13. Bagaimana dengan luka yang lain?

762 63 4
                                        

Setelah Nabil membereskan cucian piringnya, ia berniat untuk mengecek Chaka. Nabil membuka pintu secara perlahan. Ia lihat di dalam selimut terdapat gundukan yang terlihat seperti bergetar. Dengan langkah cepat Nabil mendekat ke arah kasur dan langsung menyingkap selimut dengan cepat. Walaupun keadaan ruangan gelap, Nabil masih melihat tubuh Chaka yang gemetar hebat serta isakkan terdengar.

"Kak Hana.... jangan tinggalin Kara....." racau Chaka yang terdengar jelas dipendengaran Nabil

Dengan sigap, Nabil mengangkat tubuh Chaka dan membawanya kedalam dekapannya seraya memangku tubuh Chaka agar lebih mudah. Chaka masih memejamkan matanya dan menutup telinganya dengan racauan disertai isakan lirih.

Apa yang dilihat Nabil tentu berbeda dengan apa yang dialami Chaka. Chaka menutup mata dan telinganya karena kejadian 13 tahun lalu terlukis dengan rinci diingatannya.

"Chaka hey...." mencoba menggenggam tangan Chaka yang masih menutup telinganya

"Heyy Chaka dengerin gua, gua disini, lihat kearah gue, Chaka," menggenggam erat tangan Chaka

"Kak Hana.... hiks.... ja-jangan tinggalin Ka-kara hiks.... ja-jangan lepas ta-tangan Kara....."

"Kara heyyy gue disini, Kara denger gue coba," bujuknya

Sejujurnya Nabil bingung bagaimana menghadapi situasi ini. Pasalnya ia juga pernah diposisi Chaka tapi mungkin sedikit berbeda.

Dengan sedikit kasar, Nabil menangkup wajah Chaka. Mata terpejam, air mata mengalir deras, hidung merah dan isakan diiringi racauan menjadi pandangan pertama yang Nabil lihat.

"Apa lo sehancur ini, Chak?"

"Kara lihat Bang Nana ya," ucapnya lembut

"Bang Nana disini, nggak akan ada yang ninggalin Kara sendiri, Bang Nana dan yang lain akan terus sama Kara."

Ajaib, kata-kata itu berhasil membuat Chaka menatap kearahnya.

"Ba-bang Nana," lirihnya

"Iya, ini Bang Nana, Kara nggak sendiri ya," memeluk Chaka kembali

Kali ini Chaka membalas pelukan Nabil dan kembali terisak. Chaka menumpahkan seluruh air matanya.

"Bang Nana, a-ayo keluar, bawa Kara dan Kak Hana, Kak Hana sakit.... Kara juga...."

Nabil tak paham dengan apa yang dimaksud Chaka. Ia bahkan tak tahu siapa Kak Hana yang diucapkan Chaka.

"Iya kita keluar sekarang," bangkit dan keluar kamar dengan Chaka yang berada di gendongannya

Nabil membawa Chaka ke sofa dan mendudukkan dirinya serta Chaka disana dengan Chaka yang masih ia pangku. Dekapannya tak mengendur, bahkan semakin mengencang.

"Bang Nana, selamatin Kak Hana.... Kak Hana dipukul Bang Nana..... kasian Kak Hana...."

"Dipukul? Apa kejadian dulu itu? Tapi itu jelas-jelas suara Chaka," batinnya

"Bang Nana, ayo selamatin Kak Hana... Chaka gapapa kalo dipukul om itu, tapi selamatin Kak Hana....."

"Kara dengar Bang Nana ya? Nggak ada Kak Hana disini," memberi pengertian

"Ta-tapi..." menunjuk kamar Nabil

"Hiksss Kak Hana.... hiks... maafin Kara.... mama maaf hiks... Bang Nana...." isaknya kembali

Nabil sadar bahwa Chaka demam, tapi ia juga tak bisa kemana-mana. Ia lupa membeli obat demam, obatnya belum lama habis karena ia pakai. Satu-satunya temannya yang tak akan dimarahi jika ia telepon tengah malam adalah Hernes. Mau bagaimanapun Hernes hanya ngekos dan pasti tak akan dimarahi walaupun ia keluar malam.

Chaka, Congrats!! || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang