Suaminya bilang, dia akan pulang lebih awal. Tapi karena mood Angel sedang tidak baik-baik saja, maka ia putuskan untuk pergi ke apartemen salah seorang temannya. Dan ketika hendak menuju lift lantai dasar, tanpa sengaja ia melihat Daddy dan Gita yang baru keluar dari sana. Angel segera bersembunyi dibalik tembok. Kedua matanya tidak lepas memperhatikan gerak-gerik Daddy dan Gita.
Mereka terlihat seperti sepasang suami istri. Mungkin karena wajah Gita yang agak boros, jadi tampak tidak beda jauh dari umur Daddy. Angel menghela nafas. Niat hati ingin menghindari suaminya, ia justru dipertemukan dengan Gita dan Daddy di tempat ini.
Dan setelah Gita dan Daddy hilang dari pandangan, Angel lalu melangkah menuju lift. Bergerak naik menuju lantai 15—di mana kamar Sisca berada.
Tiba di depan unit apartemen Sisca, Angel menekan belnya hingga kemudian pintu ditarik dari dalam. Tampak Sisca dengan bayi cantik di gendongan temannya itu. Angel tersenyum lebar, menyapa adik kecil di gendongan Sisca. "Hallo, baby girl." Bayi cantik itu ikut tersenyum seolah tahu bahwa Angel menyapanya. "Hai, Sis. Sorry ya gue dateng ke apartemen lo."
"Santai kali. Ayo masuk!" ajak Sisca.
Angel mengikuti Sisca sementara bayi cantik di gendongan Sisca menoleh, menatap wajahnya dan tersenyum lagi. Angel mendadak terpikat dengan bayi cantik bermata biru tersebut, rambutnya tebal dan sedikit bergelombang. Lucu sekali. "Anak lo cantik banget, Sis. Siapa namanya?"
"Hazel," kata Sisca.
"Hai, Hazel. Mau ikut Aunty gak?" Angel mengulurkan kedua tangan.
Tanpa Angel sangka, Hazel langsung menyambutnya.
Angel tersenyum. "Iih, lucunya..."
Hazel nyengir.
"Duduk dulu, Ngel," ujar Sisca.
"Thanks, Sis." Angel menempati sofa ruang tengah dengan Hazel di pangkuan.
"Mau minum apa?" tawar Sisca.
Angel mengalihkan tatapannya sejenak. "Apa aja, Sis."
"Oke, bentar." Sisca melenggang menuju pantry lalu kembali dengan nampan berisi segelas air sirup. Cuaca di luar sedang panas-panasnya. Padahal seharusnya ini sudah memasuki musim penghujan, tapi entah kenapa bumi masih terpaku pada musim panas. "Diminum, Ngel."
"Thanks, Sis."
"Iya." Sisca menyimpan baki tadi di bawah meja. Tatapannya beralih pada si bayi cantik yang kini meloloskan gumaman tak jelas. "Dia tahu mana yang cakep, Ngel, makanya mau digendong elo."
Angel tertawa. "Bisa aja."
"By the way, tumben lo ke sini?" tanya Sisca. "Biasanya kalo gue suruh mampir, pasti bilangnya next time. Jadi maksudnya next time yang lo bilang tuh hari ini?" Angel tertawa lagi. "Bercanda gue, Ngel."
"It's okay." Angel mengangguk mengerti. Tiba-tiba Hazel menggeliat minta gendong Sisca. Sisca segera menangkap tubuh gendut bayi cantik tersebut untuk dipangku. Melihat itu, Angel sedikit kecewa. "Yeahh... baru juga digendong Aunty."
"Bentar. Nyari nenennya," kata Sisca lalu menaikkan bajunya dan salah satu bukit kembarnya menyembul, ia arahkan puting susunya yang agak lentur itu ke mulut si bayi. Hazel dengan sigap melahapnya untuk dihisap. Angel jadi teringat Angga setiap malam. "Ntar kalo lo udah punya baby, pasti kegiatan kayak gini bakal jadi makanan sehari-hari lo."
Angel terkekeh.
"Tapi sebelum ada Hazel, bapaknya juga suka nenen sih. Malah sampai sekarang," lanjut Sisca.
"By the way, suami lo mana?" tanya Angel.
"Kerja lah. Kita mah ketemunya sebulan sekali. Kan dia orang luar, bisnisnya juga ada di luar," jelas Sisca.
Angel manggut-manggut. Ia lupa kalo suami Sisca ini WNA. "Kok lo gak ikut dia aja?"
"Pas awal nikah sih gue sempet tinggal di Eropa, tapi semenjak hamil, gue pulang ke Indo soalnya nyokap gue sakit-sakitan," ungkap Sisca. "Satu-satunya orang yang bisa diandelin ya cuma gue. Kan lo tahu berita tentang bokap gue." Angel mengangguk lalu mengulurkan tangan mengusap lengan Sisca seolah menguatkan. "I'm okay, Ngel. Gue udah berdamai sama kenyataan kok."
"Nanti kalo gue punya baby, anak kita harus temenan gak sih?"
"Harus lah," timpal Sisca dengan senang hati. "Oh iya, Ngel..." Sisca melempar topik. Angel mengernyit menunggu kelanjutan kalimat Sisca. "Lo inget Gita kan? Setahu gue, lo dulu deket deh sama dia." Perasaan Angel mulai tidak enak. "Kemaren gue liat dia di salah satu unit sama laki-laki, tapi umurnya tuh lumayan jauh."
Tidak salah lagi, itu pasti Daddy.
"Kayaknya mereka punya hubungan gelap," sambung Sisca.
"Gue baru tahu malah," balas Angel, bohong.
Sisca berdecak. "Kalo gue sih tahunya udah lumayan lama. Dari kita kuliah. Tapi seinget gue, setiap gue ketemu Gita, pasti lakinya beda mulu."
"Berarti si Gita tinggal di gedung apartemen ini ya?" pancing Angel.
"Setahu gue sih baru-baru ini. Dan kayaknya dibiayai sama sugar daddy-nya deh."
Ingin rasanya Angel tertawa jijik. Sugar daddy? Tapi... tunggu. Berarti waktu Gita meneleponnya melalui panggilan video—yang kemudian memperlihatkan aktivitas panasnya dengan Daddy, itu posisinya ada di gedung ini.
"Gue kira lo masih deket sama Gita," singgung Sisca.
Angel mengibaskan tangan. "Gak."
Pandangan Angel teralih pada Hazel. Daripada memikirkan Gita, Daddy, dan Chloe, lebih baik ia habiskan waktunya dengan mengenal bayi cantik ini. Bayi cantik yang kini melepas kuluman putingnya. "Hazel nenennya udah? Ikut Aunty lagi yuk?" rayu Angel.
"Mau ikut Aunty?" Sisca menyerahkan Hazel pada Angel, tapi belum sempat Angel tangkap, Hazel merengek minta ASI. "Anaknya masih mau nenen, Aunty. Bentar ya."
"Iya deh."
Sisca kembali menyusui Hazel sambil membersihkan tetesan ASI di puting sebelah. Angel memperhatikan aktivitas Sisca sambil membayangkan dirinya satu atau dua tahun ke depan. Menyadari tatapan Angel, Sisca lalu menceletuk, "Kalo lo udah punya baby dan lo gak LDM kayak gue, pasti lo bakal ngerasain ribetnya netekin sambil ngurusin laki lo. Apalagi kalo laki lo tipe suami-suami manja."
"Iya gitu?"
"Iya." Sisca mengangguk. "Laki gue kalo pulang suka gitu. Tapi kalo udah main sama anak, jangankan digubris, dilirik aja gue enggak."
Angel tertawa. "Suami gue udah pengen banget punya anak."
"Nah, coba aja ikut program hamil," saran Sisca.
"Nanti deh gue diskusiin dulu sama suami gue." Lalu Angel kembali bermain dengan Hazel, diiringi obrolan ringan antara ia dan Sisca—membicarakan tentang banyak hal. Dari momen saat mereka SMA dulu, kebiasaan-kebiasaan mereka sewaktu di kelas dulu, kakel yang pernah nembak Angel berkali-kali, dan masih banyak lagi.
Hingga jarum jam menunjukkan pukul empat sore, Angel kemudian pamit.
Sesampainya di rumah. Angel melihat mobil Angga yang terparkir di halaman. Ia segera masuk. Tepat ketika memijaki area ruang tamu, ia menemukan Angga duduk di sofa single dengan mata terarah padanya. "Dari mana?" tanya Angga.
Angel hendak menjawab, namun pusing yang tiba-tiba menderanya membuat ia sontak kehilangan keseimbangan. Beruntung Angga sigap menangkap tubuhnya. Dan di saat ia jatuh ke tangan Angga, pandangannya mendadak blur lalu perlahan gelap. Ia tidak ingat apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angela; I'm Yours [21+]
RomanceMenceritakan tentang Angga yang jatuh hati pada adik angkatnya.
![Angela; I'm Yours [21+]](https://img.wattpad.com/cover/367317552-64-k685867.jpg)