”Kau dari mana?” kalimat pertama yang Eldon tanyakan saat Enola selesai melayani wanita paruh baya tadi.
”Aku keluar sebentar” tanpa melihat ke arah yang bertanya, Enola terus melanjutkan kegiatan membereskan toko bunga.
Dahi Eldon mengerut. Enola bohong—Eldon tahu itu. Semua terbukti dari dirinya yang sudah menunggu gadis itu kurang lebih hampir satu jam lebih.
”Kenapa tidak membawa ponsel?”
”Sengaja aku tinggalkan. Lagipula tidak ada yang penting di dalamnya.” Enola menjawab dengan santai.
”Apanya yang tidak penting? Aku menghubungi mu dari tadi Nola. Mencoba mencari kau kesana kemari sampai aku harus menghubungi Mama.”
Plak!
Rasa panas menjalar pada lengan Eldon saat Enola dengan tiba-tiba memukulnya. ”Kenapa kau menghubungi Mama? Bagaimana kalau dia khawatir?” mata Enola membulat tidak percaya akan apa yang sudah saudara laki-lakinya lakukan.
”Santai saja Dude! Aku tidak bodoh! Kalau aku bilang pada Mama kau hilang, tentu saja aku yang akan disalahkan—tapi jujurlah padaku Nola, dari mana saja kau?” seolah mengabaikan, Enola lebih memilih masuk ke dalam toko tanpa memberi jawaban dari pertanyaan Eldon.
Bukan tanpa alasan gadis itu merahasiakan kemana dirinya pergi. Enola tahu kalau ia menceritakan kejadian sebenarnya pada Eldon, laki-laki itu akan murka dan marah—apalagi dalam cerita itu ada nama Javier.
...
𝐖𝐀𝐑𝐍𝐈𝐍𝐆!!
𝐁𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐣𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦𝐧𝐲𝐚—
Enola meraih cuter yang berada di atas laci mobil dan mengenggamnya kuat.
Javier yang sedang dibakar api emosi tidak memperhatikan. Laki-laki itu lebih memilih berkelahi dengan isi kepala memikirkan hal-hal yang tidak mungkin, tanpa peduli kalau gadis di sampingnya sudah setengah mati melawan rasa panik yang menyerang.
Bibir pucat dengan tubuh gemetar serta air mata yang mengalir membuat Enola tidak bisa berpikir jernih—belum lagi rasa-rasa sakit lain yang menyerang seluruh tubuhnya.
Cuter kecil di tangannya seperti memanggil sebagai ketenangan. Tanpa mempertimbangkan hal-hal lain, Enola membawa cuter itu mendekat ke area pergelangan.
Sret—
Satu goresan kecil tercetak disana.
Enola kurang puas. Rasa tidak nyaman itu masih ada. Panik itu belum hilang juga—
Sret—
Goresan kedua yang lebih panjang dan dalam terasa perih namun ajaibnya dapat membuat Enola lega dan tenang.
”Enola—” tetes demi tetes cairan merah yang jatuh menetes pada kursi mobil, membuat Javier harus menge-rem mendadak. ”APA YANG KAU LAKUKAN ENOLA!” amarah berubah menjadi rasa khawatir.
Dasi yang dikenakan, dilepas Javier untuk menutup luka menganga pada pergelangan Enola.
Seperti kembali tersadar Enola hanya bisa menatap kosong ke arah pergelangannya yang sudah ditekan oleh Javier agar tidak lebih banyak cairan merah yang keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
V I R G O
Teen FictionSiapa sangka, jika Virgo hanya dapat dilihat oleh Enola. Enola bahkan tidak tahu, jika Virgo memainkan dua peran yang berbeda, dengan dimensi yang berbeda pula. Selama ini yang Enola tahu, jika Virgo adalah lelaki yang selalu mendatanginya tepat p...
