Pukul 8 malam Chaka baru saja mengganti pakaiannya dengan seragam sekolahnya. Sengaja ia melakukan itu karena ia masih kurang nyaman jika harus menggunakan pakaian yang terlalu formal.
"Loh? Tuan masih SMA?" Tanya sang sekretaris yang melihat Chaka menggunakan seragamnya
"Iya," jawabnya seadanya sambil menyampirkan tas sekolah disalah satu bahunya
"Bosku ternyata lebih muda, cocok banget dijadiin sinetron," batin Gina menatap penampilan Chaka
"Kamu kesini naik apa?" Tanya Chaka memecah keheningan
"Saya naik angkutan umum, Tuan."
"Jangan terlalu formal jika sudah tidak pada jam kerja."
"Maaf?"
"Panggil saya Chaka."
"Saya merasa kurang sopan, Tuan."
Chaka menghentikan gerakannya dan menatap Gina.
"Saya tidak suka dipanggil seperti itu oleh orang yang lebih tua daripada saya."
"Maaf Tu-eh Chaka," tersenyum canggung
"Oke, Kak Gina?"
"Itu juga tidak buruk, Chaka," terkekeh ringan
Keduanya berjalan beriringan menuju lobi utama.
"Dimana rumah Kakak?"
"Jalan Kenari Biru no.99"
"Mau bareng? Kebetulan sejalan," tawarnya
"Nggak usah, aku bisa pesan taxi online," tolaknya halus
"Nggak masalah, tapi aku bawa motor, tidak apa?"
Gina menggeleng menandakan ia tak masalah dengan kendaraan Chaka. Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah Gina.
"Kakak tinggal sendiri?" Tanyanya setelah menerima helm dari Gina
"Enggak, sama orang tuaku dan adek, eh tuh dia baru pulang," menunjuk salah satu arah jalan
Chaka ikut melihat arah tersebut dan ia merasa seperti mengenali motor serta perawakan orang yang ditunjuk Gina.
"Abis dari mana kamu? Jam segini baru pulang," omel Gina pada sang adik yang baru saja mematikan mesin motornya
"Biasalah," melepas helmnya
"Loh Chaka?" Kagetnya saat melihat Chaka berada di sebelah kakaknya
"Kamu kenal, dek?" Heran
"Adek kelas Galang," sahutnya tanpa melepas tatapannya dari Chaka
"Aku pamit ya, Kak," pamitnya sebelum melajukan motornya
"Kenapa bisa kenal Chaka?"
"Dia atasan kakak," penuturan Gina membuat Galang menaikkan sebelah alisnya
"Atasan?" Kini giliran Gina mengerutkan dahinya mendengar nada suara Galang yang seperti menyatakan bahwa Galang tak mempercayai ucapannya
....
Saat ini Chaka sedang duduk di warung makan pecel lele pinggir jalan. Di perjalanan tadi ia merasa lapar dan memutuskan untuk melipirkan motornya dan disinilah ia berada.
"Ini dek makanannya," menaruh pesanan Chaka
"Terima kasih, Pak."
Chaka memulai acara makannya. Seperti orang-orang pada umumnya, makan dengan tangan adalah hal yang paling nikmat. Tak lupa lalapan juga menjadi kesukaannya saat makan di warung makan pecel lele.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Fiksi RemajaSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
