"Kara..... ikut Bang Makeu ke halaman belakang mau?" Tawar Mark yang melihat Chaka tak mau lepas dari Nabil
"No...." menggelengkan kepalanya
"Kenapa?" Merubah raut wajah menjadi sedih
"Kara.... Bang Makeunya sedih tuh," menunjuk wajah Mark
"Emmm Bang Makeu kenapa?" Tanya Chaka saat melihat wajah Mark
"Kara nggak mau ikut Bang Makeu, jadi Bang Makeu sedih."
"No.... nggak boleh sedih..... Kara ikut Bang Makeu oke?"
Mark yang tadinya berwajah sedih langsung saja merubah raut wajahnya menjadi gembira dan mengambil Chaka dari pangkuan Nabil. Mark membawa Chaka kedalam gendongannya dan berjalan menuju halaman belakang rumah Rendi.
"Selonjorin dulu kaki lo, Bil," titah Hernes
Nabil menuruti perkataan Hernes. Sejujurnya ia juga cukup pegal memangku Chaka selama berjam-jam. Chaka bukan anak kecil lagi ya makanya Nabil sedikit pegal.
"Kara lapar nggak?" Tanya Mark saat tiba di halaman belakang
"Ndak," menggelengkan kepalanya
"Kenapa? Kita udah sarapan loh....."
"Bang Makeuu....." panggil Chaka dengan wajah murung
"Kenapa hmm...." mengelus kepala Chaka
"Biasanya mama larang makan seharian setelah mama kasih hukuman....." ucapan Chaka mampu meremas-remas relung hati Mark
Adakah ibu yang sekejam itu kepada anaknya?
Di hukum bahkan tidak diberikan makan seharian, kenapa ibu Chaka sekejam itu?
Mark mendudukkan diri disalah satu kursi sembari memangku Chaka. Mark menangkup wajah Chaka dan menghadapkannya agar sejajar dengan wajahnya.
"Kara liat Bang Makeu dulu," titahnya yang langsung dituruti
"Disini Kara bebas.... Kara bebas melakukan apa aja yang Kara mau. Kara mau makan, Kara mau main dan Kara mau melakukan apapun itu, Kara bebas. Nggak ada lagi yang bakal ngebatesin Kara selama Kara ada disini dan bersama kita. Janji ya sama kita untuk selalu ada dan datang ke kita saat Kara sedih atau saat apapun itu. Bisa ya?" Ucapan Mark membuat Chaka terdiam dengan mata berkaca-kaca
Chaka yang bermode Kara sungguh menjadi sangat sensitif dan itu berbeda dari Chaka. Keduanya bersifat sangat bertolak belakang meskipun ada dalam satu tubuh.
Chaka langsung memeluk Mark dan menduselkan wajahnya ke ceruk leher Mark dengan air mata yang mengalir. Ia merasa sangat membutuhkan Mark dan tak ingin jauh dari Mark.
"It's okay Kara... semua baik-baik saja," menepuk ringan punggu Chaka
Mark menolehkan kepalanya menghadap pintu dan mengangguk kepada seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka.
Jian, pemuda itu yang sedari tadi menunggu Mark untuk membawakan sarapan Chaka. Setelah diberi kode, Jian langsung menghampiri Chaka dan Mark untuk memberikan sarapan Chaka.
"Kara... makan dulu ya... mau disuapin Ji atau Bang Makeu?"
"Mau hikss sa-sama hiks B-bang Ala hikss...."
Dengan cekatan, Jian langsung berlari masuk ke dalam.
"Bang Galang buruan dicariin Chaka," ucapnya dengan napas sedikit terengah
Tanpa ba bi bu, Galang langsung berlari menghampiri Chaka yang sedang bersama Mark di halaman belakang. Dapat ia lihat jika Chaka sedang menangis dan ditenangkan oleh Mark.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Teen FictionSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
