My Angel
Baru lepas baju bang
Mata Angga sontak melebar, antara kaget tapi juga senang. Sejak ancamannya tempo hari, Angel tidak lagi canggung padanya. Ia bahkan selalu jujur—ketika sedang ada dimana, lagi apa, bersama siapa, tapi yang paling Angga suka ketika adik angkatnya itu mengirim pesan gambar sebagai laporan, seperti gambar tempat yang sedang gadis itu kunjungi, atau orang yang saat ini bersamanya, dan ... kemolekan tubuh Angela Wang yang barusan gadis 22 tahun itu kirim.
Fantasi Angga mulai bermain liar saat memandangi foto payudara Angel yang besar, bulat, dan berisi. Ditambah bagian putingnya yang cokelat dan tebal. Shit! Seharusnya Angga tidak perlu terbang ke Amerika untuk merintis usaha disana. Toh, disini dia bisa berjuang sambil sedikit bermain-main dengan adik angkatnya kala penat menyapa.
Angga membalasnya.
Gue ke kamar lo skrg.
My Angel
Oke, ngga dikunci
Dengan senyum lebar dan mata berbinar, Angga menghampiri Angel ke kamar. Hmm, kebetulan orangtuanya sedang tidak ada di rumah. Mami lagi arisan bareng teman-teman sosialitanya dan Daddy lagi di luar negeri untuk mengurus proyek besarnya. Tersisa Angga dan Angel di rumah ini. Oh, ada satu ART. Tapi Angga tidak peduli. Ia butuh Angel sekarang. Butuh tubuh adik angkatnya lebih tepatnya.
Angga mendorong pintu kamar Angel dan menemukan adiknya duduk di tepi ranjang tanpa mengenakan atasan. Posisi Angel membelakanginya. Bergegas Angga dekati Angel lalu ia sentuh bagian dada gadis itu tanpa repot-repot meminta izin. Angel tersentak, kepalanya mendongak. "Seperti biasa," kata Angga.
Angel langsung paham. Gadis itu mempersilahkan Angga berbaring diatas ranjang berukuran king size yang tempo hari menjadi saksi hubungan intim mereka, kemudian ia naik ke atas tubuh Angga, ia sodorkan pentil susunya yang cokelat dan tebal ke mulut kakak angkatnya. Angga segera melahap pentil tersebut untuk dihisap layaknya bayi tengah menyusu.
Tangan Angel mengusap lembut puncak kepala Angga.
Sambil menyusu, Angga meremas dan memainkan pentil susu yang nganggur. Angga bukan cowok kalem yang gak tergiyur dengan kenikmatan duniawi. Di luar sana, ia sering keluar malam, lalu membayar para perempuan untuk memuaskannya, tetapi beda cerita dengan Angel. Awalnya Angga hanya memergoki adik angkatnya yang ternyata mengoleksi novel dewasa, dan Angga sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu, dia cuma iseng bilang akan melaporkannya ke Mami dan Daddy, tetapi Angel yang terlanjur panik malah menawarkan diri.
"Lo gak nyesel kan ngelakuin ini?" Angga menatap Angel yang berada diatasnya.
Angel menggeleng. "Gak. Tapi jujur, aku malu."
"Karena?"
"Karena ..." Angel menggigit bibir ragu.
"Ngomong aja," ujar Angga, terus menyedot pentil susu Angel, meski tak mengeluarkan ASI.
"Aku gak pernah kasih liat tubuh aku ke siapapun. Dan Abang, orang pertama yang liat tetek aku secara langsung," aku Angel. "Bahkan nenen kayak gini."
Angga melepas kuluman puting, menatap Angel dengan serius. "Emang lo mau nyoba adegan yang lain? Jilmek misal."
"Gak," tolak Angel.
"Why?" cecar Angga.
"Aku belom siap," kata Angel.
"Belom?" ulang Angga.
Angel langsung gelagapan. Gadis itu menggeleng cepat. "Maksud aku—"
"Iya, gue gak maksa." Angga mencoba maklum. Pelan-pelan, pikirnya. Kemudian ia minta Angel bangun, ganti posisi menjadi duduk, sementara ia berbaring di pangkuan gadis itu untuk kembali menyusu. Entah kenapa, ia senang sekali menyusu pada adik angkatnya. Selain bentuk payudara Angel yang bulat, besar, dan berisi—ditambah pentil susunya yang cokelat dan tebal, Angga tidak perlu mengeluarkan uang.
Lidah Angga memutari puting susu Angel, lalu ia lahap untuk dihisap, dan ditarik dengan gemas. Angel meringis kecil. Tiga detik setelahnya terdengar ketukan dari luar.
"Non Angel, makan malam sudah siap. Ayo, Bibik temani makan. Sepertinya Abang sudah tidur," kata Bik Minah, ART di rumah ini.
"Abang, udahan ya nenennya? Ada Bibik," bujuk Angel berbisik.
"Gak," tolak Angga. "Gue masih pengen kayak gini."
"Tapi aku harus makan malam dulu, Bang. Lagian ada Bibik di luar. Nanti kalau Bibik tahu gimana?" Angel mengingatkan. "Aku gak mau orang rumah—terutama Mami dan Daddy—salah paham." Kesal, Angga tarik pentil susu yang masih terkulum hingga sang empunya memekik. "Aw, sakit!"
*Non Angel?" panggil Bik Minah khawatir. "Non kenapa?"
"Mmm ... Bibik ya?" balik Angel, pura-pura tidak tahu.
"Iya, Non. Ini Bibik," sahut Bik Minah.
"Oh. Anu, Bik. Ini tadi aku gak sengaja nyenggol pinggiran meja," alasan Angel.
Angga mengerutkan kening menatap Angel, tapi gak lama fokusnya kembali pada pentil susu yang mengacung minta dihisap. Angga tidak melahapnya seperti tadi, laki-laki itu memilih memainkan kedua puting susu Angel dengan jari-jarinya, buat Angel menggelinjang geli.
"Oalah. Keluar, Non. Kalau ada yang luka, biar Bibik obati," pinta Bik Minah.
"Bentar, Bik. Aku mandi dulu," kata Angel.
"Oke. Bibik tunggu di meja makan ya?"
"Siap, Bik."
Suara Bik Minah sudah menghilang setelah bunyi derap langkah yang menjauh. Angel menghela nafas lega. Ditatapnya Angga yang masih sibuk memainkan pentil susunya. "Abang denger kan?"
"Ya udah, lo makan gih. Gue mau mandi dulu." Angga kembali ke kamarnya.
Lanjut gak nih?
KAMU SEDANG MEMBACA
Angela; I'm Yours [21+]
RomanceMenceritakan tentang Angga yang jatuh hati pada adik angkatnya.
![Angela; I'm Yours [21+]](https://img.wattpad.com/cover/367317552-64-k685867.jpg)