33. Perasaan dan kehilangan

742 53 14
                                        

Chaka tak tahu jika firasatnya akan menjadi nyata saat ini. Chaka tak pernah menyangka jika pertemuannya akan menjadi yang terakhir. Semua tak pernah Chaka sangka dan Chaka harapkan. Perkataan dari pesan yang disampaikan nenek adalah hal yang terakhir Chaka dengar. Sekarang ia telah kehilangan sang nenek untuk selamanya.

"Chak udah terik banget, pulang yuk," ajak Hernes

Orang tua Chaka belum bisa datang karena masih ada keperluan di luar kota, sedangkan sang mama dan sang papi sudah kembali ke rumah tahanan. Untuk Agus, ia tadi sempat datang namun hanya sebentar karena harus menyelesaikan S2 nya secepat mungkin.

"Chak," bersimpuh di sebelah Chaka

"Jangan gini ya? Kasian nenek kalau sampai beliau tau cucunya kayak gini, pulang dulu ya?"

Chaka menatap mereka sekilas dan pergi tanpa kata. Ia butuh waktu sendiri saat ini.

.

.

.

.

Danau menjadi pilihan Chaka untuk menenangkan diri. Tempat yang akan selalu ia datangi saat merasa gundah, gelisah, sedih dan kecewa.

Chaka hanya memandang danau di depannya tanpa tatapan yang berarti. Pikirannya masih berkelana mengingat momen-momen bersama sang nenek.

Sedangkan yang lain sedang kelimpungan mencari Chaka karena mereka kehilangan jejak Chaka sewaktu di perjalanan tadi. Sudah 2,5 jam mereka mencari Chaka namun hasilnya nihil, mereka belum bisa menemukan Chaka.

"Ini nyari kemana?" Tanya Galang setelah menepikan motor

"Kayaknya kita lebih baik mencar deh, supaya cepat ketemu," usul Rendi

"Boleh. Gua, Jian dan Hernes ke kanan, sisanya ke kiri, paham?"

"Paham, Bang," ucap mereka serempak

Keenamnya langsung terbagi sesuai perintah dari Mark. Mereka harap dengan berpencarnya mereka membuat mereka cepat menemui Chaka.

3 jam sudah mereka berpencar mencari Chaka. Jian seketika teringat dengan pertemuan mereka di minimarket 24 jam.

"Bang kayaknya gua tau Chaka kemana, ikutin gua."

Jian langsung memacu kendaraannya menuju minimarket 24 jam. Jian menuju kesana bukan karena akan berhenti disana, tapi ia akan menelusuri daerah tersebut karena entah kenapa firasatnya mengatakan jika Chaka ada disana. Tak butuh waktu lama mereka sudah berada disekitaran sana dengan Jian yang masih memimpin jalan.

Dugaan Jian benar, motor Chaka terparkir apik dipinggir jalan dekat dengan danau yang jarang dikunjungi karena terkenal angker.

"Ji ini kita ngapain kesini sih?" Tanya Hernes sembari mewanti-wanti sekitarnya

"Chaka disini, itu motornya," menunjuk motor Chaka

"Aisss bocah itu, main kok ke tempat angker gini," memeluk dirinya sendiri

Krek....

"Huwaaaa apa ituuu......" meloncat ke arah Mark

"Astagfirullah Hernes......"

"Gua takut Bang, itu suara apa oyyyy....."

"Cuma ranting elah Bang, takutan amat lo," ledeknya

"Y-ya lo pikir aja lah ini tempat kan terkenal angker terus malem-malem kita kesini lagi. Orang mana yang nggak takut coba."

Jian terkekeh melihat reaksi Hernes. Temannya yang satu ini ternyata sangat penakut, tapi Jian lupa jika faktanya Mark juga sama penakutnya. Buktinya Mark dan Hernes saling dempet dan mewanti-wanti sekitar takutnya ada yang lewat kan mereka bisa kabur bersama.

Chaka, Congrats!! || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang