Side story

725 53 5
                                        

Tak ada yang benar-benar tahu keadaan Chaka beberapa hari setelah ditinggal oleh sang nenek untuk selamanya. Tak banyak yang tahu bahwa tekanan terbesar Chaka ada dalam keluarganya yang menyalahkan dirinya atas kepergian sang nenek. Apa itu semua salahnya?

"Lo sadar nggak sih setiap orang yang sayang sama lo selalu berakhir tragis?" 

Perkataan itu masih terekam jelas di dalam benak Chaka saat Chaka berkunjung ke rumah sang mama untuk memastikan keadaan kedua abangnya dan satu adiknya yang memilih menetap di sana.

Kalau kalian berpikir Chaka akan mundur begitu saja, kalian salah. Nyatanya meskipun perkataan itu begitu menyakitkan, Chaka tetap bertahan di dalam rumah Casa untuk memastikan keadaan ketiga saudaranya.

"Kenapa lo kembali lagi?" Yudha bertanya dengan tangan yang terkepal erat. Yudha benar-benar tak tahu bagaimana cara Chaka berpikir hingga dengan berani untuk kembali ke dalam rumah yang seperti neraka untuk Chaka.

"Kenapa lo harus kembali disaat lo udah bahagia, Chaka. KENAPA?!?" Teriakan Yudha memenuhi kamar yang Chaka gunakan saat ini. Yudha kalut, dirinya tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.

"Bang, gua cuma......"

Belum sempat Chaka menyelesaikan kalimatnya, badannya sudah terdorong ke arah tembok dengan kedua telapak tangan Yudha yang menyengkaram kedua bahu Chaka dengan kencang. Racauan Yudha yang tak jelas dengan tangan yang terus mengguncang badan Chaka membuat badan serta kepala Chaka terus membentur tembok tanpa ingin menunjukkan kesakitannya. Chaka paham jika yang terluka di sini bukan hanya dirinya, melainkan ketiga saudaranya juga sama terlukanya.

"JAWAB GUA CHAKA, KENAPA LO KEMBALI LAGI HAH?!?"

Chaka melihat di hadapannya saat ini Yudha sedang menitihkan air matanya dengan racauan tak jelasnya. Bukan keadaan seperti ini yang Chaka inginkan saat ini. Chaka hanya ingin mereka berempat bisa dekat layaknya seorang keluarga. Saat itu juga tanpa sadar air mata Chaka juga ikut jatuh melihat kondisi Yudha di hadapannya.

Chaka diam mematung saat pelukan hangat terada di tubuhnya. Yudha memeluknya untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Yudha menangis di dalam pelukannya dengan sesekali bergumam maaf. Dengan ragu Chaka membalas pelukan tersebut.

"Maaf, gua sadar gua salah. Maaf karena sebagai kakak, gua nggak pernah ngelindungin lo dari mama dan yang lain. Maaf, gua emang bukan kakak yang baik. Maaf karena gua gagal jadi kakak untuk lo. Maaf....."

Perkataan Yudha yang lirih membuat hati Chaka seperti teremas-remas. Chaka tak bisa berkata apapun. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk menghirup udara. Beban yang ada di dadanya terlalu berat sehingga Chaka ingin berhenti bernapas karena kesulitan untuk mengambil udara. Namun itu semua tak bertahan lama saat tubuhnya dan Yudha dilepas secara paksa begitu saja. Kepalanya terasa sakit saat tarikan itu membuat kepalanya membentur pintu kamar.

"YUDHA, LO APA-APAAN SIH DAN LO KENAPA BISA DISINI!!"

"BANG, BERHENTI SAKITIN CHAKA!!"

"LO DIAM AJA!!"

Fariz, anak itu menarik tangan Chaka. Tidak, lebih tepatnya menyeret Chaka untuk keluar dari kamar yang ditempati Chaka. Chaka hanya diam dan pasrah dirinya diseret oleh Fariz. Bahkan ketika Fariz mulai memukulnya pun Chaka hanya diam saja. Namun tangannya sudah bergerak untuk mengambil ponsel yang berada di saku celananya. Tanpa Fariz sadari, Chaka mendial nomor darurat yang memang sudah di atur olehnya agar tersambung ke salah satu temannya.

"KENAPA LO NGGAK MATI AJA SIALAN, KENAPA LO NGERUSAK KELUARGA GUA. HARUSNYA LO MATI AJA SAMA NENEK LO, BANGSAT!!!" Bentakan itu tepat di hadapan wajah Chaka yang mulai babak belur karena pukulan Fariz

Chaka, Congrats!! || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang