14. Rumah Nabil

737 65 15
                                        

Prang.....

Gelas kaca yang berada ditangan Galang pecah begitu saja setelah mendengar penjelasan Hernes dan Nabil.

"Gua nggak habis pikir sama maknya si Chaka, bisa-bisanya dia nyalahin anak sekecil itu," gerutu Rendi

"Pantesan aja Chaka dijaga ketat sama kakaknya, ternyata meskipun tiri cuma dia yang sayang sama Chaka."

"Jadi itu alasan mata lo berdua sembab?" Tanya Mark yang sedari tadi terdiam

"Ya gitu."

"Sekolah, dah mau bel," ucap Galang yang langsung berlalu dari apartemen Nabil

....

Bukan Chaka namanya kalau tidak nekat. Setelah melalui berbagai macam perdebatan dengan Nabil dan Hernes, ia berhasil sampai rumah dengan mencegat taksi dipinggir jalan.

Plak.....

Tamparan keras ia dapatkan saat memasuki pintu utama.

"Kemana saja kamu, Chaka?"

"Tidak masuk sekolah, tidak menghampiri Mama dan hari ini kamu membolos?"

Chaka diam dan menunduk. Untuk saat ini ia masih belum bisa menghibur dirinya sendiri dengan celetukannya.

"Naik dan bersihkan dirimu, setelahnya ikut mama ke kantor sekarang," pergi menuju kamarnya

Chaka menghela napas berat dan mengikuti semua perintah mama nya. Mau bagaimana lagi, hanya ia yang bisa diharapkan sekarang.

Disinilah Chaka sekarang. Berpakaian terlalu formal untuk anak seumurannya dan melewati meja-meja tempat ia berpijak sekarang.

"Hari ini akan ada meeting," ucap mamanya saat mereka baru saja memasuki ruangan mama nya

"Tapi Chaka baru pertama kali ikut."

"Mama tidak sebodoh itu langsung membiarkanmu terjun sendiri Chaka, kamu dan Mama akan menghadiri meeting nanti. Mama harap dengan sekali kamu mengikuti meeting bersama Mama, kedepannya kamu bisa sendiri dengan sekretaris yang akan Mama pilih," mendudukkan dirinya di sofa ruangan

"Apa ini nggak terlalu cepat Ma?"

"Kamu kira saat seusia kamu, mama sedang apa?"

"Semua karena kakek kamu, Chaka. Jangan salahkan mama kalau kamu pun kena imbasnya."

Chaka diam, memang ia tak pernah bertemu sang kakek. Bukan tidak pernah, hanya saja kakeknya meninggal saat Chaka berusia 1 tahun. Sudah dapat ia pastikan bahwa ia tak mengingat wajah sang kakek bukan tak pernah bertemu. Ia paham, sangat paham dengan hal itu semua. Semua bukan karena mamanya pilih kasih, tapi karena kakek yang sudah mengatur semuanya. Seharusnya bukan hanya ia saja, tapi Kak Hana dan Kak Gian seharusnya ikut andil dalam hal ini karena itu permintaan terakhir kakeknya.

Setelah meeting berakhir, Chaka masih harus mengurus beberapa berkas yang memang sudah ada sejak kemarin. Mungkin jika kemarin ia datang, berkas hari ini tak akan menumpuk. Oh ya, Chaka juga sudah mendapatkan ruangannya sendiri dan itu persis di samping ruangan mama nya.

"Chaka," panggil sang mama yang memasuki ruangannya dengan seseorang di belakangnya

"Kenapa?" Menatap mamanya

"Ini Gina, sekretaris kamu mulai sekarang."

Dapat Chaka lihat orang yang bernama Gina membungkukkan sedikit badannya ke arah Chaka dengan senyuman tipis. Chaka menatap dari atas hingga ke bawah sembari meneliti penampilannya.

Chaka, Congrats!! || ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang