Hari minggu yang cerah ini, Chaka manfaatkan untuk jogging. Alasan utama sebenarnya adalah ingin menghindar sejenak dari orang-orang rumah. Pusing dia tuh jika harus terus menerus berada di sana.
Chaka pikir, ia akan menikmati waktu minggunya dengan tentram. ITU SALAH BESAR......
Nyatanya minggu ini ia malah bertemu makhluk paling prik. Siapa lagi kalau bukan Nabil.
"Eh Chaka."
"Hmm."
"Bales dong, masa iya cuma hmm doang."
"Iya?" Jengah
"Judes banget sih."
"Lo mau ngapain sih?" Makin kesal juga Chaka sama Nabil ya kan
"Jogging kan? Ya sama gua juga."
Oke-oke udahlah terserah Nabil aja ya kan. Chaka nggak meduliin Nabil lagi, ia melanjutkan jogging-nya entah kemana aja yang penting muter. Nabil juga daritadi ngikutin kemana pun Chaka pergi. Selagi Chaka nggak komen, berarti Nabil boleh ngikutin Chaka kan?
"Chak, sarapan yuk?"
Chaka berhenti dan Nabil yang ada di belakang Chaka otomatis nabrak Chaka. Mereka berdua jatuh dengan Nabil yang menimpa Chaka. Nabil langsung sadar dan bantuin Chaka buat bangun. Mereka langsung nyari tempat buat duduk selonjoran.
"Aduhh sorry Chak, sakit ya?" Meneliti setiap inci tubuh Chaka
"Gapapa," jawabnya
Gapapa apanya, Chaka sekarang lagi nahan sakit karena ketimpa tubuh Nabil. Masih ingatkan kalo Chaka abis dipukulin lagi sama mamanya?
Nabil yang ngeliat Chaka jawab gapapa cuma bisa diam sambil berasumsi. Kalo gapapa, nggak mungkin muka Chaka keliatan nahan sakit kan? Memang tidak terlihat jelas, tapi Nabil yang emang selalu menyayangi setiap makhluk pun peka kalau Chaka sebenernya nahan sakit.
"Tapi...."
"Jadi sarapan nggak? Mumpung gua belum berubah pikiran," ucapnya memotong perkataan Nabil
"Ayuk," bangkit dari duduknya
"Lo traktir, gua nggak bawa uang," mengikuti Nabil berdiri
"Gampang, yuk," menggandeng tangan Chaka
Chaka mematung sambil terus mengikuti langkah Nabil. Sejauh ini dia memang tidak suka dipegang bahkan disentuh, tapi mengapa ketika Nabil menggandengnya rasanya terlihat berbeda, terkesan hangat(?).
"Lo nggak alergi apa-apa kan?" Tanya Nabil memastikan
"Nggak."
Nabil membawa Chaka menuju tukang bubur ayam yang tak jauh dari sana. Untung saja Chaka tak ada alergi apapun, jadi ia bisa membawa Chaka makan dimana saja.
"BANG, BUBUR 2 YAK," teriaknya pada pedagang
"Lo pake sambel nggak?" Bertanya pada Chaka
"Enggak."
"BANG 1 BIASA YAK, 1 LAGI JANGAN PAKE SAMBEL."
"SIAP DEK NABIL," mengacungkan jempol
"Berisik," ketus Chaka
"Hehe," menggaruk tengkuknya yang tak gatal
Mereka berdua duduk dibangku yang tersedia di sana. Tak lama pesanan mereka berdua datang.
"Makasih," ucapnya dengan suara pelan
"Hmm?" Dehemnya memastikan
"Nggak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Fiksi RemajaSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
