Enola duduk berhadapan dengan Javier. Laki-laki itu menatap kedua matanya lekat. Enola tahu saat ini Javier akan menginterogasi dirinya karena tanda kemerahan yang dilihat laki-laki itu pada bagian atas dadanya.
"Katakan apa yang kau lakukan semalam." Enola tidak langsung menjawab. Gadis itu berpikir keras apa yang terjadi semalam sampai ada tanda merah disana.
"Aku tidak tahu Javier. Sungguh. Aku hanya tertidur dan—" Tiba-tiba ingatannya tentang seseorang muncul.
Virgo, nama itu lewat sekilas dalam kepala Enola.
"Apa tanda ini datang dari Virgo?"
Dahi Enola semakin mengerut, tanda bahwa ia sedang berpikir keras.
"Tapi Virgo tidak mungkin melakukannya, ia tidak akan seberani itu."
"Apa kau teringat sesuatu?" Javier mengejutkannya.
"Virgo—" Enola berbisik kecil, namun masih dapat didengar oleh Javier.
"Siapa dia?"
"Kekasih ku." Senyum tipis Enola berikan pada Javier.
Amarah muncul pada wajah Javier. Urat-urat lehernya tercetak jelas, hingga Enola sampai memundurkan sedikit kursinya ke belakang.
"Siapa Virgo? Katakan sejujurnya!"
"Sudah kubilang dia kekasih ku."
"Sejak kapan?" Javier berusaha menahan emosinya.
"Sebulan yang lalu. Aku lupa bilang padamu, kalau aku sudah punya kekasih, karena aku tahu kau akan marah seperti saat ini—"
"Berikan aku alamatnya!" Seperti yang Enola duga dari lama. Javier akan mencari tahu siapa itu Virgo dan sudah pasti akan membuat perhitungan pada laki-laki yang berani merebut Enola darinya.
"Dia tidak disini Jav, dia berada di tempat yang jauh."
"Dimanapun ia berada akan aku cari Enola. Tidak akan aku biarkan dia memiliki mu Enola. Kau tahu kalau kau hanya milikku Enola!" Tangan kekar Javier meramas kuat lengan Enola. Mata laki-laki itu memerah penuh akan emosi dan amarah.
Tubuh Enola bergetar. Ia takut saat melihar Javier seperti ini. Apa ia salah memberitahu Javier soal Virgo?
Tapi bukankah ini adalah saat yang tepat, karena Enola memang sudah merencanakan semua ini dari lama.
Tubuh Enola ditarik paksa oleh Javier. Laki-laki itu membawa Enola ke dalam mobil, lalu menghempaskan tubuh Enola pada kursi penumpang.
"Apa yang kau lakukan Jav?" Enola panik saat Javier ikut masuk ke dalam, duduk di kursi kemudi lalu mengunci pintu mobil, sebelum akhirnya menginjak gas.
Mobil mulai melaju meninggalkan toko bunga Enola yang kosong tanpa penjaga. "Kemana kau akan membawa ku Jav!" Enola semakin takut. Kelopak matanya sudah basah dengan air mata. Enola takut kalau Javier akan melakukan hal buruk padanya.
"Jav—aku, aku mohon hentikan mobilnya Jav—" Kepala Enola terasa sakit. Tubuhnya tidak hanya gemetar, kini rasa dingin ikut menjalar pada tubuhnya. Wajahnya pucat, lehernya serasa tercekik, nafasnya cepat, dada dan perutnya sakit, jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat hingga ia harus kesusahaan menghirup oksigen.
Penyakit Enola kambuh.
Seluruh tubuh Enola serasa tenggelam dalam air yang dalam.
Javier tidak menyadari itu. Laki-laki itu sudah dibutakan dengan emosi yang menggebu-gebu, sehingga ia tidak tahu kalau gadis disampingnya sudah sekarat dalam kepala dan isi pikirannya.
"Jav, aku tidak kuat lagi—" Enola berbisik sangat kecil di tengah-tengah sisa tenaganya, sampai ia menemukan sebuah cuter kecil yang berada pada bagian laci mobil Javier, lalu mengambil benda tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
V I R G O
Teen FictionSiapa sangka, jika Virgo hanya dapat dilihat oleh Enola. Enola bahkan tidak tahu, jika Virgo memainkan dua peran yang berbeda, dengan dimensi yang berbeda pula. Selama ini yang Enola tahu, jika Virgo adalah lelaki yang selalu mendatanginya tepat p...
