19. Perpisahan

14 5 10
                                        

"Maafkan Dad Vi-ini pilihan terbaik bagi aku dan Lucy."

Kalimat itu muncul dalam kepala Javier saat kembali melihat Axel kepala keluarga D'arcy yang pergi meninggalkannya bersama Lucy sebelas tahun yang lalu.

Tangan Javier mengepal kuat, menyembunyikan kemarahan yang selama ini ia tampung.

Disana Axel nampak diam di dalam mobil, bersama seorang wanita yang Javier yakin adalah perusak rumah tangga kedua orangtua nya.

"Jav-ada apa? Kau baik-baik saja?" Eldon sempat takut saat melihat urat leher Javier semakin nampak.
"Jav-" Pelan Eldon memanggil, sembari menggoyangkan lengan yang lebih tua.

Sadar ada pergerakan pada bagian lengannya, Javier mengalihkan itensi sekedar menengok siapa yang berani menggoyangkan lengannya-
"El?" Javier lupa kalau dia kemari bersama seorang remaja lima belas tahun. "Maafkan aku El. Kau menunggu lama?" Javier takut kalau Eldon melihat kemarahannya.

"Kau membuatku takut Jav-" Eldon mencengkram kuat lengan kemeja Javier.

"Ah-maafkan aku El. Itu tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji padamu." Sedikit menunduk Javier mensejajarkan tubuhnya dengan yang lebih muda.

"Apa kau marah karena anak tadi menabrak mu?" Eldon bertanya.

"Tidak El, untuk apa aku marah? Bukankah katanya dia tidak sengaja?"

"Baiklah. Jangan menunjukan wajah itu lagi. Aku sangat takut melihatmu seperti itu. Kau bukan seperti Javier yang ku kenal-" Pandangan Eldon diturunkan, takut bertemu pandang dengan Javier.

Rasa bersalah menyelimuti Javier saat tahu dirinya sudah membuat Eldon takut. "Maaf El, aku sungguh minta maaf. Aku terpancing emosi-ah sudahlah. Bagaimana kalau kita segera kembali? Mama dan Enola pasti menunggu." Javier mengalihkan topik, agar Eldon tidak fokus pada dirinya.

Langkah Eldon dibawa menuju meja kasir dengan kartu debit milik Javier, yang sudah ia hafal pasword nya diluar kepala.

Di sudut lain Javier buru-buru mencari kontak seseorang di dalam ponselnya.

Kontak dengan nama Enzo Park digeser pada layar hijau. Nada menyambungkan terdengar, sampai akhirnya seseorang di seberang sana menerima panggilan.

"Cari tahu soal Dad."

"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐛𝐚-𝐭𝐢𝐛𝐚?"

"Lakukan saja perintahku, atau ku potong gajimu."

"𝐒𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧! 𝐁𝐚𝐢𝐤𝐥𝐚𝐡."

Panggilan diputuskan, bersamaan dengan Eldon yang kembali sambil menjinjing penuh dua buah kantong berukuran besar. "Kemarikan, biar ku bantu." Javier menawarkan bantuan saat melihat betapa kesusahan remaja itu mengangkat sendiri dua kantong plastik berukuran besar itu.

....

Jarum jam menunjukan pukul 23.30 yang menandakan setengah jam lagi, pergantian hari.
Enola menatap Javier yang terlihat masih mengenakan seragam kerjanya. Enola yang duduk di bangku lain, bangkit memindahkan tubuhnya tepat di samping Javier.
"Kau pulang saja Jav. Bersihkan dirimu, dan makanlah. Kata Eldon kau belum makan dari siang tadi." Enola mengenggam tangan Javier yang terlihat bebas.

"Aku tidak apa-apa Enola. Aku akan tetap disini bersama mu, Mama dan Eldon." Rasanya Enola sangat beruntung memiliki Javier. Bagaimana lelaki itu sangat peduli padanya dan keluarganya. Javier selalu ada untuknya disaat-saat seperti ini.
"Kau tidak perlu takut Enola. Ingat, kau tidak sendiri. Ada aku disini." Kecupan diberikan Javier pada tangan yang saat ini ia genggam.

V I R G O Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang