"Cil, lo kenal sama temen gua?" Mengejar Chaka
Chaka tak bergeming dan malah melanjutkan jalannya tanpa memedulikan Hernes yang mengejarnya. Hernes juga merasa heran dengan sikap Chaka yang sedikit aneh semenjak temannya berkata seperti itu. Hal ini justru menjadi tanda tanya besar dikepala dengan kapasitas tak seberapa milik Hernes.
Sialnya, Chaka baru ingat kalo hari ini ia tidak membawa motor dan daya ponselnya pun habis. Jam segini juga bus sekolah sudah tidak ada yang lewat dan ia harus menuju jalan utama agar mendapatkan kendaraan umum.
"Bareng gua aja yuk, cil," tawar Hernes saat melihat Chaka tidak menggunakan motor
"Makasih, gua bisa sendiri," ucapnya yang akhirnya membalas perkataan Hernes
Tapi Hernes tetaplah Hernes, ia kembali menuju parkiran motor untuk mengambil motornya. Chaka memilih mengabaikan perkataan Hernes dan mulai jalan menuju jalan utama. Ia merutuki letak sekolahnya yang berada di perkomplekan membuat daerah sekitar sangat sepi jika sudah memasuki waktu maghrib seperti ini.
Hernes yang baru saja tiba digerbang celingak celinguk mencari Chaka.
"Ck, bocil itu ditawarin tumpangan malah kabur. Padahal kan kapan lagi seorang Hernes Aditomo mengizinkan orang lain duduk di jok motornya," ucapnya dengan penuh percaya diri
Daripada berlama-lama, Hernes memutuskan untuk melajukan motornya. Siapa tau nanti ia akan ketemu Chaka dan memaksanya untuk pulang. Entahlah, Hernes juga tidak mengerti kenapa dia bisa seperti ini dengan Chaka. Mereka baru bertemu beberapa hari itupun karena Jian yang mengajak Chaka. Tapi kenapa Hernes merasa kalau ia harus melindungi pemuda putih pucat kurus tersebut.
Selama perjalanan, Chaka hanya mendengus sebal karena kendaraan umum tak kunjung lewat. Apa ini karena sudah memasuki waktu maghrib makanya kendaraan umum sepi. Sudahlah, Chaka tak akan memikirkan itu.
Tapi sepertinya perjalanannya tak semulus yang ia bayangkan. Lihat saja, di hadapannya saat ini terdapat adiknya dan gang nya yang ternyata sudah mengepungnya.
"Eh si bangsat, tentram ya di rumah papa? Padahal kan gua juga anak papa, tapi kenapa lo doang yang diperhatiin ya?" Dia Fahrezi, adik yang tidak punya sopan santun
"Nggak ada yang ngelarang lo berkunjung ke rumah papa."
"Bukan papa yang ngelarang, tapi kakak bangsat lo itu yang ngusir gua, bajingan," tekannya
"Kenapa malah protes ke gua?" Tanyanya yang masih terlihat santai
"Si bangsat ini keknya nggak ada takutnya, Zi," ucap teman Fahrezi yang mengompori
─────────⊹⊱✫⊰⊹─────────
Hernes baru saja menyelesaikan salat maghrib di masjid terdekat. Niat hati ingin melajukan motor, dia baru teringat kalo sepatunya belum ia masukkan ke dalam tas. Hernes memang selalu membawa sandal dan niatnya untuk berjaga-jaga takut hujan saat di jalan.
"Untung inget nih ama sepatu, kalo kagak pake apa besok," monolognya
Hernes mulai melajukan motornya lagi dan berniat ingin membeli makan. Hernes ini nge-kos karena keluarganya sudah pindah semua ke Bandung.
Di pertengahan jalan, Hernes melihat segerombol orang yang sepertinya sedang berkelahi tapi tidak imbang. Bagaimana tidak, 15 lawan 1, bukankah itu tidak imbang? Tapi sepertinya ia mengenali salah satu pemuda tersebut.
"Lah itu Chaka kan?" Terkejut
Sedangkan diposisi Chaka saat ini, ia sudah sedikit kawalahan menghadapi 15 pemuda dengan salah satunya adalah adiknya. Luka lebam dimana-mana ditambah ternyata gang adiknya membawa balok kayu. Tak ada seorang pun yang melawannya dengan tangan kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Novela JuvenilSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
