2. Pacar

94.9K 414 0
                                        

Setelah membalut tubuh langsingnya dengan celana pendek hitam yang dipadu kaos putih polos, Angel melenggang menuju meja makan. Bik Minah menyambutnya dengan senyum ramah seperti biasa. Angel duduk di samping Bik Minah yang lalu menancapkan fokus ke bagian dadanya. Mata Angel mengikuti arah pandang Bik Minah. Pentil susu yang mengeras dibalik kaos menjeplak sempurna.

"Non," bisik Bik Minah. "Bibik cuma mau ngingetin kalau sekarang udah ada Abang di rumah. Jadi ada baiknya Non pakai baju yang tertutup."

"Gak pa-pa, Bik. Bentar doang kok. Lagian kan Abang gak di sini." Angel tersenyum meyakinkan. Lagi pula kalau Angga tahu juga gak masalah. Malah laki-laki itu bakal kesenengan. Hm, ngomongin soal Angga, sebenarnya Angel sudah lama menaruh hati pada kakak angkatnya itu-lebih tepatnya di umurnya yang ke-17, saat pertama kali ia diangkat anak oleh keluarga Wang, dan sialnya di hari itu Angga harus terbang ke Amerika untuk meneruskan S2-nya sekaligus merintis bisnis disana.

"Ya sudah." Bik Minah keliatan kecewa, terbukti dari perubahan ekspresi wajahnya. Tapi Angel memilih untuk tidak ambil pusing. Gadis itu mulai menikmati makan malamnya dengan khusyuk, sampai nasi dan lauk di piring habis tak bersisa, sejurus dengan kemunculan Angga yang baru saja kelar mandi. Laki-laki itu beranjak duduk di hadapan Angel. Wajahnya terlihat segar dibanding beberapa menit lalu. Dan rambutnya masih basah. Angel terkesima.

Angga mengedipkan sebelah mata, buat Angel salah tingkah. Lalu tatapan laki-laki 29 tahun itu jatuh pada bagian dada Angel. Bisa Angel tebak, pasti kakak angkatnya mulai berpikir yang macam-macam. "Bik," panggil Angga kemudian, menolehkan pandangan pada Bik Minah. "Bibik istirahat aja, udah malem."

"Gak pa-pa, Mas?" tanya Bik Minah, ragu.

"Gak pa-pa, Bik," jawab Angga tegas sambil mengangguk.

"Baik. Kalau begitu saya permisi," pamit Bik Minah.

Dan selepas kepergian Bik Minah, Angga berpindah duduk di samping Angel. Satu tangannya menyentuh pentil susu Angel yang tercetak, lalu ia tarik dengan gemas. Angel memekik kaget. "Abang!" tegurnya.

"Siapa suruh pakai kaos kayak gini, hm?" omel Angga, "Apalagi tanpa bra."

"Aku biasanya gini kok," sanggah Angel.

"Biarpun ada Daddy?" Angga kaget.

"Ya gak," decak Angel. "Kalau pas Daddy gak di rumah aja."

"Ooh, jadi karena gue di rumah, makanya lo santai pakai kaos kayak gini gitu?" tuduh Angga, yang langsung dibantah Angel dengan gelengan kuat.

"Gak!"

"Terus?"

"Kan Abang udah liat, bahkan nyicipin. Jadi ngapain aku sembunyiin?" sewot Angel, mendadak kesal bukan main.

Angga tertawa geli. "Ya tapi pas berduaan aja. Nanti kalau pada curiga gimana? Kartu lo ada di gue lho," ingatkannya yang langsung bikin Angel kalah telak. Sial! Angel mendengus dongkol. "By the way lo udah punya pacar?"

"Udah," aku Angel.

"Hm?" Meski terkejut, Angga tetap menjaga imej coolnya. Sial! Angel makin suka.

"Abang juga udah punya pacar kan?" balik Angel, menyipitkan mata. "Yang kemaren ikut Abang pulang, pacar Abang kan?" lanjutnya mengingat perempuan berwajah bule dengan tinggi sekitar 170cm yang tempo hari menggamit lengan Angga dengan mesra, yang diperkenalkan Angga sebagai pacar laki-laki itu, dan katanya sekarang tinggal di hotel untuk beberapa hari sebelum kembali ke Amerika.

"Hubungan kita sebagai kakak-adik kan?" lempar Angga, mengingatkan fakta bahwa mereka cuma sepasang kakak dan adik angkat. "Jadi gak mungkin kan kita punya hubungan yang serius? Walaupun lo cuma adik angkat gue, tapi nyokap-bokap gue naruh harapan besar di diri lo."

Mami dan Daddy ingin memiliki keturunan lagi-khususnya perempuan-setelah Angga hadir ditengah-tengah mereka. Namun, karena ada masalah di bagian tubuh Mami, jadilah Mami tidak bisa hamil lagi. Angel tidak tahu persisnya bagaimana. Mami cuma bilang kalau beliau tidak bisa hamil lagi.

Angel mengangguk pelan, sakit hati sebetulnya.

"Oh ya ..." Sambil mengalihkan topik pembicaraan, tangan Angga menyibak kaos yang dikenakan Angel hingga payudara kirinya terekspos sempurna. Ia japit pentil susu Angel dengan jari-jari, ia mainkan sesuka hati. Well, dia datang ke meja makan bukan untuk makan, melainkan mengobrol dengan Angel, dan memainkan payudara gadis itu tentunya. "Besok Chloe-pacar gue-mau main kesini, mau kenalan sama keluarga gue. Tapi berhubung besok Mami terbang ke Jerman dan Daddy juga belom balik, jadi gue minta lo untuk temenin dia seharian."

"Aw!" ringis Angel ketika Angga menarik pentil susunya dengan jari-jari.

Angga nyengir tanpa dosa.

"Tapi masalahnya besok aku ada jadwal kuliah, terus pulang kuliah, aku ada urusan lagi," kata Angel, jujur. Ia tidak bohong. "Mungkin Abang bisa kenalin Ce Chloe ke saudara-saudara yang lain dulu."

"Urusan apa? Pacaran?" tuduh Angga.

"Apapun itu, Abang gak berhak ngatur kan?" balas Angel.

"Ya emang!" tandas Angga, "Tapi emang gak bisa ya lo luangin waktu sehariiii aja buat Chloe?" negonya, "Chloe cuma pengen ngobrol doang kok, gak sampe buang-buang energi dengan harus jalan kemana gitu, atau joget-joget TikTok. Gak."

Sejak Angga pergi, Angel berusaha menyugesti diri bahwa ia bukan opsi yang harus Angga pilih. Bahwa apa yang tengah laki-laki itu perjuangkan diluar sana atas rencana hidup Angga. Angel bukan siapa-siapa. Ia diadopsi oleh Rabani Wang karena urusan bisnis yang nantinya akan melibatkan Angel, juga keinginan Rabani Wang dan Celine Tan yang mendambakan anak perempuan. Jadi ketika Angga pulang dengan membawa pilihan hatinya, Angel tidak berhak marah dan cemburu. Toh, dia juga sudah punya Abraham, meski hatinya tidak untuk laki-laki itu. Ia menerima pernyataan cinta Abraham setelah Angga datang membawa Chloe.

"Liat besok deh," pungkas Angel.

Pendek-pendek gak apa-apa ye, sekalian gue lemesin jari yang udah lama gak nulis.

Angela; I'm Yours [21+]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang