—" Tubuh Enola menengok ke samping. Di dekat ranjang, Virgo sudah berdiri disana dengan setelan yang sama.

"Akhirnya kau datang juga." Senyum Enola berikan saat tahu kalau laki-laki itu sudah ada disana. "Aku menunggu mu—kemarilah." Enola menepuk tempat kosong di sampingnya. Meminta laki-laki itu mendekat dan duduk di sampingnya.

"Kau menunggu ku?"

"Iya. Ada yang ingin ku ceritakan—" Percakapan mulai dibuka dengan Enola yang menceritakan semua hal yang dilaluinya hari ini. Gadis itu juga bercerita, bagaimana dirinya kembali menghampiri "Virgo" kecil yang saat itu berada di rumah sakit.
Penuh semangat Enola bercerita. Ia juga mengatakan, betapa kesalnya ia terhadap Eldon, yang selalu saja mencari perkara dengan Javier.

Virgo hanya mendengarkan. Tidak ada kalimat yang dikeluarkan oleh laki-laki itu. Dirinya hanya menatap wajah antusias Enola saat bercerita. Bahkan ekspresinya pun tetap datar. Sampai dahinya mengerut, karena tiba-tiba Enola terdiam tidak lagi melanjutkan ceritanya.

"Ada apa Nola?" Virgo bertanya.

"Apa kau sudah mencari tahu tentang Virgo?" Laki-laki itu paham apa yang Enola katakan.

"Belum." Jawaban singkat itu hanya dibalas anggukan oleh Enola. Rasanya terlalu lelah untuk Enola memaksakan Virgo mencari tahu soal anak laki-laki di rumah sakit itu. "Minumlah obat mu." Virgo bangkit dari tempat duduknya, membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa pil dari dalam.

Pil tadi diberikan kepada Enola, sebelum akhirnya gadis itu menelannya. "Kau akan kembali?" Enola bertanya saat Virgo kembali meletakkan gelas berisi air ke atas meja. "Tinggalah lebih lama disini. Aku takut sendirian—" Tangan Enola meramas kuat ujung selimut. Sepertinya malam ini, Enola tidak ingin sendiri—mungkin karena efek kelelahan.

"Baiklah." Kembali Virgo mendudukkan tubuhnya di samping tempat tidur. Matanya menatap dalam-dalam pada wajah Enola, yang mulai memejamkan mata. Dirasakannya ada sesuatu yang menarik ujung setelan nya—sampai ia melihat tangan Enola yang berada disana. "Tidurlah Nola. Aku akan tetap disini." Satu kecupan Virgo berikan pada kening Enola. Hal yang selalu ia lakukan, seperti malam-malam sebelumnya.

....

Pandangan Virgo teralihkan saat mendengar suara langkah kaki, mendekat ke arah kamar Enola. Dari dalam kamar, Virgo memperhatikan siluet yang mulai muncul dari balik pintu.

Bunyi gagang pintu yang dibuka, menampilkan Eldon, yang masih mengenakan seragam sekolah.

"Nola—kau sudah tidur?" Langkah kaki Eldon dibawa menuju tempat tidur—semakin mendekat hingga tepat di hadapan Virgo yang sedari tadi memang berada disana.

V I R G O Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang