2. Ryan Agustin ✔

1.1K 72 8
                                        

Kini, Chaka beserta keluarga dari sang papa tengah berada di ruang keluarga. Mereka tengah berbincang-bincang ringan, sebelum hal sensitif mengusiknya.

"Mama masih memperlakukanmu sama seperti sebelumnya, Chaka?" Tanya sang papa

Lama terdiam dengan mata yang jauh menerawang sebelum akhirnya Chaka menjawab, "iya." Satu kata yang mampu membuat amarah sang papa membuncah.

"Wanita itu," geramnya

"Chaka nggak mau tinggal disini aja sama Bunda, Papa dan Kak Iyan?" Tanya bunda

"Nggak, Bun," jawabnya sambil menggeleng

"Keadaan di sana nggak memungkinkan buat Chaka tinggal di sini, kalo bukan Chaka siapa yang bakal jaga Ezi? Gimana sama Bang Yudha dan Bang Fariz? Kak Gian bilang, Chaka harus bisa jaga mereka," lanjutnya

"Kenapa?"

"Maksudnya?"

"KENAPA LO MASIH MIKIRIN KELUARGA BAJINGAN ITU HAH?!" Bentaknya yang tanpa sadar membuat tubuh Chaka gemetar

"IYAN!" Bentak sang bunda seraya memeluk Chaka dan mengusap punggung anak itu agar tenang

"Iyan, tolong jaga amarahmu, lihat Chaka, bahkan dia takut karenamu, kamu mau Chaka trauma denganmu? Apa sudah siap jika Chaka jauh denganmu?" Tanya papa

Iyan, memiliki nama lengkap Ryan Agustin. Keluarganya memanggilnya Iyan, ah... lebih tepatnya Chaka kecil yang dulu memanggilnya Iyan hingga sekarang panggilannya tetaplah Iyan.

Agus mengusap kasar wajahnya dan mengambil alih tubuh Chaka untuk ia peluk.

"Maaf, maaf gua kelepasan," mengusap lembut kepala belakang Chaka

Chaka tak menjawab malah ia semakin erat memeluk Agus dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher, Agus. Agus tak masalah, dia bahkan akan memberikan segala sesuatu untuk adiknya ralat adik tirinya. Tak peduli status mereka yang tiri atau kandung, Chakarana Efendi, tetaplah adik satu-satunya dan akan begitu selamanya.

"Salat dulu yuk, tenangin pikiran masing-masing," ucap bunda karena sudah memasuki waktu Ashar

Mereka semua mengangguk dan mulai melaksanakan ibadah salat Ashar. Tak ada yang beranjak setelah salat Ashar selesai, semuanya larut dengan pikiran masing-masing sampai Chaka, orang pertama yang melipat sajadahnya dan pergi begitu saja.

"Susul adikmu gih, minta maaf lagi," ucap sang bunda yang mengerti Agus

"Iya, Bund," pergi menyusul Chaka

Kini, Agus sudah tepat di depan pintu kamar Chaka. Ia bingung akan mengetuk pintu itu dulu atau langsung membukanya seperti biasa. Tapi mengingat sifat Agus ini, pastinya ia akan langsung membuka pintu itu.

Bukan ketenangan yang ia dapat, malah amarah yang semakin membuncah lagi kala ia mendapati Chaka yang memilih bergelung dengan buku-buku yang sudah dapat ia pastikan bahwa buku itu dari wanita itu.

"Udah gua bilang berapa kali, Chak?" Ucap Agus yang menginterupsi Chaka

"Lupain buku-buku sialan ini kalo di rumah, papa."

"Apa sih Kak? Toh gua lagi belajar buat ujian kok," sanggahnya

"Ujian apa? Lo pikir gua nggak tau jadwal sekolah lo?"

Skak

Chaka hanya bisa berdiam saat Agus berbicara itu. Sudah tak heran lagi jika Agus akan berperilaku seperti itu. Bahkan ini bukan apa-apa. Dulu, dulu sekali Agus lebih parah dari yang sekarang. Bukan hanya sekolah, tapi lingkup pertemanan Chaka pun Agus yang turun tangan. Hingga saat ini, Agus lah yang memegang kendali.

Chaka, Congrats!! || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang