Mereka semua sudah berada di apartemen milik Nabil setelah melakukan sedikit pemaksaan terhadap Chaka.
"Are you okay?" Tanya Mark
"Nggak," jawabnya dengan pandangan kosong
Hanya ada kekosongan di pandangan Chaka.
"Tell me what something, Chaka."
"Gua minta ruang sendiri, bisa?"
Tak ada yang bisa mereka lakukan selain mengangguk dan menuruti permintaan Chaka. Mereka harus bisa memberi Chaka ruang meskipun didiri mereka pun enggan meninggalkan Chaka sendiri. Kini mereka berenam menunggu tepat di depan kamar Nabil.
"Chaka kenapa?"
"Gua nggak tau," menutup wajahnya dengan tangan
Keenamnya duduk sembari menunggu Chaka. Tak ada dari mereka yang benar-benar tega membiarkan Chaka didalam sana sendiri.
Jian, pemuda itu menengadahkan kepalanya memutar ingatannya saat Chaka menginap dirumahnya.
//flashback
"Chak... gua laper," ucapnya pada Chaka
"Astaga Ji... ini udah tengah malem," ucapnya dengan mata terpejam
"Aaaa Chaka....." menggoyangkan lengan Chaka, "ayolahh.... gua laper....." merengek
Chaka yang tak tahan dengan rengekan Jian akhirnya berkata, "oke fine, lo ada makanan?"
Jian menggeleng dan terkekeh membuat Chaka menghela napas dan menatap Jian kesal.
"Ya udah terus gimana?"
"Bikin mie yuk? Gua ada stok mie."
Dan pada akhirnya mereka membuat mie. Sebenarnya hanya Chaka yang membuat karena Jian terhitung tak berbakat jika harus berurusan dengan dapur.
"Nih punya lo," memberikan semangkuk mie rebus
"Hehehe jadi sayang kan gua sama lo."
"Idih, gua masih lurus," cibirnya
"Lurus gimana?" Bingung
"Bodo lah Ji, mending lo makan," memberikan toples berisi kerupuk
"Susu nggak ada, Chak?"
"Banyak mau bocah satu ini," kesalnya yang membuat Jian malah terkekeh karena ekspresi Chaka yang menurutnya lucu
//flashback off
Jian terkekeh kala mengingat momen tersebut. Memang benar kata orang, momen berharga hanya bisa teringat tanpa tersentuh dan hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidup. Begitupun dengan kesempatan yang tak datang dua kali.
Ceklek....
Pintu kamar yang ditempati Chaka terbuka dengan Chaka yang berdiri menghadap mereka.
"Gua menyerah," ucapnya sebelum kegelapan merenggut kesadarannya
Nabil yang paling dekat dengan pintu langsung saja merengkuh badan Chaka dan membawanya kembali masuk ke kamar. Terlihat ada noda darah pada telapak tangan Chaka yang masih terperban dengan apik. Dugaannya adalah Chaka kembali melukai dirinya sendiri.
"Bil telefon mama lo aja," ucap Mark yang langsung dituruti
.
.
.
.
"Mama bangga sama kalian karena udah bawa Chaka," ucap mama Nabil sembari melihat mereka satu persatu
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Ficção AdolescenteSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
