"Besok lo sekolah?" Menahan lengan Chaka
"Iya."
"Lo belum jawab pertanyaan gua yang tadi, Chaka. Lo habis dari mana dan...." meneliti setiap inci tubuh Chaka, "kenapa dengan pakaian lo?"
"Bukannya kemarin gua udah bilang kalau ada hal yang penting? Harusnya lo tau, karena lo dan teman-teman lo itu nahan gua, hari ini adalah imbas dari kemarin," pergi
Nabil terdiam dengan memandang Chaka yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Apa itu salah? Tapi om Hardian bilang...."
Kan, Nabil jadi dilema karena hal itu. Entahlah dia pusing memikirkan semua hal untuk saat ini.
....
Hari ini akan jadi hari sibuk bagi Chaka. Setelah kegiatan belajar, ia ada latihan basket untuk perlombaan akhir tahun. Bukan klub basket sekolah yang Chaka ikuti, tapi klub basket yang diikuti mendiang kakak keduanya.
"Oit Chak, lama nggak keliatan," tos ala pria
"Sibuk, Bang," sahut Chaka pada seseorang yang ia panggil Bang
"Iya dah si paling sibuk," ledeknya
"Haha bisa aja lu, Bang."
"Ayok dah, coach udah nyuruh kumpul tuh."
//skip
Skip aja yak, soalnya aku juga nggak begitu paham apa aja yang dibahas kalo lagi ngumpul.
"Ekhemm kapten muda kita nih dah lama nggak keliatan," merangkul bahu Chaka
"Tangan Bang, tangan," menggeplak tangan orang yang merangkul bahunya
"Masih sama aja."
"Udah fokus latihan."
Sekitar 2 jam an mereka latihan. Chaka pamit terlebih dahulu karena urusannya bersama sang mama. Setibanya di perusahaan, Chaka langsung mengganti pakaiannya dan mulai menganalisis berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
"Mama nggak peduli apapun kegiatan kamu itu, asalkan semua urusan perusahaan selesai," ucap sang mama yang tiba-tiba masuk
"Iya."
"Tapi mama rasa kamu tidak akan pernah kapok Chaka," menatap Chaka
Chaka mendongak dan melihat seringai aneh di wajah sang mama. Dia paham, setelah ini pasti akan ada luka lagi ditubuhnya.
Dan benar. Saat ini Chaka sedang terduduk dengan bertelanjang dada. Cambuk, kali ini mamanya menggunakan cambuk untuk memberi pelajaran Chaka.
"Dua hari bolos kamu pikir uang untuk sekolahmu tidak sedikit hah?!"
"JAWAB MAMA, CHAKA."
Ctas.....
"Maaf Chaka salah," ucapnya menahan sakit
Chaka tak boleh terlihat lemah atau hukumannya akan bertambah 2 kali lipat. Itu yang selalu terjadi jika Chaka sampai mengeluarkan air mata atau ringisannya.
Klak...
Sang mama melempar ke sembarang arah cambuk yang ia gunakan dan meninggalkan Chaka di dalam ruangan khusus di lantai 2. Chaka mengistirahatkan sebentar tubuhnya dengan mendongak kearah langit-langit ruangan. Dirasa cukup, ia menggunakan kembali bajunya dan berjalan keluar. Didepan pintu ia berpapasan dengan Fariz yang entah habis dari mana.
"Kali ini apa lagi? Kalo emang lo capek kenapa nggak nyusul Hana dan Gian? Gampang kan," mengintimidasi Chaka
Chaka termenung dan memberikan senyum tipisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Teen FictionSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
