Chaka sedang mengobati luka di wajahnya. Sasaran pukulan mamanya tidak hanya di badan saja tetapi, di wajah juga menjadi sasaran. Baru kali ini sang mama memberikan sasaran di wajah.
//flashback on
"Sialan, siapa yang menyuruhmu untuk istirahat."
"Ma-mama," terkejut
Sang mama mengambil kasar lembaran yang ada di meja belajar Chaka.
"Apa ini Chaka!" Melempar kertas tersebut tepat di wajah Chaka
"Apa yang mama katakan tadi? Tapi lihat, bahkan selembar pun tak tersentuh."
"Maaf, Chaka salah," menunduk
"Maafmu nggak guna sialan."
Plak.....
"Susah banget jadi anak penurut."
Sang mama kembali memukul secara brutal. Bahkan sebuah bola basket yang memang ada di sana juga menghantam wajah Chaka. Tak hanya itu saja, sang mama yang memang mantan atlet taekwondo juga memberikan pukulan tak main-main pada wajahnya.
//flashback off
"Ngenes banget ya gua, besok sekolah," gerutunya
Kata-kata itu keluar dari bilah bibir Chaka bukan berarti dia tak takut. Ia hanya menghibur dirinya sendiri agar terus terbiasa dengan sikap yang diberikan oleh sang mama. Ya, dia tidak diizinkan untuk makan malam kali ini. Sebenarnya bukan kali ini saja, tapi sudah sering.
.
.
.
.
Tak banyak yang tau tentang Chaka. Seperti saat ini setelah bel pulang sekolah tadi, ia melesat membawa motornya menuju restoran yang letaknya jauh dari rumah maupun sekolahnya. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal ini, ia hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Chaka bersyukur karena sang mama masih mau membiayai sekolahnya, meskipun ya seperti itu. Tapi, tak pernah ada yang tahu kalau Chaka anak mamanya.
"Loh Chak? Seminggu ini kemana aja?" Tanya salah satu rekan kerjanya
"Hehe biasa kak, banyak kegiatan sekolah," ucapnya dengan cengiran khasnya
"Hihhh bayi ngapain ikut kegiatan sekolah sih," gemasnya seraya mengusak rambut Chaka hingga berantakan
"Jangan diberantakin dong kak," gerutunya
Safina Ghea Ayuningtias, rekan kerja Chaka yang sudah ia anggap seperti kakaknya karena wanita yang ia panggil Fina ini telah membantunya mendapatkan pekerjaan. Lebih tepatnya restoran ini milik sepupu Fina, tapi sssttt jangan beritahu Chaka ya.
"Haha iya deh, mau kerja sekarang? Shift kamu mau setengah jam lagi."
"Iya kak, gabut banget nih."
"Yaudah sana ganti baju dulu," perintahnya seraya mendorong bahu Chaka
"Iya," pergi
Beruntunglah Chaka karena seragam kerjanya berlengan panjang dan berwarna hitam. Shift Chaka dimulai dari jam 5 sampai jam 9 malam, tapi karena disekolahnya pulang cepat jadi jam setengah 5 ia sudah ada di sana.
"Chak itu ada pelanggan," ucap Fina yang menghampiri Chaka seraya membawa piring kotor
Chaka mulai menghampiri pelanggan.
"Permisi, mau pesan apa?" Memberikan menu dan membuka note pesanan
"Ice vanilla latte satu sama kentang goreng satu, lo mau apa Riz?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Chaka, Congrats!! || END
Fiksi RemajaSequel of 'Cerita Kos-an' Hay... ini kisah Chakarana Efendi sebelum Chaka dan mereka menjadi kita. -------- Kehidupan seorang Chakarana Efendi tak seindah yang terlihat. Terlalu banyak tebing yang landai dan curam disaat yang bersamaan. --------
